Tampilkan postingan dengan label Diva Press. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diva Press. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juli 2013

Seishun No Tabi

Judul: Seishun No Tabi
Penulis: Tangguh Alamsyah
Penerbit: Diva Press
Cetakan: I, Juni 2013
Jumlah Halaman: 228
ISBN: 9786022790051

Seishun No Tabi mnegisahkan perburuan harta warisan seorang milyader, Marushita Kenichi. Milyader ini meninggalkan warisan sebesar 800 Miliar Yen. Namun warisan itu tidak dibagikan secara normalnya. Dua belas cucunya, yang sebagian besar adalah cucu dari hubungan haramnya, harus memperebutkan harta tersebut dengan mengkuti sebuah rangkaian perjalanan sambil memecahkan teka-teki petunjuk yang diberikan.

Tokoh sentral dalam kisah ini adalah Harayuki Ashiya, seorang pelajar SMA yang mengikuti klub judo dan Akira, pasangannya dalam perburuab tersebut yang bersifat dingin namun cerdas. Pengejaran dilakukan dengan membentuk pasangan dari sesama cucu Kenichi, dan dengan didanai bekal sedaanya mereka harus menemukan lokasi berantai dengan petunjuk yang ada, mengelilingi Jepang dengan keterbatasan dana yang ada, sampai harus menemukan lokasi terakhir untuk mendapatkan cara mendapatkan harta warisan tersebut.

Dalam perjalanan pencarian harta warisan tersebut tentu saja ada persaingan sesama tim, dan ada pembunuh di antara mereka. Berhasilkan pasangan Harayuki dan Akira mendapatkan harta warisan tersebut?


Meski secara konsep cerita tak terlalu baru, saya angkat jempol untuk kisah yang memenangkan lomba novel Jepang di penerbit Diva ini. Kisah pemburuan harta memang sudah sering diangkat dalam karya fiksi. Petualangan bersama berdua mengelilingi sebuah negara mengingatkan kita pada sebuah acara reality show dari televisi luar negeri. Meski demikian, sang penulis berani mengangkat kisahnya dengan setting tempat yang mungkin bagi pembaca masih jarang diketahui, Jepang. Keberanian ini yang patut diacngi jempol. 

Meski menurut saya, membaca buku ini tak semulus dan semudah yang saya harpkan, membacanya harus tertatih-tatih dengan terlalu banyaknya deskripsi yang diberikan. Juga pemecahan petunjuk, bagi saya kadang terlalu sulit dipahami. Memang petunjuk-petunjuk yang diberikan menghasilkan lokasi yang dituju berikutnya oleh peserta tapi buat pembaca yang tak mengerti sama sekali, akan kesulitan paham. Selain itu, saya agak kesulitan ketika beberapa kali, penulis menuliskan dialog dengan bahasa Jepang, tanpa menjelaskan artinya. Saya harus mereka-reka maksudnya dengan mengikuti kalimat berikutnya dan menghubungkannya. Juga saya tak mengerti dengan desain kaver bukunya. Kalau dibuat lebih jelas, mungkin akan menambah daya tarik buku ini.

Namun, bukan beratti novel ini mengecewakan. Saya masih suka bagaimana twist dia khir cerita, yang mengejutkan. Tak membosankan pula. Namun meski tak terlalu jelek, saya juga tak bisa bilang novel ini tak terlalu istimewa. Salut untuk kesuksesan penulisnya dalam mengapresiasi ketertarikannya tentang Jepang dalam sebuiah karya fiksi ini, namun bukan berarti ke depannya karyanya tak bisa lebih baik lagi.

Senin, 01 Juli 2013

Fleur

Judul: Fleur
Penulis: Fenny Wong
Editor: Misni Parjiati
Penerbit: Diva Press
Jumlah Halaman: 322
Cetakan: II, Agustus 2012
ISBN: 9786021913277

Florence Ackerley, mendapati sebuah buku berisi kisah legenda cinta, antara Belidis, seorang putri bunga dan Fermio, dewa langit. Namun kisah cinta itu ditentang oleh Helras, Dewa Matahari yang juga mengingkan cinta dari sang peri bunga. Kisah kasih antara Belidis dan Fermio, akhirnya terputus, dan kisah tersebut akan merintis pada kehidupan manusia, turun temurun. Dan baru diketahui, ternyata Flo, panggilan dari Florence, bahwa dia adalah titisan Belidis. Sedangkan kakak angkatnya, George Ackerley, adalah titisan dari Fermio. Cinta antara Flo, dan George terhalang oleh Alfred Cromwell, yang berupa titisan dari Helras.

Legenda dalam buku tersebut terulang, dimana Alfred jatuh cinta kepada Flo dan ia mendapatkan Flo akhirnya mau bertunangan dengannya, yang Flo lakukan untuk menghindari kejadian yang Flo takutkan dalam buku tersebut dongeng tersebut, bahwa Fermio mati karena cintanya terhadap Belidis. Dibunuh oleh Helras. Flo tak ingin George dibunuh oleh Alfred.


Dengan menggunakan setting Victorian, saya merasa terbang ke era karya-karya klasik. Meski dengan sedikit sentuhan fantasy, romansa klasiknya benar-benar terasa di buku ini, seperti kisah klasik yang mengangkat setting Victoria. Mengingat romance-nya pun terasa sekali dalam buku ini. Kisah tentang bangsawan, pakaian, dan setting ceritanya.

Sayang, saya merasa flashback yang tak beraturan dalam buku ini, kadang menceritakan setting dimana Flo hidup, kadang berpindah ke masa Belidis hidup, membuat saya sedikit kesulitan mengikuti jalinan kisah dalam buku ini. Namun bukan berarti buku ini buruk. Saya suka dengan bagaimana Fenny mengangkat jalinan kisahnya sampai pada akhir kisah, yang saya sukai.

Meski gregetnya terasa kurang, saya mengangkat topi untuk kemampuan penulis menciptakan jalinan kisah yang sedikit liar dengan perpaduan romansa dan fantasy ini. Sebuah kisah menarik, yang patut menjadi alternatif bacaan.