Tampilkan postingan dengan label Elex Media Komputindo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elex Media Komputindo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2016

Forever and Always


Judul: Forever and Always
Penulis: Jenny Thalia Faurine
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 1, 2016
Jumlah Halaman: 220
ISBN: 9786020279688

Seva Rosella dan Renardi Avasa. Baru pertama kali berkenalana begitu mereka menginjak bangku kelas 3 di SMA. Seva pendiam, sedang Ren begitu populer di kelas. Secara unik, Ren lalu mengajak Seva untuk menjadi sahabat dekat, dengan cara mengajarkan pelajaran eksak yang tak bisa dipahami dengan baik oleh Seva. Apakah Ren jatuh cinta pada Seva? Tidak, ia terobsesi pada Anggi, kembang sekolah mereka.
 
Dan dalam persahabatan itu, Seva menyadari, ia mencintai Ren. Semua sahabat mereka di sekolah menganggap mereka berdua pacaran. Tetapi itu semata Ren memang terlalu baik kepada Seva. Setiap saat Ren mengantarkan Seva pulang, meski tak harus semotor. Mengajak belajar bersama, dan kadang memberikan kejutan-kejutan tak terduga buat Seva. 

Ini buku kedua penulis yang saya baca, setelah Love is the Answer. Kedua-duanya berkesan bagi saya, melebihi ekspektasi saya. Sehabis menghabiskan buku ini, saya sempet protes sih sama penulisnya, mengenai endingnya, hehehe. Tapi buku ini saya baca bisa sambil enjoy kok. Mmhh, meski kurang sreg ama covernya juga. Ada sih sedikit yang ganjel, seperti di halaman 99, ada dituliskan pertandingan MotoGP. Setau saya balapan bukanlah jenis pertandingan, seperti sepakbola yang harus berhadapan satu (tim) lawan satu (tim). Oh ya, konfliknya juga nanggung kalau saya lihat. Agak lebih rame kalau dipertajam sedikit

Memang belum se-wah buku-buku populer tapi mungkin ke depannya, penulis bisa mengembangkan kemampuan menulisnya. Salut buat Jenny, yang masih muda mampu menulis belasan buku.

Sabtu, 16 Agustus 2014

The Doomsday Code

Judul: Time Riders: the Doomsday Code
Penulis: Alex Scarrow
Penerjemah: Desy Natalia
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2014
Jumlah Halaman: 464
ISBN: 9786020236995

Cawan Suci Yesus Kristus diperebutkan. Dan Liam bersama Bob harus ikut dalam konflik memeperbutkan cawan suci tersebut, dengan petunjuk kata pandora yang didapat Maddy pada petualangan sebelumnya. Kali ini, Liam dan Bob harus berjuang menghadapi konflik Eropa Pertengahan setelah masa Perang Salib ke 3.

Sama seperti buku pertama dan buku kedua, buku ketiga ini menyajikan sebuah kisah yang mengasyikkan. Perjalanan waktu memang menjadi salah satu konsep cerita yang menarik bagi saya. Namun tentu saja akan menjadi bacaan yang disuka apabila menyajikan logika yang tak membingungkan.

Dan Alex Scarrow bagi saya sudah menunjukkan kemampuan dalam buku ini. Tak ada keluhan berarti dari saya untuk buku ini. Dengan cerita yang memang terkesan bagus, apalagi pengetahuan sejarah yang didapat, membuat buku ini bagi saya semacam makanan enak yang bisa dinikmati.
 
 

Jumat, 25 Juli 2014

Day of the Predator

Judul: Day of the Predator
Penulis: Alex Scarrow
Penerjemah: Desy Natalia
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2014
Jumlah Halaman: 450
ISBN: 9786020232478

Liam, Maddy, Sam kini berjibaku akan sebuah misi untuk menyelamatkan mesin waktu. Ada usaha untuk membunuh Edward Chan, penemu teori yang memungkinkan terciptanya mesin waktu. Namun ketika Liam, berusaha menuntaskan misi, mencegah pembunuhan Edward, Maddy malah membuka lubang waktu dan membuat Liam terlempar ke jarak waktu puluhan juta tahun yang lalu.

