Tampilkan postingan dengan label Kansha Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kansha Books. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2013

Oda Nobunaga #1

Judul: Oda Nobunaga Vol. 1
Penulis: Sohachi Yamaoka
Penerjemah: Ribeka Ota
Peberbit: Kansha Books
Cetakan: I, Juni 2013
Jumlah Halaman: 465
ISBN: 9786021798115

Kisah Oda Nobunaga, bagi penggemar sejarah bangsa Jepang tentu sudah menjadi cerita yang biasa dibaca dan didengar. Siapa yang tak kenal tokoh yang terkenal akan visinya menyatukan bangsa Jepang ini. Sohachi Yamaoka, dalam buku ini, menggambarkan seluk beluk perjuangan Oda Nobunga, dalam mewujudkan visinya, mencapai Jepang bersatu.

Cerita diawali dengan kehidupan Nobunaga, yang dianggap sebagai manusia bodoh karena tingkahnya yang aneh semenjak lepas dari upacara kedewasaan. Namun siapa snagka, sikapnya yang dianggap bodoh dan aneh itu, berlandaskan sebuah pemikiran ke depan, yang tak bisa diperkirakan oleh orang-orang sekitarnya. Perkawinannya dengan Putri Noh,putri Saito Dosan mengukuhkan sifat visioner Nobunaga. Di balik strategi penguasaan Saito Dosan menikhakan putrinya dengan Nobunaga, putra Nobuhide, penguasa Kastel Nagoya, untuk menguasai Kastel Nagoya, justru menimbulkan ketakjuban dari Saito Dosan, karena kepintaran Nobunaga, bahkan berbalik mendukung Nobunaga.

Meski demikian, tetap saja ada sifat perlawanan terhadap Nobunaga, termasuk dari adiknya Oda Nobuyuki dan orang-orang di sekitarnya. Di tambah perlawanan dari Yoshusatsu terhadap kepemimpinan ayahnya, Saito Dosan semakin keras. Nobunaga dituntut untut berjuang keras, menyatukan kekuasaannnya di balik perpecahan serta berusaha untuk mewujudkan cita-citanya, menyatukan Jepang.


Kisah Oda Nobunaga oleh Sohachi Yamaoka ini bisa dibilang memikat saya untuk membalik lembar demi lembar. Meski sudah pernah sempat membaca beberapa bagian kisah hidup Nobunaga di buku lain, ketertarikan saya tak padam untuk menghabiskan buku ini. Sebuah kisah menarik, yang disajikan dengan kalimat yang enak dibaca -terjemahannya pun sangat bagus, ada sedikit typo. tapi tak mengganggu konsentrasi membaca saya.

Sebagai bahan acuan sejarah seorang tokoh, bisa dirasa buku ini tak membosankan. Bagi yang belum pernah mengetahui latar belakang sejarah Jepang di masa Nobunaga, mungkin akan kesulitan mencerna sistem pemerintahan yang sedikit rumit tapi begitu memahami alur keluarga serta sistem kekuasaan di sana, saya rasa akan lancar ketika membaca buku ini.

Buat pemerhati dan penggemar sejarah dan perpolitikan di Jepang, buku ini tentu snagat menarik. Bahkan buat penggemar kebudayaan Jepang, buku ini juga sangat berharga, untuk dibaca. Dari kisah Nobunaga inilah kita bisa lebih memperkaya ide dan pengetahuan kita tentang Jepang, sebuah negara yang besar, tak besar begitu saja, tapi berkembang dari masa silam, salah satunya dari era Nobunaga ini.

Selasa, 30 Juli 2013

Shin Suikoden #3

Judul: Shin Suikoden Vol 3
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Jonjon Johana
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: I, Mei 2013
Jumlah Halaman: 416
ISBN: 9786021796139


Ryou Zan Paku bergejolak! Pasukan yang ingin merebuh Ji Shen yang tertangkap oleh keluarga Shuku Chou Bu, di bawah pimpinan Sou Kou Mei, mengalami kegagalan demi kegagalan. Justru di bagian ini lah saya benar-benar menyukai kisah tentang Pendekar 108 yang diangkat oleh Eiji Yoshikawa dalam buku Shin Suikoden ini.

Di volume ketiga buku ini, kisah tak hanya sekedar mengenalkan kiprah awal para pendekar ketika bergabung dalam Ryou Zan Paku, sebuah pergerakan menghadapi pemerintahan yang kelam, di mana ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pejabatnya samakin melunjak. Klimaks perlawanan yang dilakukan oleh Ryu Zan Paku pada buku bagian ketiga ini sudah mulai terasa. Dan kisah ini begitu mulus diangkat oleh Yoshikawa dalam kisah yang khas, kalimat sederhana, namun kaya akan goresan kata yang menakjubkan.

