Tampilkan postingan dengan label Pramoedya Ananta Toer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pramoedya Ananta Toer. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

Jejak Langkah

Judul: Jejak Langkah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: 9, Februari 2012
Jumlah Halaman: 724
ISBN: 9789799731258

Minke, akhirnya mendaraskan kakinya di tanah betawi. Untuk menempuh kependidikan sebagai seorang dokter Jawa. Di Betawi inilah, bibit kebangsaan yang ditanamkan oleh Khouw Ah Soe, terus bertunas, ketika dia meneruskan titipan dari rekannya itu teruntuk Ang san Mei.

Jatuh cinta terhadap Ang san Mei, Minke akhirnya menikahinya. Namun semangat Ang san Mei untuk meneruskan cita-cita kebangsaan Tiong Kok tak pernah pudar meskipun sudah bersuamikan Minke. Dan pada akhirnya, meninggalnya Ang san Mei, ditambah kegagalannya untuk meluluskan diri menjadi dokter, menggelorakan semangat kebangsaan Minke, dan diwujudkan dalam bentuk bacaan dan organisasi.

Medan Prijaji menjadi media yang Minke buat. Sedangkan organisasi yang dia rancang adalah Syarikat Dagang Islamiyah.

Seperti dua karya sebelumnya, dalam tetralogi buru, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah menceritakan sebuah episode perjalanan bangsa yang sering dilupakan orang. Menarik sekali ketika Pram menulis, gaya ceritanya sangatlah memiliki daya yang bisa menarik pembacanya untuk bisa tergugah. Memang layak disebut kalau Tetralogi Buru adalah masterpiece sastrawan Indonesia.

Sejarah yang dituliskan Pram adalah sebuah masa yang tak boleh terlupakan oleh bangsa, masa di mana pergerakan kebangsaan mulai tertitiskan dalam langkah-langkah perjuangan bangsa di saat itu.

Selasa, 14 April 2015

Anak Semua Bangsa

Judul: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Editor: Astuti Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan:  13, September 2011
Jumlah Halaman: 540
ISBN: 9789799731241

Sesudah kehilangan Annelies, kehidupan Minke berubah total, menjadi terpuruk. Menulis pun sudah tak mau ia lakukan. Beruntung dorongan kuat dari sang mertua, Nyai Ontosoroh, serta sahabatnya Jean Marais, dia mulai berkeinginan untuk menulis lagi. Persentuhannya dengan tokoh pergerakan dari China, Khouw Ah Soe, membuat dia memiliki kesadaran.

Namun apa yang dia tuliskan, kehidupan petani sawah yang terampas hak kepemilikan sawahnya oleh pabrik gula di Tulangan, Sidoarjo ternyata mengakibatkan pertentangan. Di sinilah Minke mulai tergerak untuk memperjuangkan bangsanya sendiri.
“Dengan rendah hati aku mengakui, aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat”
 

Sebenarnya kisah Minke di seri ke-2 tetralogi Bumi Manusia ini sangat sederhana. Awalnya saya merasa jenuh. Namun kekuatan Pram mengolah kata membuat buku ini akhirnya membius saya ketika membaca di sebagian akhir buku ini. Mengesankan, bahwa awalnya Minke belum menyadari potensi dari pergerakan di tanah Hindia. Namun cerita tentang negara tetangga Filipina, bisa membuat Minke tergerak.

Bagaimana pembentukan Minke menjadi sosok yang tergerak inilah merupakan bagian yang sangat bagus. Mengajak kita untuk berpikir. Apalagi memang sekarang pun Indonesia serasa masih berada di bawah telapak "penjajah". Masihkah kita berharap untuk membawa Indonesia ke jajaran bangsa-bangsa berkelas di dunia?

Sebuah karya berharga, menurut saya. Setelah Bumi Manusia, buku ini kembali membuat saya terpesona akan Pram. Untuk bisa bangkit, tentu saja Indonesia bisa berkaca dari pergulatan Minke, salah satu episode kehidupan bangsa Indonesia.

Kamis, 27 Februari 2014

Bumi Manusia

Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Editor: Astuti Ananata Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: 14, Juni 2011
Jumlah Halaman: 535
ISBN: 9789799731234

Bumi Manusia merupakan buku pertama dari tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Beliau berusaha mengangkat kisah tentang nasionalisasi, ketika kehidupan pribumi Indonesia diinjak-injak oleh orang-orang Belanda dengan beda pada warna kulit dan asal keturunan. Sebuah pergolakan hidup yang satir di masa penjajahan Belanda.