Kesulitan harus ditemui Maddy untuk mengembalikan kembali Liam. Dia harus tahu di mana dan kapan Liam terlempar. Yang bisa dilakukan hanya menunggu bagaimana Liam mampu meninggalkan pesan kepada Maddy dan Sal mengenai tempat dan lokasi, lalu bagaimana caranya dengan ketiadaan sarana?


Lagi-lagi Alex Scarrow membuat kisah yang menegangkan setelah buku pertama serial ini, Time Riders. Saya bisa menangkap ketegangan dan keseruan buku ini. Cerdas sekali Scarrow membuat kerangka cerita. Meski alur logika perjalanan waktunya maish agak membingungkan, karena sejatinya mesin waktu beneran memang tidak ada, tapi kisahnya cukup seru.

Selain itu, keberanian Scarrow menciptakan makhluk baru dalam buku ini, membuat cerita tak kaku, dengan ditambah bumbu perjalanan waktu yang temanya memang sudah saya sukai, menjadikan buku ini menarik bagi saya.

Oh ya, twist terahir sukses membuat saya terpana. Meski membuat pusing tapi jadi penasaran dengan kelanjutan bukunya.

Rabu, 14 Mei 2014

Time Riders

Judul: Time Riders
Penulis: Alex Scarrow
Penerjemah: Desy Natalia
Penebit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2013
Jumlah Halaman: 426
ISBN: 9786020221007

Apa yang akan kamu lakukan kalau memiliki mesin waktu? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab mengubah sisi buruk dalam salah satu waktu yang pernah dia lakukan. Tapi percayalah, jika salah satu bagian waktu di masa lalu berubah maka semua kehidupan yang sekarang akan berubah total. Oleh karen aitu diperlukan adanya polisi waktu, untuk mencegah terjadinya perubahan waktu.
 
Diceritakan di tahun 2030an, mesin waktu akhirnya bisa ditemukan, oleh seorang ahli fisika, Dr. Waldstein. Namun setelah mengalami sendiri perjalanan kembali ke masa lalu, Waldstein memutuskan untuk menghentikan misi menjelajahi mesin waktunya. Namun, mesin waktu sebagai teknologi keburu tercipta, dan beberapa ilmuan, organisasi berlomba-lomba menciptakan mesin waktu.
 
Karena itu, terbentuk sebuah organisasi rahasia guna mencegah terjadinya perubahan sejarah karena penyalahgunaan mesin waktu. Liam O'Connor, Maddy Carter, dan Sal Vikram adalah tim kesekian, direkrut oleh Foster guna menjadi tim pencegah perubahan sejarah. Mereka berasal dari daerah dan waktu yang berbeda. Direkrut ketika seharusnya mereka seharusnya tewas di kehidupan asal mereka.


Kisah perjalanan melintasi waktu memang sudah banyak dikisahkan. Dari film animasi semacam doraemon, film yang melegenda, serial Quantum Leap yang pernah saya sukai, Back to Future, sampai ke novel ini. Semua mengisahkan tentang sebuah perjalanan yang meski terlihat absurb, membuat penasaran. Konsepnya sendiri meski dibilang sama memiliki alur dan logika yang sedikit berbeda, sesuai pandangan sang penulis.

Kisah Time Riders ini saya nilai sangat menarik. Meski logikanya masih terlihat sedikit membingungkan, cerita petulangan yang diberikan dalam buku ini lumayan menjanjikan. Awalnya saya menduga, novel ini sejenis serial Time Trax, di mana diceritakan pengejaran terhadap penjahat yang kabur ke masa silam. Pada novel ini yang ada adalah perbaikan sejarah yang berubah.