Kisah kegagalan-kegagalan Sou Kou Mei juga diramaikan dengan keteledoran Ri Ki, salah satu anggota Ryou Zan Paku. Bagian Ri Ki ini juga membuat kisah semakin menarik dengan semakin tak terduga jalannya cerita. Karena di buku ini semakin terasa bahwa Ryou Zan Paku semakin merasakan halangan-halangan demi tercapainya tujuan mereka.

Eiji Yoshikawa, menurut saya adalah penulis yang handal. Dalam buku ini, dia berhasil merangkai kisah dalam kata-kata yang kuat, sederhana, namun tak kehilangan esensi. Meski hanya dalam bentuk penceritaan ulang, sepanjang buku saya tak merasa bosan olehnya. Apalagi ketika kita memulai dari buku pertama, akan terasa panjangnya kisah, namun Yoshikawa, menurut saya berhasil membuat kisah secara runtun dan tak membonsankan. Padahal dengan banyaknya tokoh yang diceritakan, berpotensi membuat bingung pembacanya. 

Tak pelak, saya menyukai buku ini, dan akan menunggu kelanjutannya. :)

Shin Suikoden #2

Judul: Shin Suikoden Vol 2
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Jonjon Johana
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: I, April 2012
Jumlah Halaman: 468
ISBN: 9786029719642

Buku ini merupakan kelanjutan dari buku Shin Suikoden vol. 1. Masih berkisah tentang petualangan 108 pendekar, Yoshikawa kali ini semakin intens mengenalkan tokoh-tokoh baru dalam buku ini. Ada Sou Kou Mei yang menjabat sebagai sekretaris kabupaten yang memikirka kesejahteraan masyarakatnya. Bu Shou yang dapat mengalahkan harimau yang ditakuti penduduk desa, serta Shin Mei, petugas kemanan yang justru menjadi buronan.

Sebagaimana kisah yang diceritakan di buku pertama, Eiji Yoshikawa berhasil menggunakan kata-kata yang sederhana. Meskipun banyaknya tokoh yang terlibat dalam buku ini, menurut saya menjadi kendala untuk menikmati buku ini, namun kekuatan kesederhanaan kata membuat buku ini terasa nikmat dibaca.

Kita akan membaca bagaima satu demi satu tokoh 108 pendekar mulai bermunculan, berinteraksi satu-satu sampai berkumpul sedikit demi sedikit ke bentang Ryou Zan Paku, tempat persembunyian ke 108 pendekar tersebut bersama tentara dan harta kekayaan. Meski dalam buku ini masih intens terhadap cerita anggota baru, isinya tak lepas dari keseluruhan kisah, petualangan 108 pendekar menghadapi kekuasaan korup pemerintah kerajaan.

Pergerakan Ryou Zon Paku sebagai gerakan antipemerintah cukup membesar, mengingat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pejabat pemerintah semakin besar. Meski bekisar pada pengenalan tokoh-tokohnya, buku ini mulai terlihat fokus ceritanya, dan semakin mendekati klimaks ceritanya.

Selasa, 09 Juli 2013

Shin Suikoden #1

Judul: Shin Suikoden Vol 1
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Jonjon Johana
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: III, Januari 2012
Jumlah Halaman: 486
ISBN: 9786029719611

Shin Suikoden, merupakan kisah adaptasi dari epik negeri China, 108 pendekar. Penulisan ulang dalam bahasa Jepang dilakukan oleh Eiji Yoshikawa. Olesan ulang oleh Yoshikawa dilakukan tanpa merubah kisah aslinya, namun dengan menambahkan gaya khas tulisan Yoshikawa sendiri, dan penggubahan nama dengan aksara Jepang.

Saya sendiri belum pernah membaca Kisah 108 Pendekar dalam versi aslinya. Makanya gambaran awal kisah yang melegenda ini justru saya dapatkan dari tulisan Yoshikawa ini. Sebuah kisah yang menarik untuk dibaca. Dan tulisan Eiji Yoshikawa, seperti biasanya meman menarik untuk diikuti. Kata-kata yang sederhana, namun memikat.

Shin Suikoden diawali dengan kesedihan Jin Sou yang mendengarkan rakyatnya harus menderita akibat penyakit yang menyerang. Kaisar kemudian menerintahkan Jenderal Kou Shin mendatangi kuil Jou Sei di gunung Ryo Ku untuk meminta Pendeta Kyo Sei untuk memanjatkan doa menolak penyakit. Namun selanjutnya Jenderal Kou melakukan tindakan yang dilarang, yaitu membuka sebuah gerbang yang dinamai Gerbang Yang Tak Pernah Dibuka. Dari Gerbang itu 108 bintang iblis yang pernah tertangkap sebelumnya, bisa terbang melarikan diri. 108 bintang tersebutlah yang bereinkarnasi dalam beberapa generasi berikutnya menjadi 108 pendekar.

Di buku pertama ini, munculnya pendekar-pendekar yang termasuk 108 pendekar tersebut muncul ketika kesewang-wenangan dan korupsi pejabat pemerintah yang mengakibatkan dibenci oleh rakyat. Meski demikian tidak semuanya berlatar belakang yang baik. Shi Shin, pemuda dengan rajah sembilan naga, salah satunya, dia melindungi tiga bersaudara perampok, karena kehormatan sajalah yang membuat dia menjaga tiga kawanan perampok tersebut dari penangkapan pemerintah.

