Tampilkan postingan dengan label Kim Dong Hwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kim Dong Hwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Maret 2014

Warna Langit

Judul: Warna Langit
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2011
Jumlah Halaman: 328
ISBN: 9789792265255

Ehwa, harus berpisah dengan Duksam. Tapi perpisahan ini ada untuk pertemuan kembali mereka berdua. Kim Dong Hwa melanjutkan kisah trilogi warna dalam buku terakhir, Warna Langit. Sebuah kisah kehidupan perkembangan Ehwa dari anak-anak menjadi seorang dewasa, dengan nilai-nilai filosofis yang dia gambarkan dalam novel grafisnya ini.

Ide buku ini menarik. Sayangnya, saya merasa penulis terjebak pada nuansa yang salam untuk ketiga bukunya. Hanya proses pendewasaan pada sosok Ehwa, tak ada yang lain. Memang buku ini merupakan puncak dari proses kedewasaan Ehwa dengan ending pernikahan Ehwa dan Duksam. Sejatinya saya harapkan ada perkembangan konflik dan cerita. Sayangnya kebosanan yang saya temui di buku keduanya kembali terulang di buku pertama.

Semakin dewasa Ehwa, justru saya merasakan semakin besar kegalauan Ehwa dan sang ibu tercinta, yang saya baca. Dan tiba-tiba kisha berbelok pada pernikahan Ehwa. Terlalu sederhana. 

Artworknya secara rata-rata masih bagus meski tidak berbeda jauh dengan kedua buku sebelumnya. Juga pilihan pewranaan hitam putih pada novel grafis ini cocok dengan jalan cerita. Di luar jalan ceritanya, saya harus berikan jempol untuk Kim Dong Hwa.

Rabu, 19 Maret 2014

Warna Air

Judul: Warna Air
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2010
Jumlah Halaman: 320
ISBN: 9789792259889

Ehwa sudah menginjak usia remaja menuju dewasa. Di sebuah festival pasar, ia mengenal sosok Duksam. Dan ia mulai jatuh cinta pada Duksam. Sayangnya ketika hendak mengunjungi Duksam, Ehwa bertemu dengan majikan Duksam, Tuan Cho yang tua, dan tuan Cho malah mengingkan Ehwa. Berbagai bujuk rayu ia tawarkan kepada ibunda Ehwa untuk dapat memilikinya.

Berbeda dengan Warna Tanah, menurut saya kisah Ehwa di buku Warna Air sudah merujuk pada cerita kehidupan biasa, kehilangan nilai-nilai filosofisnya. Meski tak berbeda jauh isinya, sama-sama menggambarkan perkembangan kedewasaan Ehwa. Meski kisahnya lebih intens dengan memunculkan konflik baru, yaitu munculnya Tuan Cho.

Saya merasakan di buku ini, Kim Dong Hwa lebih banyak menghamburkan cerita dan saya merasa kehilangan dari apa yang sebelumnya saya dapatkan di buku Kim Dong Hwa sebelumnya yang pernah saya baca. Kesederhanaan namun kaya akan makna. Meski artworknya masih sama seperti Warna Tanah, namun saya merasa buku ini lenih kuat bergerak ke sisi romantisme belaka. Dan saya terpaksa mengurangi nilai buku ini daripada Warna Tanah.

Sabtu, 08 Februari 2014

Warna Tanah

Judul: Warna Tanah
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2010
Jumlah Halaman: 320
ISBN: 9789792259278

Saya menyukai karya Kim Dong Hwa, Sepeda Merah dengan tokoh Pak Posnya. Saya suka dengan artwork dan kesederhanaan kisah Sepeda Merah. Karena itu saya tertarik untuk meminjam buku Warna Tanah dari teman GRI Semarang, yang justru kemunculannya lebih dahulu dibandingkan serial Sepeda Merah. 

Warna Tanah mengisahkan kisah hidup Ehwa, seorang gadis cilik, semenjak anak-anak sampai ke masa pubernya. Hidup bersama ibunya, seorang janda pemilik kios minuman, Ehwa hidup dengan kepolosan hidup. Dari ibunyalah ia mendapat berbagai pelajaran serta penjelasan tentang hidup. Kehidupan di sebuah desa di Korea ternyata tak semudah apa yang Ehwa pikirkan. Meski memiliki kecerdasan, berulang kali Ehwa merenungi kejadian di sekitarnya. Kisah inilah yang diangkat oleh Kim Dong Hwa dalam bentul novel grafisnya ini.