Terjemahannya enak dibaca, tidak membuat pusing apalagi ketika kita harus menghadapi logika yang tidak umum, dengan penggunaan konsep mesin waktu. Dan meski pun saya merasa sebagian besar sudah menegangkan tapi endingnya biasa saja, serial ini menjanjikan keseruan buat pembacanya.


Review ini diikutkan dalam Lucky No 14 Reading Challenge kategori First Letter’s Rule, di mana judul buku, huruf pertamanya, T sama dengan aksara pertama nama saya.
 

Senin, 12 Mei 2014

An Artist of The Floating World

Judul: An Artist of the Floating World
Penulis: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Rahma Wulandari
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2013
Jumlah Halaman: 226
ISBN: 9786020204970
 
Bicara tentang sastra galau, mungkin An An Artist of the Floating World ini bisa ikategorikan sebagai salah satunya. Mengisahkan tentang seorang pensiunan pelukis yang punya pengaruh, Masuji Ono, pada zaman setelah perang Dunia II. Kematian Kenji, putranya, kegagalan pertama miai putri keduanya, Noriko, dan kehidupan berkeluarga Setsuko putri pertamanya, membawa kehidupan Ono seperti komidi yang selalu berputar.
 
Tentu saja, perputaram hidup selalu diwarnai kebimbangan-kebimbangan hidup. Kazuo Ishiguro berhail membuat sosok Masuji Ono, menjadi tipikal kehidupan yang galau di masa-masa setelah kekalahan Jepang di Perang Dunia. Dengan sudut pandang Ono, kegalauan ini benar-benar terasa, Jepang yang sedang membangun, percampuran budaya barat yang masuk, serta keinginan kalangan muda untuk mereformasi sistem kuno yang sudah lama bertahan di Jepang.
 
Saya suka dengan cara Ishiguro berkisah, meski membutuhkan kesabaran untuk membaca. Realitasnya begitu kentara, seolah-olah kita menghadapi suasana sebenarnya. Dan memang sekelibat pandangan saya terhadap bangsa Jepang senada dan diperkuat oleh tulisan Ishiguro.
 
Terjemahannya juga sudah bagus, meski sayang kualitas kertasnya agak minimal. Dengan kualitas buku yang masuk sebagai salah buku 1001 books you must read, saya mengharapkan kertasnya bisa lebih menarik lagi. Apalagi covernya cuukup cantik.
 
Review ini diikutkan dalam Reading Challenge, kategori Freebies Time, karena mendapatkan buku cantik ini dari kak Perdani Budiarti pemilik blog Melihat Kembali. Postingan review ini darinya bisa dilihat di laman ini
 

Senin, 30 September 2013

Fahrenheit 451

Judul: Fahrenheit 451
Penulis: Ray Bradbury
Penerjemah: Celcilia Ros
Editor: Alodia Yovita
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2013
Jumlah Halaman: 232
ISBN: 9786020213200

Guy Montag hidup dalam dunia yang membenci buku. Tugasnya sebagai seorang pemadam kebakaran adalah membakar buku-buku dan rumah yang ditempati buku-buku itu, bukannya memadamkan kebakaran. Pertemuan dengan Clarise McClellan, seorang gadis yang justru tetangganya, membuat dia semakin memikirkan tentang kebahagiaan dan arti hidup. Pertemuan dengan Faber, seorang guru besar, membuat Montag menemukan bahwa apa yang telah dia perbuat adalah salah.

Namun istrinya, Mildred, justru menghalangi Montag untuk melepaskan diri dari apa yang selama ini dia lakukan. Dan Guy harus berhadapan dengan Beatty, kaptennya di pemadam kebakaran.



Membaca Fahrenheit 451 bisa dibilang membutuhkan konsentrasi tinggi. Bukan karena terjemahannya jelek tapi kata-katanya tak sesederhana novel biasa. Konsep dystopia yang diberikan meskipun sederhana namun digambarkan oleh Bradbury dengan sangat kompleks. Kita tak bisa membacanya secara cepat tanpa kelewatan makna yang dituliskan oleh Bradbury.

