Tampilkan postingan dengan label Agatha Christie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agatha Christie. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Mei 2014

Misteri di Styles

Judul: Misteri di Style
Judul Asli: The Mysterious Affair at Styles
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Mareta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 272
Cetakan: 8, November 2013
ISBN: 9789792229097

John Cavendish, semestinya memili warisan Styles Court. Tapi ibu tirinya lah yang mendapatkan rumah dan lahan pertaniannya tersebut, Mrs. Cavendish. Masalah terjadi ketika Mrs. Cavendish menikahi seorang pemburu harta, Mr. Alfred Ingethorp. Dimana ada tuduhan terhadap Alfred bahwa dia ingin merebut warisan dari Mrs. Cavendish.

Petaka timbul ketika Mrs. Cavendish diketemukan tewas. Kolonel Hastings yang menginap di Styles Court, menghubungi rekan lamanya Mr. Hercule Poirot, yang pada saat bersamaan berada di sana, untuk menganalisis misteri pembunuhan Mrs. Cavendish. Kasus menjadi rumit mengingat racun yang menjadi penyebab kematian Mrs. Cavendish mestinya berefek cepat, justru dimana kecurigaan racun diberikan jauh waktu sebelum waktu kejadian kematian.


 "Semua tergantung pada sel-sel kelabu kita" (halaman 203)
Misteri di Styles merupakan karya pertama Agatha Christie yang mengisahkan tentang serial crime yang pada akhirnya mengukuhkan dia menjadi ratu fiksi dunia kejahatan. Poirit menjadi salah satu tokoh penting dari beberapa detektif yang dimunculkan dalam karya-karya Agatha Christie. Dan Hercule Poirot pula yang mempopulerkan istilah sel-sel kelabu untuk mendefiniskan otak yang dipakai untuk menganalisis kasus.

Sebagai kisah awal, saya mendapati tulisan Agatha Christie masih belum seenak dibaca buku-buku beliau yang lebih populer. Beberapa kali saya masih agak kebingungan dengan urutan percakapana dan seting tempat, yang tidak atau jarsng ditemui di karya-karya lainnya.

Tapi jangan remehkan kemampuan menulis genre detetif madam Christie. Kerumitan penyelesaian kasus menurut pembaca seolah-olah berupa permainan yang diberikan oleh Christie untuk pembacanya. Dan lagi-lagi, saya tak dapat menebak dengan tebak, siapa dalang misteri pembunuhan Mrs. Cavendish. Ya, salah satu kelebihan Christie, ditambah kemampuan menjebak pembacanya, bermain dengan logika non sel kelabunya. 

Review disertakan dalam baca bareng grup Goodreads Sel-sel Kelabu dan Lucky No 14 Reading Challenge kategori Once Upon a Time

Sabtu, 16 November 2013

Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa

Judul: Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa
Judul Asli: Hickory Dickory Dock
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Julanda Tantani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: IV, April 2013
Jumlah Halaman: 320
ISBN: 9789792294408

Mrs. Hubbard Lemon, adik dari Mrs. Felicity Lemon, sekretaris Poirot membawa Poirot ke sebuah kasus pencurian kecil-kecilan di sebuah pondokan mahasiswa di Hickory Road. Awalnya sepele, karena yang dicuri adalah benda-benda tak berguna dan murah semacam sepatu pesta, gelang, cicncin berlian yang ditemukan kembali di mangkok sup, dan benda-benda kecil lainnya. Namun misteri berkembang ketika salah satu penghuni asrama terbunuh, dan Poirot harus memutar sel-sel kelabunya untuk memecahkan pembunuhan itu, juga misteri pencurian kecil-kecilan tersebut.

Belum lagi sebuah pembunuhan terpecahkan misterinya, pemilik pondokan kemudian diketemukan tewas. 



Awalnya membaca buku ini saya agak kesulitan dengan banyaknya tokoh yang diangkat Agatha Christie dalam novel ini. Tak hanya jumlahnya, tetapi sifat dan karakter tokoh-tokohnya berbeda. Beruntung konsistensi Agatha dalam menulis buku ini tak membuat saya menjadi lebih pusing lagi, namun sayangnya banyak typo yang saya jumpai dalam buku ini.

