Jumat, 31 Mei 2013

1998

Judul: 1998
Penulis: Ratna Indraswari Ibrahim
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 322
Cetakan: I, September 2012
ISBN: 9789792288520

Putri, putri dari Walikota Malang, memiliki teman-teman dekat di kampusnya yang bergerak sebagai aktivis di akhir masa orde baru. Neno, Marzuki, Heni, Gundul dan lain-lainnya adalah teman-teman yang dekat dengan Putri. Mereka memiliki impian yang sama, berakhirnya era penindasan dan otoriter orde baru. Di tengah gencarnya gerakan demonstrasi mahasiswa untuk menuntut mundur Presiden Soeharto, pikiran Putri berada di persimpangan jalan. Mengingat ayahnya adalah wakil dari parpol yang berkuasa saat itu, juga pemikiran politiknya ayahnya harus sejalan dengan penguasa orde baru saat itu. Di lain pihak, Putri semakin dekat dengan rekan-rekannya tersebut. Juga dia mulai menjalin kasih dengan Neno, mahasiswa aktivis yang tak mengenal rasa takut.

Neno termasuk aktivis yang diincar oleh penguasa untuk dibungkam suaranya. Sampai ketika bergabung dengan aksi sesama mahasiswa di Jakarta, Neno diculik oleh orang tak dikenal. Kehilangan Neno, membuat Putri harus patah arang, meskipun begitu dia bertekad terus untuk melakukan pencarian Neno. Meski keadaan yang tak aman, membuat orang tuanya berpendapat, Putri harus mengungsi ke luar negeri. Dan ketika lulus sarjana, Putri harus terpaksa berpisah dengan orang tuanya, untuk meneruskan studinya di Amerika Serikat, meski dia tak kehilangan harapan untuk menemukan Neno yang belum diketemukan, meski aktivitas pencarian terus dilakukan.

Awalnya saya tertarik untuk bisa membaca buku ini, ketika membaca sinopsisnya di halaman belakang:
Novel 1998 adalah karya terakhir Ratna Indraswari Ibrahim yang berpulang pada 28 Maret 2011. Tragedi orang hilang pada masa 1998 membuat Ratna mendokumentasikannya dalam bentuk novel. Novel ini bisa dikatakan sebuah tribute dari Ratna bagi perjuangan orang-orang yang akan selalu menolak untuk lupa atas tragedi yang disisakan oleh tahun 1998.
Sebagai generasi yang pernah mengalami masa 1998 dna reformasi awal, tentunya saya tertarik mengikuti kisah perjalanan reformasi 1998 tersebut, serta mengetahui sejauhmana kisah historis penculikan aktivis yang sudah menjadi rahasia umum dikisahkan oleh sang penulis. Sayang, begitu saya membalik halaman demi halaman buku ini, saya kecewa terhadap buku ini.

Kekecewaan saya dari buku ini, adalah:
  1. Saya bingung dengan sudut pandang cerita yang tak jelas dan berpindah-pindah begitu saja. Kadang narasi berada pada sisi Putri, tapi begitu saja berpindah pada sudut pandang si pengaran. Juga alur yang kadang masih pindah-pindah tak tentu, meskipun secara umum masih bisa diikuti jalan ceritanya.
  2. Kalimat yang dipakai, masih membuat bingung. Jujur, baru pertama kali saya membaca karya penulis, meski disebut buku ini adalah karya terakhir beliau. Biografi di halaman terakhir menyebutkan penulis adalah salah satu penulis perempuan terbesar di Indonesia. Sangat disayangkan saya seperti merasa penulis kebingungan dengan penggunaan kata-katanya.
  3. Kesalahan fatal adalah terkait dengan urutan sejarah yang diangkat dalam buku. Di buku diceriatakan Soeharto memang menyatakan akan mundur dalam kunjungannya di Cairo, Mesir. Seingat saya, ketika membaca pernyataan beliau tersebut dikemukakan beberapa hari sebelum realisasi mundur beliau pada 21 Mei 1998. Dari situs ini, pernyataan ini terjadi pada tanggal 14 Mei 1998. Namun ceritanya terjadi beberapa bulan sebelum Soeharto mundur. Bagi saya ini sangat mengganggu sekali.
  4. Ketidaksesusaian deskripsi di cover belakang dengan isi. Di deskripsi singkat disebutkan bawa Putri kembali ke Malang dari AS setelah mendengar Soeharto mundur, tapi isi cerita menyebutkan Putri baru pulang setelah selesai pendidikan S2nya. Itu pun pendidikan S2 dia baru dimulai ketika Soeharto lengser keprabon.
  5. Jalan cerita yang mudah tertebak kemana.
Sayang sekali. Ide mengangkat kisah penculikan di sini sangat menarik. Namun eksekusinya yang jelek, menurut saya, emnjadikan nilai buku ini sangat rendah.  Bukan berarti saya bersifat antipati terhadap penulis ataupun ide yang diangkat. Di sini, harapan saya adalah ketika mengenang sebuah luka lama dalam sejarah Indonesia, dalam bentuk buku, bisa dikemas dengan baik dan cantik. Sayang, saya tak mendapatkannya, setidaknya di buku ini.