Meski demikian, apa yang dituliskan oleh Bradbury selalu berlaku di setiap waktu. Orang banyak melupakan buku, bahkan melakukan pelarangan untuk jenis-jenis buku dengan sifat tertentu. Dan inilah yang membuat saya memberikan nilai lebih untuk buku ini. Kisah yang dipaparkan seolah dekat dengan kehidupan orang yang menggemari membaca dan buku.

Dengan Fahrenheit 451, kekhawatiran akan semakin menghilangnya buku memang terlalu dilebih-lebihkan. Tetapi ancaman terhadap "dunia buku' sebenarnya tak muncul dari aspek di luar buku, seperti teknologi pengganti, ataupun pelarangan, tetapi tidak dibacanya buku itu sendiri

Selasa, 05 Februari 2013

Miracle Journey: Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru

Judul: Miracle Journey: Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru
Penulis: Yudhi Herwibowo
 Jumlah Halaman: 184
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786020203799

Hidup memang penuh misteri. Dan penuh keajaiban. Kitta Kafandaru memiliki cacat tubuh yang membuat dirinya pada awalnya dihina, memiliki punuk di punggungnya. Tetapi cacat tersebut justru tidak membuat sosok Kitta menjadi tak bernilai di masyarakat Kofa, desa tempat ia tinggal di pelosok Larantuka Nusa Tenggara Timur, tapi berkat keajaiban yang ia miliki, dimana tangannya memiliki daya untuk menyembuhkan. Di balik kelemahan ada kelebihan. Pada suatu saat dia jatuh cinta pada gadis yang disembuhkan, tetapi disayangkan, cintanya di tolak. Kecewa dengan penolakan tersebut, Kitta Kafandaru merasa penolakan tersebut diakibatkan keadaan fisiknya yang buruk. Kecewa karena ditolak, Kitta Kafandaru berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Diakemudian berkelana, melarikan diri dari Kofa.

Dalam perjalanan berkelananya tersebut, dia bertemu dengan seorang ame tua, yang menceriatkan sebuah kisah tentang seorang pria pembawa hujan,. Di mana sang pembawa hujan adalah orang yang memiliki keajaiaban mampu membuat hujan dari pasir yang dibawa di tasnya. Namun sang pembawa hujan, dalam kisah si ame tua, memutuskan untuk hidup sebagai diri sendiri dan hanya mau membuat hujan tiga kali saja. Setelah itu dia memutuskan hanya menjadi manusia biasa saja. Berpikir bahwa dirinya memiliki kemiripan, Kitta Kafandaru berkelana sambil berharap dia hanya memiliki tiga kali kekajaiban saja seperti sosok pria pembawa hujan. Dan dalam perkelanaannya saja, dia menemukan tiga orang yang memang membutuhkan keajaiban tangannya tersebut.

Kisah Kitta Kafandaru bukalan kisah biasa. Saya membaca Miracle Journey, sebagai kisah yang penuh perenungan akan sebagian jiwa kita. Sifat kita. Pembenaran kita. Serta petualangan kita dalam hidup. Meskipun sosok Kitta Kafandaru hanya ada dalam rangkaian kata fiksi yang ditulis mas Yudhi, sosok jiwa ini memang ada dalam setiap tubuh kita. Kita seringkali mendapatkan celaan dari kekurangan yang kita miliki. Kita seringkali kabur dari rumah di kala menghdapi masalah, dan kita kerap menilai seseorang cuma dari apa yang kita rasakan, tanpa melihat secara jujur.
Tak ada masalah yang terlalu berat, atau yang terlalu ringan. Kalau terlalu berat, tentu kita tak akan bisa menghadapinya, dan bila terlalu ringan, kita takut cenderung meremehkannya. [halaman 37].
Meskipun bahasanya agak berat, saya merasa tertarik untuk mengikuti arah perjalanan Kitta Kafandaru. Seringkali cerita yang dituliskan, menggugah isi psikologis saya. Meskipun kadang saya masih terkaget-kaget dengan bentuk keajaiaban yang dimiliki tokoh-tokoh dalam buku ini, saya masih menikmati rangkaian kata dalam buku ini dengan nyamannya. 