Bicara mengenai misteri yang diungkap oleh Poirot, sayangnya menurut saya terlalu datar. Tak ada unsur kejutan yang bisa ditemui, berbeda dengan buku-buku karangan Madam Christie sebelumnya, meski memang saya gagal menebak siapa pelaku pembunuhan tersebut. Namun ciri khas Agatha Christie dalam mereka misteri yang memikat dalam novel ini tak terkurangkan. Apalagi seting cerita yang diangkat termasuk berbeda dengan kisah-kisah sebelumnya, pondokan mahasiswa.

Dan tentu saja bagi penggemar Agatha Christie, novel ini tak boleh dilewatkan.

Kamis, 22 Agustus 2013

Musuh Dalam Selimut

Judul: Musuh Dalam Selimut
Judul Asli: The Secret Adversary
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Mareta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: III, September 2002
Jumlah Halaman: 336
ISBN: 9789796860210

Sebuah kapal penumpang, Lusitania, mengalami kecelakaan setelah ditorpedo. Jane Finn seorang penumpang yang selamat mendadak diberikan seorang penumpang misterius, sebuah dokumen rahasia. Dokumen tersebut, lima tahun kemudian dicari oleh sekelompok orang di bawah pimpinan Mr. Brown, sosok misterius, guna menimbulkan keresahan di kerajaan Inggris.

Thomas "Tommy" Bereford dan Prudence "Tuppence" Cowley, dua sahabat lama yang bertemu, menjadi terlibat dalam aksi pencarian dokumen tersebut, harus berusaha mencari Jane Finn dan dokumen rahasia tersebut, di tengah kejaran kelompok Mr Brown, yang misterius namun serba tahu akan pergerakan Tommy dan Tuppence.


Jujur, ini baru pertama kali saya baca petualangan pasangan Tommy dan Tuppence, meskipun sudah beberapa kali membaca karya Agatha Christie. Meskipun jika dibandingkan, saya lebih suka tokoh Poirot ataupun Miss Marple, kisah Tommy dan Tuppence ini sebenarnya tak kalah mengasyikkan.

Meski, jujur saya dapat menebak di tengah jalan siapa jatidiri Mr. Brown sesungguhnya, petulangan yang menegangkan mengangkat penilaian saya untuk buku ini. Rasanya petualangan yang dikisahkan Queen of the Crime ini lebih memikat dari beberapa kisah tokoh lainnya, meski demikian saya perlu meng-eksplore sejauhmana petualangan-petualangan Tommy-Tuppence lainnya memikat tidaknya, tetapi setidaknya di buku pertama petualangan Tommy Tuppence ini saya cukup suka.

Dan ending yang menarik, di luar siapa tokoh Mr. Brown sesungguhnya, terasa khas Agatha Christie banget. Bagi penyuka karya-karya Agatha Christie tentu saja, buku ini layak menjadi pilihan.

Kamis, 27 Juni 2013

Kereta 4.50 dari Paddington

Judul: Kereta 4.50 dari Paddington
Judul Asli: 4.50 from Paddington
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Lili Wibisono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: VI, Agustus 2007
Jumlah Halaman: 344
ISBN: 9789792231304

Saya selalu tertarik dengan buku bercover kereta api. Dan kebetulan buku ini masuk ke kategori tersebut. Ditambah dengan genre thriller yang merupakan salah satu genre favorit saya, buku ini tentu saja menarik perhatian saya untuk mengkoleksinya. 

Awalnya saya agak kecewa, ketika melihat deskripsi bukunya. Kalau dari deskripsi bukunya tentang kasus yang terjadi, saya memilih Hercule Poirot sebagai lakon utamanya. Sebelumnya saya takjub dengan kemampuan Poirot menyelesaikan kasus Murder on the Orient Express, dimana seperti buku ini, kejadian pembunuhan berlokasi di kereta api, seperti buku ini, namun kali ini saya menemukan bahwa Miss Jane Marple-lah yang menjadi detektif dalam buku ini, dimana beliau lebih sering menyelesaikan kasus dengan pendekatan mengumpulkan fakta dari apa yang dia dengar. Dan memang hal tersebut yang terjadi, di mana ia tak banyak dikisahkan dalam buku ini, namun berhasil mengungkap misteri pembunuhan yang terjadi.