Mereka Bilang, Saya Monyet!


Judul: Mereka Bilang, Saya Monyet!
Penulis: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 150
Cetakan: VII, Desember 2004
ISBN: 9789796869930

Mereka Bilang, Saya Monyet! adalah kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu pertama yang dibukukan. Beberapa cerpen yang dimuat di buku ini, sebelumnya pernah dimuat di beberapa harian nasional. Dengan berbekal bimbingan cerpenis senior terkenal, semacam Seno Gumira Ajidarma, Sutardji Calzoum Bachri, dan Budi Darma, maka tak pelak, karya Djenar patut mendapat perhatian di kalangan sastra Indonesia.

Sebenarnya, saya bukan penikmat rubrik cerita pendek di harian yang biasnya terbit di edisi minggu. Sebabnya kebanyakan ditulis dalam bahasan yang berat saya pahami. Selain itu kadang saya merasakan cerpen yang dimuat isinya nanggung, dan absurditasnya tinggi sekali. Saya memang bukan termasuk orang yang bisa memahami karya sastra dengan nilai sastra, tetapi saya hanya membaca sesuai dengan kepahaman saya.

Melihat Mereka Bilang, Saya Monyet! saya agak kurang suka dengan covernya. Terlalu minim dan kelam. Dan melongok isi cerita, banyak yang saya keluhkan di atas kerap saya temui dalam membaca cerpen demi cerpen di buku ini.

Yang jelas, membaca buku ini, memang perlu kedewasaan. Djenar Maesa Ayu beberapa kali mengisahkan sifat munafik, yang ditampilkan dengan "membentuk" karakterisasi hewan pada tokoh-tokoh di cerpennya. Beberapa kisah digambarkan dengan isi yang vulgar (tidak merujuk pada kata-kata yang dipakai). 

Ada satu kisah yang sangat unik, SMS. Djenar menulis kisahnya hanya dengan bentuk SMS-SMS yang dikirimkan oleh tokohnya. Karakter dan isinya sangat sederhana, sesederhana dan sesingkat bahasa SMS. Sayangnya dengan merangkaikan urutan bacanya, isi cerita SMS ini dapat dengan mudah ditebak. Namun, bagi saya, SMS adalah kisah yang paling menarik, dilihat dari bentuk dan ceritanya.

Kisah lain, penafsiran saya terhadap cerita-cerita ini, datar-datar saja. Antara menikmati dan tidak. Meski demikian, saya memandang karya ini cukup antusias. Meski kita tak perlu menyukainya. Untuk buku ini, 2 dari 5 bintang dari saya.

Kereta Tidur

Judul: Kereta Tidur
Penulis: Avianti Armand
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 136
Cetakan: I, Juni 2011
ISBN: 9789792270983


Buku ini merupakan karya Avianti Armand yang pertama kali saya baca. Alasan saya memilih buku ini sebagai salah satu bacaan saya adalah beberapa review yang menyatakan buku ini bagus. Ada 10 cerita pendek yang dimuat di buku ini, Perempuan Purnama, Matahari, Dongeng dari Gibraltar, Requiem, Sempurna, Kupu-kupu, Perempuan Tua dalam Kepala, Tentang Tak Ada, Tiket ke Tangier, dan Kereta Tidur. Apakah saya menyukai semua cerita ini?