Gambarnya sendiri khas manhwa sekali. Kemmapuan Kim Dong Hwa menceritakan dengan gambar dan sedikit kata menurut saya bagus sekali. Meski kadang nilai-nilai yang ditulis tak sesuai dengan kultur Indonesia. Meski demikian, kisah hidup Ehwa memang sarat makna. Kemampuan King Dong Hwa menciptakan karya yang menarik dalam buku ini patut diacungi jempol. 3 bintang dari 5 :)

Sabtu, 13 April 2013

Sepeda Merah: Bunga-bunga Hollyhock #2

Judul: Sepeda Merah #2
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Editor: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 176
Cetakan: I, Oktober 2012
ISBN: 9789792287776

Masih bersama tukang pos iluustrasi Kim Dong Hwa dan masih di Yahwari, kali ini saya membaca lagi lanjutan Sepeda Merah: Yahwari #1, dalam buku Sepeda Merah: Bunga-bunga Hollyhock #2. Masih dengan ilustrasi yang cantik, dan penggunaan kata-kata yang sederhana, buku ini masih memikat.Oh ya, pembagian bagian dalam buku ini menjadi 4 bagian terkait dengan musim, dan 1 bagian tentang kisah para ibu, membuat saya lebih mengetahui tentang seleuk beluk masyarakat Korea di tiap musimnya.

Lagi-lagi, Kim Dong Hwa berhasil memikat saya dengan cerita kehidupan. Di seri ini, tukang pos tidak selalu muncul di tiap kisahnya, tapi perenungan ssejati dalam buku ini selalu menggetarkan hati. Di mana pun kita berada, yang namanya manusia sealu bisa tersentuh oleh hal-hal yang sama.

Interaksi tukang pos pun dengan warga Yahwari semakin menyentuh ketika tukang Pos mau dititipi barang-barang oleh warganya di tengah jalan. Rasanya 'sesuatu banget'.

Tak banyak yang bisa saya tulis di sini, yang jelas saya takjub akan kepiawaian Kim Dong Hwa dalam menyusun kata dan menggambar. Buku ini, layak mendapat acungan jempol dari pembacanya.

Jumat, 12 April 2013

Sepeda Merah: Yahwari #1

Judul: Sepeda Merah #1
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Editor: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 144
Cetakan: I, Oktober 2012
ISBN: 9789792287769
Sudah berapa lama kah Anda terakhir mengirimkan surat? Mungkin ada yang sudah lupa, mengingat sekarang penggunaan email ataupun teknologi gadget mobile begitu pesat, menggantikan sarana surat-menyurat. Tapi tahukah bahwa surat memiliki kelebihan dibandingkan sarana penghubung lainnya? Kedekatan fisik yang lebih besar, juga ada pengorbanan Pak Pos, yang mau bersusah payah mengantar surat ke alamat tertuju.

Sepeda Merah, merupakan novel grafis, karya Kim Dong Hwa, penulis trilogi Tanah, yang mengisahkan tentang Desa Yahwari di Korea, dan juga pengantar surat yang lekat dengan Sepeda Merahnya, sebagai sarana mengantar surat.

Latar belakang desa Yahwari, desa tempat cerita Sepeda Merah, sangat unik. Desa dimana alamat tidak ditunjukkan dengan nomer jalan atau gang, tetapi cukup dengan sebutan rumah tujuan surat, seperti rumah dengan sema-semak warna khaki, rumah bertepi bunga-bunga liar, dan lain sebagainya. Selain itu warga yang dilewati tukang Posnya, kerapkali mengharapkan adanya surat yang ditujukan untuknya, kesederhanaan yang cukup menarik ketika sekarang kita sekarang kerap mengecek apakah ada sms yang masuk begitu bangun tidur, melihat inbox email begitu datang di kantor, dan sedikit-sedikit melihat apakah ada mention yang masuk di akun twitter kita.

Kim Dong Hwa, seolah-olah mengajarkan kita, hal sederhana pun yang kerapkali kita lupakan, sebenarnya merupakan hal yang indah. Seperti dalam bagian ketika Tukang Pos berpapasan dengan kereta api yang sedang lewat, selagi melambai kepada masinis kereta dia berujar,

Ada banyak kesamaan antara tukang pos dan kondektur kereta. Kereta membawa orang-orang sampai tempat tujuan dengan selembar tiket... Surat dikirim ke tempat tujuan dengan selembar prangko. Kereta adalah perjalanan fisik yang kita rasakan. Surat adalah perjalanan mental yang kita renungkan. Kondektur kereta membawa tubuh dan tukan pos membawa hati... Mereka mirip satu sama lain (halaman 107-109)

Meski pun minim kata, selalu ada yang menelisik pikiran kita akan makna hidup. Ya, buku ini simple, tapi sangat menyentuh. Setiap bagiannya, Kim Dong Hwa memaparkan makna hidup buat kita. Ada senyum, ada sedih, dan ada takjub setelah menghabiskan bagian demi bagian dalam buku ini.



Ilustrasinya sendiri menurut saya sangat keren. Kim Dong Hwa berani memperkaya warna-warna di gambarannya yang bagus. Berbeda dengan trilogi warna yang lebih minim warna, dalam karya ini beliau berani membuat gambar yang kaya warna. Sama-sama memikat, namun di karya ini kesederhanaan Yahwari seolah-olah memancarkan kekompleksan hidup yang dijalani. 

Sepeda merah, mengingatkan saya pada sebuah momen hidup, di mana kita dulu senang ketika menerima surat yang diantarkan oleh Pak Pos. Bahwa ada ikatan batin antara pengirim surat dengan penerima surat, dan diantarkan dengan seorang yang pantang lelah dan tak bosan-bosan dengan senyuman khasnya, pak Pos.