Dikisahkan Minke, yang pelajar HBS, sebuah anugrah, mengingat di zaman itu, orang-orang pribumi sangat langka belajar di HBS mengingat hanyalah anak bupati yang bisa bersekolah di sana, berkenalan dengan Annelies Mellema dan jatuh cinta padanya. Pertemuan dengan ibu Annelies, Nyai Ontosoroh membuat Minke terkagum-kagum, mengigat Nyai Ontosroh sendiri yang hanyalah seorang nyai/gundik (menjadi selir warga Belnada di Hindia Belanda) namun mampu membawa sebuah perusahaan ke kejayaan dan utamanya, mempunya pola pandang ke depan, hal yang tak biasa pada wanita pribumi. 

Semenjak perkenalan pertama, Minke jatuh cinta terhadap Annelies. Meskipun mendapat tentangan dari kakak Annelies, Robert, namun Minke mendapat sokongan dari Nyai Ontosoroh. Dan kedekatan Minke- Annelies mendapat tantangan pro dan kontra, sampai kepada saat mereka menikah, karena diskriminasi.

Membaca Bumi Manusia, bagi saya seperti berkelana ke daerah Surabaya pada masa awal pergerakan nasionalisme di Indonesia. Kita tak hanya mengikuti gerakan nasionalisme dari kalangan pribumi semata namun juga mendapati semangat untuk meningkatkan keberdayaan golongan pribumi dari segelintir warga asli Belanda. Meski tak secara terang-terangan. Beberapa muncul dari guru Minke sendiri Magda Peters, dokter Martinet, dan kakak beradik Croix. Sebuah hubungan humanis dari mereka semua.

Membaca Bumi Manusia bagi saya, membuat paham akan sebuah perjuangan nasionalisme, di tengah diskriminasi penjajah. Sebuah buku yang bermakna, bagi Indonesia.

Kamis, 28 Februari 2013

Cerita Calon Arang

Judul: Cerita Calon Arang
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Jumlah Halaman: 94
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: 5, Februari 2010
ISBN: 9789799731210

Cerita Calon Arang merupakan salah satu kisah dongeng yang berasal dari daerah Bali dan Jawa. Menceritakan Calon Arang, seorang janda yang tinggal di desa Girah di kerajaan Daha. Calon Arang memiliki kemampuan teluh. Kemmapuan teluhnya dipergunakan ketika dia kecewa, putri tunggalnya yang sebenarnya cantik jelita, Ratna Manggali, tak ada satu pun pria yang mau melamar, dikarenakan sifat buruk Calon Arang. Murka dengan kenyataan ini, ia melakukan teluh di wilayah kerajaan Daha sampai korban berjatuhan. Sampai-sampai Raja Daha, Erlangga mengutus pasukan untuk menghentikan kekejaman Calon Arang. Sayang pasukan ini pun gagal menjalankan misinya.

Akhirnya berkat petunjuk Dewa Guru, didapatkan satu nama yang bisa menumpas kejahatan Calon Arang, yaitu Empu Baradah. dengan muslihat, menikahkan muridnya, Empu Bahula dengan Ratna Manggali, Empu Baradha akhirnya mampu mengalahkan kejahatan Calon Arang.

Pramoedya Ananta Toer dalam rangka menulis ulang Cerita Calon Arang, dengan gaya tulisan yang tidak sesederhana dongeng-dongeng untuk anak masa kecil. Perpindahan seting di tiap bab pun agak membingungkan bagi saya. Meski demikian, kisah ini cukup menarik. Saya belum pernah membaca atau mendengarkan dongeng Calon Arang sebelumnya.

Apa yang dituturkan Pramoedya di sini, patut diacungi jempol, mengingat jarang penulis sastra besar mau menceritakan kembali dongeng yang kurang laku dibaca. Khasanah sastra kita, berwujud dongeng atau cerita anak, memang kaya, namun apabila tidak ada yang mau menuliskan ulang, kelak khasanah tersebut akan lenyap.