Perempuan Pertama, sepertinya menceritakan kisah Hawa dalam Perjanjian Lama, dengan interpretasi bebas oleh Avianti. Bagi saya kisah ini cukup dominan dengan absurditas. Tak mudah memahami jalan ceritanya. Matahari, bagi saya terllau absurb, meski disajikan dengan indah, di tiap bagian diawali oleh rintisan puisi. Untung cerpen berikutnya, Dongeng dari Gibraltar, saya suka. Kisah impian memiliki anak dari pasangan Mesaid dan Sania cukup indah dalam kata-katanya.

Requiem, bagi saya mendatangkan kening berkerut berikutnya. Bukannya saya tak suka kisah berabsurb-absurb, tapi saya pikir cerita ini not of my cup of tea. Sempurna menggambarkan kisah cinta yang serasi namun berakhir begitu saja. Kisah ini seolah-olah menari-nari dalam rangkaian kata, dan pantas mendapat apresiasi. Kupu-kupu merupakan kisah intepretasi dongeng gadis berkerudung merah, cukup menarik dan agak bias memang, tapi masih bisa dinikmati. 

Perempuan Tua dalam Kepala, ah, saya merasa penasaran dengan sosok si perempuan tua. Dari keselruhan cerita, kisah ini yang paling saya sukai. Tentang Tak Ada, mengingatkan saya akan lagu Ilir-ilir, sebuah kisah singkat yang cukup pelik untuk diikuti. Tiket ke Tangier lagi-lagi berkisah tentang kisah yang tak kupahami. Dengan digenapi oleh Kereta Tidur, saya berpikir sebagai penutup kisah ini masih lebih baik dari beberapa kisha absurb termuat.

 

Kamis, 30 Mei 2013

Mandolin Kapten Corelli

Judul: Mandolin Kapten Corelli
Judul Asli: Captain Corelli's Mandolin
Penulis: Louis de Bernières
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 506
ISBN: 9796866269
Perang, siapa sih yang menginginkannya? Namun manusia selalu memiliki tantangan untuk menguasai milik orang lain, dan perang adalah salah satu jalan untuk mewujudkannya. Dan perang akan selalu menimbulkan korban. Korban jiwa, korban harta, korban dalam cinta...

Cephallonia, semula adalah sebuah pulau yang sangat indah di Yunani. Kontemplasi politik yang tajam di saat pra-perang dunia II menyebabkan pulau itu dikuasai oleh pasukan Italia. Pendudukan pulau itu oleh Italian dilakukan oleh divisi Acqui, dimana pimpinannya adalah Kapten Corelli, yang mahir bermain mandolin. Kapten Corelli menginap di salah satu rumah penduduk, dr Iannis, yang memiliki seorang putri, gadis nan cantik, Pellagia. Berawal dari kebencian Pellagia terhadap katen Corelli, lambat laun perasaan itu berubah menjadi cinta. Cinta yang penuh tantangan, mengingat keadaan di saat itu tak memungkinkan jalannya cinta di antara mereka, di mana Italia sedang menjajah Yunani.
 
Perang yang di suatu saat membuat lawan menjadi kawan, berakibat pada pasukan Italia di Cephallonia. Menyerahnya Italia pada Sekutu mengakibatkan kemarahan Pasukan Jerman. Dan pembantaian besar-besaran dilakukan oleh Jerman terhadap pasukan Italia, termasuk kepada psukan Corelli. Dan di saat itulah cinta Corelli dan Pellagia mulai berkembang. Perang memang selalu akan membawa korban.

Jujur saya hampir terisak membaca buku ini. Ada kisah tragis yang membuat saya hampir menitikkan air mata ketika membaca sebuah halaman di buku ini. Bukan karena romansanya tetapi inilah kekejaman yang timbul akibat perang, sesuatu yang sebagian besar dari kita belum rasakan. Dan tak banyak buku yang bisa membuat saya seperti itu.

Sebagai kisah berlatar sejarah perang dunia II, buku ini awalnya terasa lamban. Apalagi beberapa bab awal, masih berganti-ganti sudut pandang. Tapi semakin ke belakangnya, saya merasakan bacanya semakin mnegalir cepat, dan kisah historisnya menarik untuk dibaca.