Dikisahkan, Mrs. McGillicuddy, salah satu teman dekat Miss Marple, sehabis berbelanja keperluan natal, pulag ke desanya menggunakan kereta api. Dalam perjalanan pulangnya yang menggunakan kereta 4.50 dari Paddington sebuah kereta lain melintas di sampingnya, dan Mrs. McGillicuddy terkesiap, ketika melihat ke kereta di sampingnya, menyaksikan sebuah usaha pembunuhan. Seorang wanita dicekik oleh seorang pria di kereta sebelah, sampai mati. Ketika dia melaporkan ke kondektur, petugas stasiun, maupun polisi tak ada yang percaya akan terjadinya pembunuhan tersebut. Satu-satunya yang percaya hanyalah Miss Marple. Teman dekat Mrs. McGillicuddy.

Jane Marple, dengan kelemahan fisiknya, terpaksa mendatangkan Lucy Eyelsbarrow, seorang profesional asisten rumah tinggal, guna menyelidiki sebuah kawasan Rutherford Hall, kediaman keluarga Crackenthorpe, tempat dimana dari hasil analisis Miss Marple, adalah tempat kemungkinan disembunyikannya mayat hasil pembunuhan tersebut. Dengan informasi yang didapat dari Lucylah, Miss Marple berusaha menentaskan misteri pembunuhan tersebut. Akankan mayat tersebut diketemukan? Siapakah yang terbunuh dan siapa pembunuhnya?

Seperti yang saya tuliskan di atas, aksi menyelidiki bukan dilakukan oleh Miss Marple, hal tersebut sering dilakukan oleh Lucy, hal yang memang umum dilakukan oleh Marple dalam melaksanakan penyelidikan dan memecahkan kasus, di mana saya lebih menyukai gaya Poirot, detektif yang sama-sama rekaan Agatha Christie, di mana aksinya lebih nyata di dekat TKP. Meski demikian, kasus ini bisa tuntas dengan menakjubkan oleh hasil olah pikir Miss Marple, dan saya tak mampu menebak si pelaku pembunuhan dengan benar. Ini merupakan salah satu nilai lebih, dan tentunya kemahiran Agatha Christie, untuk berhasil membuat pembaca kesulitan menebak siapa pelaku kejahatannya.

Saya sama sekali tak pandai-hanya mungkin, sedikit berpengetahuan tentang sifat manusia-karena saya kan hidup di desa. (Miss Marple, halaman 215)

Agatha Christie memang pintar memainkan ke arah mana pembaca harus berpola pikir, sedangkan ledakan buat pembaca di mana si pembunuh berada di sisi lain yang tak terpikirkan oleh pembaca. Itu kesan yang saya tangkap sejak pertama kali membaca karya Agatha Christie, siapa pun detektifnya, dan dengan berbagai gaya dan cara masing-masing detektif yang berbeda. Itulah, saya selalu takjub akan karya-karya Agatha Christie. 

Jumat, 15 Februari 2013

Kasus-Kasus Terakhir Miss Marple

Judul: Kasus-kasus Terakhir Miss Marple
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Suwani A.S.
Cetakan: III, Januari 2003
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 184
ISBN: 9796058294


Agatha Christie, memang ratu penulis kisah misteri yang jempolan. Beberapa tokoh detektif suah lahir dari tangan dingin beliau. Salah satunya yang terkenal adalah Miss Marple. Miss Marple, seorang detektif wanita yang mengandalkan analisis penyelesaian kasus dari curi dengar. Dan tanpa melalui kegiatan fisik penyelidikan titik perkara.

Dalam buku Miss marple's Final Cases, Agatha Christie menyajikan 6 kasus pendek yang diselesaikan oleh Miss Marple ditambah dua cerita lain. Cerita-cerita tersebut adalah: Sanctuary (Perlindungan), Strange Jest (Lelucon yang Aneh), Tape-Measure Murder (Pembunuhan dengan Pita Pengukur), The Case of the Caretaker (Kasus si Penjaga Rumah), The Case of the Perfect Maid (Kasus Pelayan yang Sempurna), Miss Marple Tells a Story (Miss Marple Bercerita), The Dressmaker's Doll (Boneka sang Penjahit), dan In a Glass Darkly (Teka-teki Pantulan Cermin). Untuk kedua cerita terakhir tidak menampilkan sosok Miss Marple.