Ro Ci Shin, tokoh lainnya, juga sebelumnya adalah polisi militer yang dikejar pemerintah karena dia membunuh orang yang menipu dan menjerat orang tua miskin dan anak gadisnya. Karena rasa keadilanya tersebut, dia dikejar-kejar. Juga ada Pendeta Go yang merampok pengawalan harta dari pejabat yang korup.

Kisah di buku pertama ini sangat menarik bagi saya. Meski agak cepat dan banyak tokoh, penuturan Yoshikawa masih enak diikuti. Sayang banyaknya tokoh yang terlibat, tidak diikuti oleh penjelasan tersendiri yang singkat mengenai tokoh-tokohnya tapi konsep cerita yang menarik, seakan membuat kita selalu terbuai halaman demi halaman.

Kalau ada yang perlu dipertanyakan, adalah nama dari bab-bab yang ada di buku ini. Terasa panjang dan terlalu detail. Mungkin kalau disingkat, akan lebih pas saja. Secara keseluruhan, bukunya mengesankan bagi saya.

Senin, 04 Februari 2013

Naruto Hicho

Judul: Naruto Hicho
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Fatmawati Djafri
Penerbit: Kansha Books
Jumlah Halaman: 385
ISBN: 9786029719697

Kouga Yoami, ketua Klan Kouga yang merupakan anak buah keshogunan Tokugawa, menghilang ketika bertugas menyelidiki daerah Negeri Awa, daerah yang bermusuhan dengan pihak keshogunan. Dengan hilangnya Yoami, keadaan putri Ochie, putri Kouga, terancam dengan akan musnahnya klan Kouga. Guna menyelidiki keberadaan Kouga serta mempertahankan keberadaan klan, Karakusa Ginkoro menyelundup masuk ke Negeri Awa yang tertutup dari orang-orang asing, dibantu oleh Taichi, anak buahnya.

Namun dalam perjalanannya, Ginkoro terus-menerus menghadapi halangan. Perseteruan antara keshogunan Tokugawa dengan damyo Awa, menjadi perintang tercapainya misi tersebut. Misi Ginkoro selalu dihalangi oleh samurai dari negeri Awa. Tak pelak, korban satu demi satu berjatuhan.

Masalah menjadi pelik, ketika misteri dan masalah cinta berkelibatan dalam kisah penyelamatan Klan Kouga. Ada cinta terlarang Norizuku Gennojo, terhadap putri Ochie, namun menggetarkan hati. Juga petualangan seorang polisi desa, Mankichi yang berani berpetualang dari Osaka ke Edo, dan misteri hilangnya Putri Ochie, dirangkai menjadi sebuah kisah yang menarik.

Naruto Hicho (鳴門秘帖) merupakan salah satu buah karya awal dari Eiji Yoshikawa. Meskipun merupakan karya awal, saya menyukai karya ini. Sarat dengan petualangan yang memikat, ditambah misteri yang runtut dari awal sampai akhir sehingga saya tidak menemukan lubang pada alur cerita (plot hole), sampai pada pelajaran kesetiaan terhadap tugas, menjadikan buku ini memikat.

Bicara tentang fiksi Jepang, maka kita tak boleh melupakan nama Eiji Yoshikawa. Dalam setiap karya yang saya baca, selalu ada hal-hal yang mengesankan bagi saya. Begitu pun dengan Naruto Hicho ini. Gaya penulisan yang sederhana, tak membuat jalan cerita menjadi datar tapi rangkaian kata yang dituliskan Yoshikawa bisa membuat saya terasuk dalam sebuah kisah mendebarkan yang terus membuat saya ingin membaca. Yoshikawa memang ahli dalam menulis kisah berlatar sejarah Jepang. Kuatnya tulisan tentang Jepang, menjadikan para pencinta literasi Jepang, harus mengkoleksi dan membaca buku ini. 

Tentang Penulis :
Eiji Yoshikawa bisa dibilang sebagai salah seorang penulis yang memperkenalkan kisah sejarah Jepang ke dunia luar. Dilahirkan dengan nama Hidetsugu Yoshikawa (吉川英次) pada 11 Agustus 1892, di prefektur Kanagawa. Sempat berkarir sebagai wartawan di Maitu Shimbun, karir kepenulisan Yoshikawa segera melejit. Pembaca Indonesia umumnya mengenal Yoshikawa melalui dua mahakaryanya yang terkenal, Musashi dan Taiko, padahal masih banyak karya beliau yang mengangkat kisah sejarah Jepang yang sangat direkomendasikan untuk dibaca. Salah satunya adalah Naruto Hicho ini. Beberapa karyanya diangkat menjadi serial televisi di Jepang.
Yoshikawa meninggal di tahun 1962 akibat komplikasi kanker