Kisah cinta yang dimuat dalam buku ini pun tak lebay, apa adanya. Tak terlalu manis, tak terlalu pahit. Kita mungkin tak akan sering mendapat kata romantis dalam buku ini, tapi sejarah, perang dan dipadukan oleh kisah cinta saya pikir adalah hal yang berat untuk digabungkan dalam sebuah novel, namun buku ini sudah sangat pas dengan komposisi yang ada. Tak heran, sebagai salah satu buku yang kisahnya sudah diangkat ke dunia film, buku ini pun termasuk dalam jajaran 1001 books you must read before you die.

Kelemahan buku ini menurut saya hanya satu. Beberapa kata yang menggunakan istilah dalam bahasa Yunani, Itali, maupu Jerman terlalu banyak. Dan sayangnya, saya harus menerka-nerka maksudnya dalam konteks kalimat yang digunakan. Dan ini yang membuat waktu baca saya semakin panjang karena kadang harus mengulang bacaan dengan kalimat-kalimat tersebut, bukan karena bahasanya yang berat. Tapi begitu kita bisa menangkap maksud dari kata asing tersebut untuk selanjutnya jika menemukan kata tersebut rasanya tak menjadi kesulitan lagi.

Untuk akhir ulasan buku ini, izinkanlah saya mengutip sebuah kalimat dalam buku ini yang menjadi sebuah renungan, tentang makna kemanusiaan dalam sebuah pertempuran, bahwa nilai kemanusiaan akan selalu berarti, dalam kisah yang menggetarkan
Sahabat kami; yang datang sebagai musuh, telah berlalu menyebrangi padang asphodel, Kami mendapati dia ternyata lebih mengerti tentang kebaikan daripada manusia hidup mana pun. Kami ingat bahwa medalinya yang banyak itu diperolehnya karena menyelamatkan nyawa sesama, bukan mengambilnya. [halaman 396-397]

Rabu, 29 Mei 2013

Wishful Wednesday #31

Selamat hari rabu! SEmoga hari-hari kita terjalin indah dengan berkah dari Allah SWT. Hari rabu berarti sudah saatnya update meme Wishful Wednesday. Tak terasa sudah 31 minggu berpartisipasi, sudah beberapa buku impian yang masuk dalam timbunan (kapan dibacanya?)

Minggu ini, saya mau ambil buku ini sebagai WW saya :)


Judul: Domba-Domba Telah Membisu
Judul Asli: The Silence of The Lambs
Penulis: Thomas Harris
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Seorang diri Starling menyusuri koridor remang-remang itu. Ia tidak menoleh ke sel-sel di kedua sisi. Suara langkahnya berkesan keras baginya. Kecuali itu hanya ada suara mendengkur dari satu atau dua sel, serta tawa terkekeh-kekeh dari sel lain...

Dr. Lecter mengenakan seragam putih rumah sakit jiwa di selnya yang berwarna sama. Kecuali rambut, mata, dan mulutnya yang merah, segala sesuatu di sel itu berwarna putih. Wajahnya sudah begitu lama tidak terkena sinar matahari, sehingga seakan-akan menyatu dengan warna putih yang mengelilinginya; sepintas lalu timbul kesan wajahnya melayang di atas kerah bajunya. Lecter duduk di meja di balik jaring nilon yang menghalanginya dari terali. Ia sedang membuat sketsa pada kertas roti dengan memakai tangannya sebagai model. Sementara Starling menonton, Lecter membalikkan tangan dan, sambil meregangkan jari-jemari, menggambar sisi dalam lengannya. Dengan jari kelingking ia menggosok-gosok salah satu garis yang dibuatnya dengan arang.

Starling mendekati terali, dan Lecter menoleh.
“Selamat malam, Dr. Lecter.”
Ujung lidah Lecter yang merah muncul di antara kedua bibir yang tak kalah merahnya. Sejenak lidahnya menyentuh bibir atas, tepat di tengah, lalu menghilang kembali.
“Clarice.”
Starling mendengar suaranya yang parau, dan dalam hati ia bertanya, sudah berapa lama sejak pria itu terakhir angkat bicara. Keheningan seakan berdenyut-denyut.