Pada kasus Perlindungan, Miss Marple berhasil menyelesaikan pembunuhan seorang lelaki di sebuah gereja di desanya. Peneyelesaian yang sederhana untuk kasus yang rumit, menunjukkan kepiawaian Miss Marple. Pada Kasus Lelucon yang Aneh, Miss Marple dengan kecerdikannya, berhasil menemukan warisan dari seorang paman kepada kemenakannya, di rumah peninggalan almarhum sang paman. Penyelesaian yang menurut saya, tak diduga-duga. Untuk Pembunuhan dengan Pita Pengukur, sayangnya kasusnya terlalu sederhana. Pada Kasus si Penjaga Rumah, Dokter Haydock memberikan teka teki kepada Miss Marple yang berdasar kejadian nyata, untuk memeulihkan kesehatan Miss Marple, yang gemar akan teka-teki. Dan seperti biasa, dengan keanggunan otaknya, kejadian sebenarnya bisa ditebak dengan tepat. Di Kasus Pelayan yang Sempurna, Miss Marple berhasil menuntaskan kasus yang berawal dari dipecatnya sepupu dari Edna, pelayan kecilnya, Gladys oleh Skinner bersaudara. Pada bagian Miss Marple bercerita, diceritakan pengelaman dia menuntaskan pembunuhan Mrs. Rhodes, di mana terdapat prasangka bahwa Mr. Rhodes sendiri yang menjadi tersangka pembunuh.

Sebagai bagian dari karya brilian Agatha Christie, kisah-kisah Miss Marple di sini termasuk cerita yang seru dan asyik untuk diikuti. Keruwetan masalah dalam kasus yang diciptakan, membuat saya terus berpikir namun seringkali gagal menemukan setepat analisis dari Marple. Sayang di Pembunuhan Pita Pengukur, bagi yang sering membaca buku-buku genre detektif, mungkin bisa agak dengan mudah menebak pelaku kejadian. Selain itu, kisah-kisah dalam buku ini akan selalu menarik untuk dibaca.

Rabu, 29 Februari 2012

Tragedi Tiga Babak


Judul: Three Act Tragedy -Tragedi Tiga Babak
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Mareta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 288
ISBN: 9789792229714

Hercule Poirot, banyak orang tahu, adalah sosok detektif yang mengandalkan sel kelabu di otaknya, untuk memecahkan masalah. Berbeda dengan detektif lain, yang mengandalkan keahlian pencarian jejak fisik bekas terjadinya permasalahan, tetapi memilih untuk mengandalkan keahlian berpikirnya. Meskipun demikina, kerapkali penyelesaian kasus oleh dia sangat gemilang.

Kali ini Poirot menghadapi masalah, ketika diundang dalam sebuah pesta oleh Sir Charles Cartwright, seorang pensiunan aktor drama, dimana salah satu tamunya, pendeta Babbington yang dikenal baik dan tidak memiliki masalah, meninggal mendadak. Di tengah kesimpangsiuran penyebab kematian pendeta Babbington, terjadi kematian dari teman Cartwright, Sir Bartholomew Strange, seorang dokter syaraf terkenal, pada pestanya yang tamu-tamunya sendiri adalah tamu yang diundang pada pesta Cartwright. Kali ini, penyebab kematian Strange terang benderang, yaitu teracuni nikotin cair. Gemas dengan kematian sahabatnya, Cartwright bersama Mr. Satterthwaite dan Miss Lytton Gore, yang juga hadir pada kedua pesta yang berakhir mengenaskan tersebut, mengadakan penyelidikan mencari pembunuh dr. Strange dan pendeta Babbington, yang akhirnya diketahui penyebab meninggalnya: sama-sama teracuni nikotin.

Di tengah jalan, Poirot bergabung untuk membantu mereka. Namun di tengah penyelidikan, muncul satu pembunuhan kembali. Dan lengkaplah tiga babak tragedi pembunuhan yang diduga dilakukan oleh orang yang sama. Dan seperti biasa, penyelesaian kasus oleh Poirot sangat unik, tak hanya sering mengecoh pembacanya, tetapi juga mempermainkan perasaan tokoh-tokoh dalam buku. Unik dan tak lekang oleh zaman. Dan ini yang menurut saya, menjadikan Agatha Christie bisa menjadi favorit bertahun-tahun sampai sekarang.

Review ini dilakukan bersama BBI buku karya Agatha Christie, ratu novel misteri pada 29 Februari 2012.