Rabu, 23 Mei 2012

Gadis Pantai

Judul: Gadis Pantai
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Editor: Joesoef Isak
Penerbit: Hasta Mitra
Jumlah Halaman: 232
ISBN: -

Ini buku Pram kedua yang saya baca setelah Larasati. Buku ini mengkisahkan sosok gadis pantai dari kampung nelayan, yang menikah dijodohkan dengan seorang Bendoro. Gadis pantai yang semula hidup sederhana, membantu menumbuk udang, menjadi Mas Nganten, yang dihormati. Sang gadis pantai akhirnya merasa kehilangan identitas kampungnya. Setelah melahirkan anak dari Bendoro, yang ternyata berjeniskelamin perempuan, sang Gadis Pantai harus merasakan jahatnya si Bendoro, diceraikan dan dilarang membawa anaknya pergi.

Saya tertarik akan kisah ini, membaca review teman-teman yang menyukai buku ini, beberapa bahkan menyebut buku ini lebih baik ketimbang Tetralogi Buru. Secara penulisan, mungkin saya kurang sreg dengan pembuatan alur dari Pramoedya. Kisahnya menarik, memang. Tapi ini bukan buku bagus yang biasanya bis amembuat saya cepat membacanya. Meski demikian, pengangkatan kisah feodalisme di tanah Jawa yang diangkat oleh Pram, bisa memukau saya.

Saya juga agak heran, dengan sosok Bendoro di kisah ini. Tak pernah memberikan kejelasan kepada istrinya, apa yang dia kerjakan. Yang ada hanyalah pergi dan pergi saja, selama beberapa hari. Tindakannya mengusir pembantu tua, juga patut dipertanyakan. Apalagi menceraikan istrinya, hanya karena melahirkan anak perempuan? Seolah-olah tindakan mengusir Gadis Pantai di kala membaca kitab hadits sangat absurb. Islam tidaklah mengajarkan demikian. Seolah-olah ketika Sang Bendoro menanyakan perlunya dibuat sekolah mengaji di kampung halaman sang Gadis Pantai, kesan munafik ditampilkan begitu dia menceraikan sang gadis Pantai. Atau memang hal seperti itu yang benar-benar terjadi di Jawa selama itu? Setidaknya saya tidak pernah mendapat cerita itu dari kakek nenek saya.

3,5 rating saya berikan untuk buku ini. Atas kisah yang luar biasa, namun feel bacaan yang belum saya dapat mengurangi penilaian saya.

Selasa, 15 Mei 2012

Larasati

Judul: Larasati
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Jumlah Halaman: 180
ISBN: 9789799731296
 
Buku ini adalah buku Pramoedya pertama yang saya baca, setelah memenangkan buku ini gratis dari Goodreads Indonesia dalam rangka baca bersama buku fiksi di bulan April 2011. Agak kaget dengan penulisan Pram, yang langsung melaju cepat di bagian awal, dengan stau tokoh sentral, Larasati, dilingkari oleh berbagai tokoh dan karakteristik. 

Larasati, atau Ara, adalah bintang di masa yang tidak tepat. Dia bintang film terkenal, tapi seting roman ini adalah masa-masa pergerakan revolusi. Di mana, apa pun yang dilakukan oleh Ara, benar-benar bermata dua. Karena dia berada di antara dua kutub, orang-orang pro revolusi maupun pro penjajah. Dan Ara sendiri memilih utuk hidup sebagai pro revolusi dan menjadikan Revolusi sebagai impiannya. Dengan impiannya itu, ia memilih untuk hidup di lingkungan rumah ibunya, di Jakarta, yang merupakan daerah kekuasaan penjajah ketimbang hidup lebih nyaman di Yogya, daerah yang dimiliki oleh tentara nasional pada saat itu.

Ara bergerak dalam pusaran waktu, ketika dia mendapat kunjungan seorang tentara muda di penginapan, mendapatkan pengalaman tak enak di stasiun dan penjara, sampai harus dicurigai sebagai antek NICA oleh pasangan kakek nenek tetangga ibunya. Begitu waktu bergulir, Ara mendapatkan rasa takut ketika merasakan sendiri bagaimana rasa mengalami pertempuran. Juga mendapatkan dia dalam saat-saat bersama Jusman, laki-laki arab yang hanya bertindak atas nafsu kepada Ara, yang harus berakhir justru di saat impiannya terwujud, revolusi.

Untuk merasakan bagaimana gambaran hidup di era perjuangan revolusi, Pram menggambarkannya kepada kita dengan baik, dengan alur yang cepat berjalan di awal dan tengah cerita dan tiba-tiba melambat di akhir cerita, cukup menarik.