Kenapa saya memilih buku ini? Berdasarkan review dari kak Mia dan kak Luna buku ini termasuk buku yang "wajib baca" dan kebetulan belum punya, maka saya bermimpi, semoga Tuhan memeluk impian saya (Lintang mode:ON)

Ini dia wishlist saya minggu ini, bagaimana denan Anda? Ikutan yuk, dengan cara sbb:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post WW milik kak Astrid). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Selasa, 28 Mei 2013

Tahun 69

Judul: Tahun 69
Penulis: Ryū Murakami
Penerjemah:



ISBN: 9789797990466


Kensuke Yazaki, yang lebih suka disebut Ken, adalah pelajar SMA swasta, SMA Kita di daerah Sasebo, Jepang. Hidupnya semula biasa-biasa saja, mengingat dia hanyalah seorang siswa yang biasa. Namun pada suatu hari, dia melakukan demonstrasi terhadap sekolahnya, dengan cara memasang spanduk, melakukan pencoretan terhadap sekolahnya, bersama temannya, Adama, berkait dengan protes dia terhadap perang Vietnam. 

Selanjutnya bersama Adama, dan Iwase, teman mereka berdua, Ken memiliki impian membuat sebuah festival, dimana akan ditampilkan film indie hasil buatan mereka. Tak dinyana, hukuman dari sekolah akibat sikap demonstrasinya dan pelaksanaan festival tersebut, mendekatkan Ken dengan Katzuko Matsui, salah satu kembang sekolah.

Kisah ini diangkat menggunakan setting tahu 1969, yang dijadikan judul novel ini. Dari buku ini, kita akan mengenal berbagai tokoh seniman dan musikus di tahun tersebut.


Well, saya agak suka dengan kisah Ken. Meski seperti tulisan fiksi Jepang yang saya baca, kisahnya sedikit absurb, tapi beberapa kali saya mengacungkan jempol untuk karya Ryū Murakami. Kisahnya sendiri, saya rasa agak dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tak terlalu banyak detail namun ringan, meski beberapa kali penerjemah menambah catatan kaki, untuk menjelaskan berbagai istilah.

Buku ini saya kira awalnya adalah novel yang berkisah pada pergulatan jiwa sang tokoh, namun yang ada hanyalah bagaimana Murakami membuat kisha Ken mengalir begitu saja. Dan ini cukup menarik, terutama buat saya. Beberapa bagian memang dibuat seperti kocak, dengan dialog ala kadarnya. Tapi kegilaan Ken dan kawan-kawan dalam buku ini terasa segar. Namun dengan mengalirnya cerita begitu saja, saya merasa buku ini seperti 'lepas' begitu saja, tanpa adanya kesan yang mendalam. Walaupun demikian, buku ini cukup menarik.

Rabu, 22 Mei 2013

Wishful Wednesday #30

Udah rabu trenyata, saatnya untuk update blog khusus di hari rabu, dengan meme wishful wednesdaynya :) Meme yang dibuat oleh kak Astrid di blog book to share ini membuat kita memposting buku-buku impian kita, tiap minggunya. Asyik bukan?

Minggu ini, buku yang saya impikan adalah:

Completely revised and updated to include the most up-to-date selections, this is a bold and bright reference book to the novels and the writers that have exited the world's imagination.
This authoritative selection of novels, reviewed by an international team of writers, critics, academics, and journalists, provides a new take on world classics and a reliable guide to what's hot in contemporary fiction.
Featuring more than 700 illustrations and photographs and presenting quotes from individual novels and authors and completely revised for 2012, this is the ideal book for everybody who loves reading.
Iya, 1001 Books You Must Read Before You Die. Buku ini menhimpun 1001 buku yang dianggap oleh Peter Boxall sebagai buku yang harus dibaca sebelum wafat'. Untuk cover yang saya pajang, adalah edisi 2012, sedangkan untuk list buku-buku yang masuk ke dalam daftarnya, bisa dilihat di sini.
Tentu saja, bagi pecinta buku, buku ini layak menjadi acuan berharga, meskipun kita bisa jadi tak setuju dengan isi/pilihan di buku ini.

Nah ini dia buku wishlist saya minggu ini, bagaimana dengan Anda? Ikutan yuk WW dengan cara sebagai berikut:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post WW milik kak Astrid). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)