Tampilkan postingan dengan label Lauren Oliver. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lauren Oliver. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 April 2014

Liesl & Po

Judul: Liesl & Po
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Prisca Primasari
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, April 2013
Jumlah Halaman: 320
ISBN: 9789794337127

Sepeninggal ayah kandungnya yang meninggal karena diracuni oleh ibu tirinya, Liesl dikurung di loteng rumahnya. Namun beberapa hari kemudian, muncul sosok hantu, Po dan Bundle.

Di saat yang bersamaan, Will yang sering melihat sosok Liesl di loteng rumah, melakukan kekeliruan besar. Sihir seorang alkemis, gurunya tertukar tak sengaja dengan abu ayah Liesl. Padahal sihir yang dibawa oleh Will adalah salah satu sihir terkuat, yang bisa mengihidupkan yang mati, yang akan dipersembahkan kepada Ladi Premiere. 

Bersama Liesl, Po dan Bundle, Will akhirnya melarikan diri. Mereka berpetualang dengan misi membawa abu ayah Liesl ke samping makam ibu Liesl, sesuai keinginan ayah Liesl. Di tengah jalan, ada rintangan-rintangan yang harus dihadapi


Saya sempat kurang menyukai Delirium, karya Lauren Oliver yang sangat ngehits. Tapi akhirnya dengan membaca buku ini, saya akhirnya menjadi suka akan karya Lauren Oliver. Ya, karya dia yang satu ini membuat saya mengacungkan jempol untuk buku ini.

Ceritanya bagus terkonsep dan illustrasinya keren. Eksekusi kalimatnya juga enak dibaca meski ini juga terdorong terjemahan yang apik. Kisah Liesl ini sederhana namun bagi saya sangat memikat.

Selasa, 15 Januari 2013

Delirium

Judul: Delirium
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Vici Alfanani Purnomo
Penerbit: Mizan Fantasy
Jumlah Halaman: 518
ISBN: 9789794336465

Cinta bisa membunuhmu,
Karena itu cinta harus dihalangi
Tapi cinta bisa membuatmu bahagia,

Magdalena Haloway, cuma sekedar gadis remaja biasa di Amerika yang saat itu tak biasa. Amerika dimana cinta, atau Amor deliria nervosa, dilarang, dan setiap warga negaranya harus "disembuhkan". Setiap warga negara di usia itu harus mengalami penyembuhan, dimana rasa cinta akan dihilangkan dalam sebuah meja operasi. Siapa pun itu. Karena cinta dilarang, dan jam malam dilakukan. Lena, seperti gadis-gadis lainnya menjelang penyembuhan harus melaksanakan ujian, guna menentukan sejauhmana pemerintah mengetahui kepatuhan warganya, juga untuk menentukan siapa pasangan hidunya kelak. Di sanalah, ia bertemu dengan Alex Sheates untuk pertama kalinya.

Awalnya, Lena hanyalah gadis yang setuju dengan bagaimana konsep pelarangan cinta oleh negara ini. Bertentangan dengan sahabat dekatnya, Hana, yang lebih bersikap menolak, meskipun tak dapat melawan. Diperkenalkan secara tidak langsung oleh Hana dalam sebuah pesta musik yang sebenarnya melanggar aturan, serta pertemuan susulannya dengan Alex, menyebabkan ia menderia penyakit cinta. Dari sinilah sisi pemberontakan Lena dimulai.


Sayang, saya merasakan kisah Delirium kurang begitu kuat, untuk acuan dystopian. Pelarangan cinta, mungkin berlaku juga di kisah-kisah romace, tapi saya tergerak untuk menunggu bagaimana pemberontakan dalam kisah dystopia, yang kemungkinan besar baru bisa saya dinikmati di sekuel Delirium, Pandemonium. Juga berpanjang-panjang isi buku, namun saya merasakannya sebagai cara dari Oliver untuk mendeksripsikan kisah Delirium, sebelum masuk ke masa-masa cerita yang menegangkan, dan itu yang saya belum dapat di buku Delirium ini. Memang ketegangan baru saya dapatkan di bagian akhir Delirium, tapi itu harus membuat saya menunggu ke Pandemonium.

Terlepas dari Delirium yang menurut saya kurang menakjubkan, ada potensi yang bisa selalu ditunggu dari kisah Dystopia, yaitu bagaimana pemberontakan dari orang-orang yang tak setuju mengenai konsep pengekangan yang dilakukan oleh pemerintah, dna juga kisah di sebalik pemberontakan itu. Itu yang saya rasa menjanjikan dari trilogy Delirium.