Tampilkan postingan dengan label Mahda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahda. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

Saga no Gabai Bachan



Judul: Saga No Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis: Yoshichi Shimada
Penerjemah: Indah S. Pratidina
Penerbit: Mahda
Jumlah Halaman: 264
ISBN: 9786029719628

Seringkali kita heran dengan apa yang berbeda antara bangsa Indonesia dengan Jepang. Indonesia mempunya kekayaan alam, Jepang tidak tetapi bangsa Jepang lebih maju. Dari berbagai artikel yang bisa dibaca, menurut saya kehebatan bangsa Jepang terletak pada kemauan mereka untuk belajar dan kepedulian kepada pesan-pesan hidup sebagai salah satu faktor penyebabnya.

Buku ini menguatkan alasan apa yang saya tulis di atas. Di masa kecilnya, Akihiro Tukonaga, dalam buku ini menggunakan nama pena Yoshichi Shimada, hidup di masa kemiskinan pasca peristiwa bom atom kota Hiroshima di Perang Dunia II. Sang Ibu yang khawatir akan keselamatannya mengungsikan dia ke Saga, sebuah kota kecil untuk hidup bersama neneknya.

Di Saga, justru yang dirasakan Akihiro adalah kemiskinan yang melebihi kehidupan sebelumnya di Hiroshima, disebutkan sebagai dari miskin menjadi lebih miskin. Untuk lauk makan sehari-hari saja, sang nenek mengandalkan "swalayan" yang hanyalah galah yang dipasang sang nenek di sungai yang bisa menjaring berbagai bahan makanan tak terpakai dari pasar yang dibuang di sungai tersebut. Makanan tersebut bukanlah sampah, bagi sang nenek, karena dengan membuang bagian yang cacat atau kotor, bahan makanan tersebut sama saja dengan bahan makanan yang dibeli di pasar. Sebuah ide brilian, untuk mengatasi kemiskinan yang dialami. Selain itu, ketika bekerja, nenek biasanya mengikatkan magnet di belakangnya untuk menarik sampah logam yang bisa terjual.

Nenek di kisah Saga no Gabai Bachan ini juga mengingatkan bahwa miskin yang harus dilewatkan dengan ceria/bahagia, karena menurut beliau ada dua jenis kemiskinan, miskin muram dan miskin ceria, dan jalan terbaik yang ditempuh untuk menikmati hidup mereka adalah dengan melakukan miskin ceria. :) Sebuah jalan hidup yang indah, mensyukuri apa yang dialami. Bukankah semua agama mengajarkan untuk mensyukuri hidup ini? Juga berbagai nasihat hidup yang indah, berkaitan dengan perjalanan hidup Akihiro, banyak kita jumpai di buku yang indah ini. Paling tidak, satu saja, mungkin berguna buta kita sendiri. Buat yang nggak suka kisah motivasi? Bercerminlah pada bangsa Jepang :)

Rabu, 30 Mei 2012

Manxmouse

Judul: Manxmouse
Penulis: Paul Gallico
Penerjemah: Maria Masriani Lubis
Penerbit: Mahda
Jumlah Halaman: 227
 ISBN: 9786029706734

"Kalau begitu, aku harus pergi dan mencari kucing Manx, di manapun dia dan berhadapan langsung dengannya, tak peduli apa pun yang terjadi, dan tidak perlu takut." [Halaman 183]
Membaca Manxmouse, berarti kita harus membuka mata terhadap keanehan-keanehan yang akan kita jumpai dalam kisah ini, barulah kita akan meraskan asyiknya buku ini. Manxmouse sebenarnya adalah tikus dengan warna biru, tanpa ekor, berkaki kangguru, dan berkuping kelinci. Dia tercipta secara tidak sengaja, ketika Tiddly, seorang pengrajin keramik dari desa Buntingdowndale, yang hanya ingin membuat keramik tikus, terinspirasi untuk membuat patung tikus yang paling sempurna dan paling indah, namun yang didapatkanlah hanyalah sosok Manxmouse yang bisa hidup (mirip dengan kisah pinokio, bukan?).

Alhasil, manxmouse yang tercipta, mengelana ke berbagai tempat. Dalam perjalanannya ia bertemu Clutterbumph, sosok pembuat takut, burung pemangsa kapten pilot Hawk, si gajah bintang film Nelly, seorang gadis, Burra Khan, harimau sirkus yang melarikan diri, sampai pemilik toko hewan yang licik, Mr. Smeater. Dari petualangannya tersebut, Manxmouse mendapati bahwa jalan hidupnya telah ditentukan dengan pada hari akhir dia akan menjadi santapan dari Manxcat. 

Animasi Manxmouse oleh Nippon Animation
Cover cetakan pertama Manxmouse
Meskipun agak heran dengan jenis fantasy termaktub di buku ini, lama kelamaan saya bisa asyik mengikuti perjalanan si Manxmouse. Bagaimana dia ditakut-takuti oleh Clutterbumph, menikmati terbang bersama pilot Hawk, sampai menikmati pesta makanan di tempat syuting si Nelly. Ditambah dengan terjemahan dan ilustrasi yang cantik, saya merasakan nilai lebih dari sekedar ceritanya. Tak heran, buku ini menjadi salah satu favorit JK Rowling, penulis mahakarya Harry Potter.

Takdir, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Bagaimana pun takdir hanyalah suatu kepastian, apakah kita mendapatkan hasil yang baik atau buruk. Sepantasnyalah kita menghadapinya dengan usaha terbaik, itu pesan moral yang saya dapat dari buku ini. Akhir kisah yang didapati oleh Manxmouse adalah karena tak kenal menyerah akan takdir buruk.

Sumber gambar:
1. Nippon Animation, http://www.nipponanimation.com/catalogue/027/index.html
2. The Literature of Paul Gallico, http://www.paulgallico.info/manxmouse.html