Tampilkan postingan dengan label Yunisa KD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yunisa KD. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Mei 2014

Sepotong Kata Maaf

Judul: Sepotong Kata Maaf
Penulis: Yunisa KD
Editor: Anin Patrajuangga
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, 2013
Jumlah Halaman: 300
ISBN: 9786022511328

Lisa Hisman, mungkin meenjadi orang yang tak diinginkan hidup bagi pasangan Jeremy Soebroto dan Dewi Saraswati Galuh Oetomo. Keganjenan Lisa pada acara pernikahan Jeremy dan Dewi membuat Dewi berang dan menuntut permohonan maaf dari Lisa. Namun perkataan maaf tak meluncur sekali pun dari mulut Lisa. Hanya ada perkataan maaf dari Armand, pasangan Lisa, namun itu pun ditolak oleh Dewi dan Jeremy, sampai ketika Arman terpaksa menggunakan akun email Lisa untuk mengucapkan maaf, tak ada kata memaafkan dari Dewi.

Puncaknya adalah ketika Lisa dan Arman tewas terbunuh karena bom yang meledak di gereja saat pernikahan mereka, Jeremy dengan mesin waktunya meluncur ke dimensi sebelumnya untuk mencegah tewasnya orang lain yang lebih banyak bukan tewasnya Lisa. Jeremy pergi ke berbagai dimensi, untuk menyaksikan Lisa meninggal dengan cara yang berbeda.


Well, sudah menjadi rahasia umum bagi beberapa pembaca, kalau asal cerita dalam buku ini bersumber dari kehidupan pribadi sang penulis. Patut disayangkan, kebencian yang berlebihan justru saya tangkap dari buku ini. Terlalu kekanak-kanakan. Memang sifat ganjen itu salah tapi sampai 'mematikan' orang karena menolak untuk minta maaf sampai berkali-kali? Mhhh, saya nggak yakin kalau apa yang dilakukan penulis lebih bermartabat.

Ditilik dari isi buku, saya akui, lebih baik ketimbang buku sebelumnya yang pernah saya baca, Memory and Destiny. Tapi saya menangkap, penulis di buku ini tak kurang lebih sering mengungkap rasa narsis yang berlebihan, sampai sosok Jeremi, sang suami pun dibuat "bodoh" sampai dalam hal-hal yang sepele, ketika membandingkan dengan sosok Dewi di buku ini.

Tak ada yang benar-benar menarik dari buku ini. Covernya pun saya rasakan nggak match dengan isi cerita. Juga yang saya bingung adalah ketika Jeremi melakukan perjalanan dengan chip mesin waktu, kemana Jeremi di dimensi yang didatangi Jeremi dari dimensi pertama.

Kamis, 10 Januari 2013

Memory and Destiny

Judul: Memory and Destiny
Penulis: Yunisa KD
Editor: Hetih Rusli
Co Editor: Raya Fitrah
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 264
ISBN: 9789792256581
 
Maroon Winata, di usia kecilnya berjumpa dengan jiwa Donald Basuki, yang hampir meninggal ketika kecelakaan yang menimpanya. Kemunculan Donald, dalam bentuk malaikat(?), selalu membekas dalam diri Maroon, namun beranjak dewasanya, Maroon melupakan sosok Donald. Sementara itu Donald yang kemudian pulih, dari kecelakaan tersebut, langsung menjadi tergila-gila terhadap segala sesuatu yang terkait dengan hal bernama maroon, dari warna sampai ke grup band Maroon 5.

Ketika Maroon menginjak dewasa, perjumpaan dengan Donald mengingatkan pada sekilas bayangannya di masa kecil ketika sering ditemani sosok Donald. Kedekatan pun berjalin antara Maroon dan Donald. Sayangnya kecelakaan yang menimpa Maroon mengakibatkan Maroon menderita amnesia. Berharap akan kesembuhan Maroon, Donald menunggu Maroon untuk menjalin kisah cintanya.
 
Sebenarnya saya tak teratraik untuk membaca buku ini, kalau tidak ada heboh mnegenai buku ini di Goodreads. Entah berapa karakter yang terhabiskan dalam kehebohan terkait review buku ini di Goodreads. Dan kebetulan ketika saya datang ke perpustakaan, ada buku ini yang tersedia dipinjam. Berkaitan dengan target baca yang menumpuk, disertai alasan tipisnya buku ini, serta menuntaskan hasrat ingin tahu saya akan buku ini, saya kemudian meminjamnya.

Kesan saya hampir sama seperti apa yang dikeluhkan teman-teman. Tak ada yang istimewa dalam kisah Maroon dan Donald. Keluhan saya terutama perlu diungkapkan terhadap penggunaan kata, yang maaf, menurut saya terlalu berlebihan. Juga jalan cerita yang sungguh membuat saya kerap berkening kepala. Bagaimana sosok Donald yang mengalami kecelakaan, jiwanya bisa berpetualang sampai bertemu Maroon kecil di Westminster Abbey bahkan sampai ikut menemani di Jakarta dan selama sekolah. Atau ketika Maroon kecil merenungkan sosok tampan Donald, sampai menciptakan rumus (?) Ken/Rhett + Pantom = Ken/Phantom = kakak ini. (halaman 15). Belum lagi keseharian jiwa Donald menemani Maroon. Menemani belajar, menolong ayah Maroon, George ketika sakit jantung mendadak, atau malah bertempur melawan pocong (?) (halaman 35).

Apalagi konflik, yang kerapkali menjadi jalan buat penulis membuat buku menjadi menarik, kesannya di buku ini datar. Saya yang jarang membaca kisah romance, sudah yakin kalau di akhir kisah Maroon akan berpasangan dengan Donald. Meskipun ada tokoh David sebagai sosok ketiga, kesannya kurang kuat. Juga ekspos yang terlalu berlebihan dari penulis untuk hal-hal yang tak penting, seperti anting besar yang disebut sebagai sering dipakai tokoh sinetro di Indonesia, troli di bandara Singapura, dan sebagainya. Juga kesan yang saya herankan, adalah buku ini mirip seperti buku motivasi kalau dilihat dengan kata-kata motivasinya. Maaf buat penulis, saya menganggap buku ini bukan buku bagus. Meski saya bisa menghabiskan buku ini dalam 1 hari, tetapi itu pun demi target membaca buku berikutnya.