Tampilkan postingan dengan label Orhan Pamuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orhan Pamuk. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2012

Istanbul

Judul Istanbul: Kenangan Sebuah Kota
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Jumlah Halaman: 556
ISBN: 9789791275569
Jadi, perhatikan baik-baik, pembaca yang terhormat. Izinkan saya berterus terang kepada Anda dan sebagai balasannya, izinkan saya memohon simpati Anda. (halaman 10)
Orhan Pamuk, novelis Turki, peraih nobel sastra 2006 kali ini membuat karya tentang Istanbul, kota yang ditinggalinya, beserta memoar hidupnya selama tinggal di Istanbul. Di buku ini, kita akan mendapatkan segala sesuatu pandangan hidup Pamuk, dari keluarganya, masa kecilnya, sampai memutuskan untuk hidup sebagai penulis, kisah keluarganya, kisah cinta awalnya, dan Istanbul.

Istanbul, kota yang selama ini berkesan indah, ternyata menurut Pamuk, merupakan kota yang berkesan murung (huzun). Sejaumana kemurungan yang didapatkan Pamuk di kotanya ini, akan menarik kalau menyimak langsung paparan beliau di buku ini.

Sejauh yang saya tangkap, nuansa muram buku ini memang terasa sekali. Bagaimana penduduk Istanbul hidup dalam fenomena terakhir kekaisaran Usmani, hidup dengan dua peradaban, barat dan timur, serta bagaimana hidup orang kaya-orang kaya baru, hubungan antar anggota keluarga yang kerapkali muncul konflik yang ada dan kita dapatkan, sampai musibah yang kerap terjadi, hanya kesan muram yang didapat. Tapi di sinilah kekuatan Pamuk merangkai kata, kemuaraman digambarkan dengan sangat baik. 
Saya mulai mengerti bahwa tempat yang mereka namai sekolah itu tidak memiliki peran dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan yang paling dalam; sebaliknya, fungsi utama dari sekolah adalah untuk menyiapkan kami menghadapi "kehidupan nyata" dengan segala kebrutalan politisnya. (halaman 187)  
Indahnya Pamuk menulis memori tentang Istanbul ini, disertai berbagai analisis tentang karya penulis terkenal lainnya, terutama yang ssudah menginjakkan kakinya di kota Istanbul. Ditambah serpihan-serpihan renungan sejarah tentang Istanbul, dan foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini (saya menyukai foto-fotonya, eksotik!), buku ini patut diacungi jempol

Kemahiran Pamuk dalam merangkai kata, memang tak perlu diragukan lagi. Meski bahasa yang dipakai termasuk berat, saya memahaminya sebagai eksotika gaya penulisan Pamuk. Tak mudah memang dipahami, tapi bila kita renungi, nilainya termasuk luar biasa.

Selasa, 31 Juli 2012

My Name is Red

Judul: My Name is Red
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Atta Verin
Penerbit: Serambi
Jumlah Halaman: 726
ISBN: 9791112401

My Name is Red, adalah salah satu mahakarya novelis terkenal Turki, Orhan Pamuk, yang juga peraih nobel sastra 2006. Karya ini sempat membuat saya berpikir, apakah sebuah karya pemenang nobel sastra harus sulit dipahami pada awalnya, meskipun mengandung nilai seni dan keindahan yang tinggi? Pertama kali membaca My Name is Red, saya terkaget-kaget dengan model point of view versi Pamuk di novel ini. Tiap bab akan berganti sudut pandang. Meskipun lazim dengan buku-buku sebelumnya, tapi keunikan saya dapati dari My Name is Red. Bahasa yang mendetail, serta isi yang dibahas: tentang seni itu sendiri.

Dikisahkan Sultan Utsmaniyah di abad ke-16, memerintahkan sekumpulan miniaturis dan illustrator untuk membuat sebuah mahakarya yang akan diberikan kepada raja kaum Frank di Eropa. Sebuah karya yang membahayakan, karena berdasar pijakan ulama pada saat itu, karya tersebut akan bertentangan dengan ajaran agama. Jejak penolakan mengakibatkan terbunuhnya dua orang bagian dari pembuat lukisan tersebut, Elok dan Erniste Effendi. Untuk menyelidiki kasus pembunuhan tersebut, Sultan memerintahka Tuan Osman, kepala bengkel seni bersama Hitam, keponakan Erniste, untuk melacak misteri pembunuhan tersebut. Dengan melacak dari berbagai lukisan di ruang penyimpanan harta sang sultan, Tuan Osman bersama Hitam dikejar hari berusaha menemukan siapa pembunuh sesungguhnya, dan didapatkan tiga murid tuan Osman sebagai tersangka: Bangau, Kupu-kupu dan Zaitun.

Pendalaman yang kuat Orhan Pamuk akan seni lukis membawa kita ke dunia ilustrasi yang sangat indah. Turki terkenal sebagai negara yang kaya akan seni lukis dan gambar, beberapa di antaranya bisa dilihat di hasil kerajinan permadani Turki yang sudah terkenal di dunia. Dan Orhan mampu memindahkan keindahan lukisna dalam buku ini ke dalam rangkaian kata yang unik dan deskriptif. Belum lagi ketika ilustrasi yang dituliskan Pamuk, merupakan penggambaran dari berbagai karya sastra terdahulu yang populer, seperti kisah Layla Majnun karya Nizami, dan berbagai peristiwa sejarah sebelumnya. Meskipun kadang saya merasa bosan dengan terlalu banyaknya pengulangan isi dan deskripsi ilustrasi.

Membaca My Name is Red memperkaya khasanah kekayaan batin kita. Buku ini meledakan sanubari kita, tentang perdebatan terkait dengan pelaksanaan ajaran agama, apakah harus dilakukan secara tertulis, ataukah bisa dilakukan dengan sedikit pengaruh dari budaya, misalkan. Tak pelak, saya merasa beruntung membaca buku ini. Sulit untuk dibaca dengan cepat, tapi isinya sangat bernilai.