Untuk Miracle Journey, saya beri 4 bintang!

Senin, 11 Juni 2012

Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Judul: Dua Tangis dan Ribuan Tawa
Penulis: Dahlan Iskan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Jumlah Halaman: 350
ISBN: 9786020011813

Dua Tangis dan Ribuan Tawa, adalah kumpulan tulisan CEO Noted dari Dahlan Iskan, selama menjabat senbagai direktur utama di salah satu BUMN terbesar di Indonesia, PLN. CEO Noted ini adalah catatan Dahlan selaku pimpinan di PLN yang dimuat di situs PLN, ditujukan kepada karyawan-karyawan PLN namun bisa dibaca oleh masyarakat umum. 

Sesuai tipikal Dahlan yang memiliki basic sebagai wartawan, maka yang kita dapatkan di bacaan ini adalah tulisan ala jurnalisme tentang apa yang dilakukan oleh Dahlan di PLN. Dan apa yang ditulis sesuai dengan sifat Dahlan yang blak-blakan, langsung apa yang dipikirkan dan diarasakan oleh beliau. Sehingga terasa tanpa formalisme yang kental dalam pesan-pesan atasan kepada bawahannya. Namun di sini kelebihan Dahlan. Isi bukunya terasa nyata, seolah-olah kita merasa berada di samping pak Dahlan pada saat kejadian berlangsung.

Ada 32 CEO Noted di buku ini, sebagian besar merupakan kisah perjalanan Dahlan Iskan ketika berkunjung di cabang-cabang PLN di seluruh Indonesia. Di berbagai tempat, bahkan di Jakarta sendiri, beliau menemukan bebrbagai masalah terkait dengan kelistrikan. Kedatangan Dahlan bermaksud untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ditemui, berdasarkan karakteristik masing-masing lokasi yang berbeda, dan biasanya kedatangan beliau adalah menseriusi tantangan untuk mengatasi masalah listrik di tempat tersebut dan biasanya berhasil dengan baik, berkat motivasi Dahlan dan kerja kerasa pegawai PLN.

Dari buku ini, kita bisa mengetahui bahwa masalah yang dihadapi PLN sudah sangat besar. Seringkali kita hanya mnegeluh tatkala terjadi pemadaman listrik. Namun pak Dahlan Iskan tentu saja tak tinggal diam. Keinginannya agar  pelistrikan di Indonesia lebih baik ketimbang negara tetangga, Malaysia, merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh karyawan PLN.  Tentu saja apa yang diimpikan pak Dahlan tak main-main, dengan listrik yang bis amenjangkau seluruh rakyat Indonesia, perekonomian Indonesia akan meningkat drastis. Sebuah impian yang bisa dilakukan dengan slogan Dahlan untuk PLN: kerja, kerja, kerja!
 
Sebelumnya saya sudah pernah membaca karya Dahlan Iskan: Ganti Hati. Saya menyukai karya beliau tersebut. Dan membaca Dua Tangis dan Ribuan Tawa, lagi-lagi saya menikmati karya beliau. Pesan yang beliau nyatakan jelas, namun tetap bis amenyentuh hati. Apa yang beliau rasakan mungkin sama dengan sebagian yang dirasakan oleh rakyat Indonesia. Beliau ingin Indonesia maju, dengan cara memajukan apa yang beliau lakukan saat itu, memimpin PLN. Mayoritas bangsa Indonesia juga, saya yakin, sama. Apa yang ditulis oleh pak Dahlan adalah langkah nyata yang bisa kita tiru, apa pun bidang kerja kita. Dan saya ingin kembali menangis membaca karya pak Dahlan lagi, sebelumnya ketika membaca Ganti Hati, mengingat hambatan apa pun, insya Allah bisa kita atasi demi kemjuan Indonesia. Buku ini sangat-sangat-sangat bagus!