Tampilkan postingan dengan label Tere Liye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tere Liye. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2015

Bumi

Judul: Bumi
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: III, Februari 2014
Jumlah Halaman: 440
ISBN: 978602031129

Raib, gadis 15 tahun, ternyata memiliki bakat aneh. Dia bisa menghilang begitu saja. Namun suatu insiden tetiba membuat dia tahu, tak hanya dia saja yang memiliki bakat aneh. Teman satu sekolahnya, Seli, bisa mengeluarkan petir dari tangannya. Bersama Ali, tetiba mereka terjun ke dunia lain, yang berbeda dengan bumi tempat mereka tinggal. Itu pun harus dikejar-kejar pasukan yang berasal dari dunia lain tersebut, di bawah pimpinan Tamus. 

Bumi, novel fantasy karya Tere Liye pertama yang saya baca. Sebelumnya yang saya baca bergenre lain dan saya suka bagaimana Tere Liye menyusun sebuah buku dengan kalimat-kalimat yang sederhana tapi "membius". Makanya saya penasaran, bagaimana cara Tere Liye mengeksekusi tulisan dengan genre yang agak sulit dibuat, fantasi. 

Ciri khas tulisan Tere Liye memang terasa sekali di sini. Kata-katanya sederhana namun dari kesederhanaannya itu menjadi sebuha karya yang "tak sederhana". Meski memang saya bilang, rasanya kurang maksimal karena daya fantasinya masih terlalu minim, untuk membandingkannya dengan karya fantasi lainnya. Tapi kedekatannya dengan karya yang lebih realistis memang konsekuensi dari kesederhanaan gaya meneulis Tere Liye.

Meski demikian, saya cukup puas, meski tak sepuas sebelumnya ketika membaca karya Tere Liye lainnya. Tapi memang buku ini baru awal dari sebuah seri yang mungkin panjang. Untuk buku awal ini, cukup menimbulkan penasaran bagaimana kisah selanjutnya.

Rabu, 18 Februari 2015

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Judul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: III, April 2012
Jumlah Halaman: 512
ISBN: 9789792279139

Borno, seorang lulusan SMA di Pontianak, berusaha mencari kerja di berbagai jenis pekerjaan. Namun akhirnya, berlabuh menjadi pengemudi sepit, kapal satu mesin untuk menyebrangkan penumpang di dua tepian sungai Kapuas. Suatu saat, dia jatuh cinta kepada satu penumpang, yang meninggalkan sebuah kotak angpao merah. Kecintaannya itu membuat Borno, selalu menghitung saat-saat di mana Mei, nama penumpang itu, muncul untuk menaiki pit, dan Borno mendapatkan perhitungan khas agar ia bisa menumpangkan sepitnya buat Mei, antrian ke 13.

Namun, di beberapa saat Borno harus tidak berjumpa dengan Mei. Mei kembali ke kota asalnya, Surabaya. Namun bersama pak Tua, seniornya pengemudi sepit, Borno akhirnya bisa berjumpa dengan Mei kembali di Surabaya. namun setelah kembali, ada halangan besar yang harus dihadapi Borno, untuk mencintai Mei, ditambah ada penolakan dari Mei untuk bertemu, bahkan ketika Mei kembali ke Pontianak. Mampukah Borno bisa menjalin cinta dengan Mei? Apalagi ada ssosok baru, drg Sarah yang sepertinya menyukai Borno.


Entah, ini buku keberapa dari karya Tere Liye yang sudah saya baca. Tapi saya selalu suka karya Tere Liye. bagaimana cara dia menulis, sederhana namun mengena. Serta romantismenya yang tak terlalu menye namun mengena dengan kata-kata yang membuat kita bisa merenung. Ah iya, tambah pelajaran hidup yang diajarkan. Dan yang jelas, buku ini menjadi salah stau karya Tere Liye favorit saya.

Membaca buku ini membuat saya kepingin menikmati suasana Pontianak. Meskipun Tere Liye bukan berasal dari kota tersebut namun dia mampu menulis latar Pontianak yang menjadikannya menarik untuk saya kunjungi. Dan juga ada kisah cinta yang membuat hati tersentuh, yang diceritakan oleh pak Tua. Sejatinya hidup yang dihidupkan dengan cinta, sesulitnya hidup tersebut.

Kalau memang boleh memberikan rekomendasi, buku ini saya rekomendasikan sebagai salah satu karya yang indah. Sebuah karya dilahirkan dengan rasa cinta. Salut buat bang Tere.

Kamis, 24 Juli 2014

Moga Bunda Disayang Allah

Judul: Moga Bunda Disayang Allah
Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati
Penerbit: Republika
Cetakan: XVI, Feb 2013
Jumlah Halaman: 306
ISBN: 9786028997652

Melati, gadis cilik berusia 6 tahun mungkin akan mengundang iri anak-anak kecil seusianya. Ayah bundanya, Tuan dan  bunda HK, adalah orang tua terkaya di kota. Namun kendala fisik yang dimiliki Melati, tuli dan bisu, membuat dia menjadi sosok yang tak mengenal kesopanan, etika, nilai, maupun sebuah kehidupan normal sebagaimana anak-anak seusianya. Berbagai dokter ternama sudah dipanggil namun kesimpulan mereka hanyalah agar Melati dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Tapi, Melati bukan sakit jiwa.

Di lain tempat, Karang seorang pemuda cemeralng mencintai dunia anak-anak, harus tenggelam dalam kenyataan buruk yang membuat dia jatuh secara mental. Selama tiga tahun dia jatuh ke dalam kehampaan hidup. Nmaun tergerak akan keinginan mendidik Melati, sedikit demi sedikit Karang melakukan perubahan. Meski cara yang dia lakukan untuk mendidik Melati sangatlah keras, dan ditentang oleh tuan HK. Di sisi Bunda HK, yang ada hanyalah harapan, agar takdir yang menjadi bebak bagi mereka sekeluarga bisa terangkat.

Bagian awal, saya agak kesulitan dengan cara Tere Liye bertutur. Tapi dalam beberapa bab berikut, saya sudah bisa menikmati cara Tere Liye bertutur. Bagi saya, Moga Bunda Disayang Allah akhirnya menyajikan sebuah kisah sederhana yang memikat. Menakjubkan. Saya menjadi terharu, iya, sedih.... Sebuah kisah pergulatan batin seorang bunda di saat mendapatkan musibah, seorang anak dengan kendala fisik maupun mental. Berat sekali apa yang ditanggung seorang bunda. Dan Tere Liye mampu membuat kisah ini menjadi sebuah kisah yang menyentuh. 

Bukan bahasa yang lembek. Beberapa kata saya lihat terlalu keras. Tapi semua ini membuat buku ini semakin kompleks dengan kerangka kisah yang sederhana, membuat buku ini menjadi luar biasa, meski saya kurang menyukai cover edisi film buku ini, sebagai kelemahan dari buku ini.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Hafalan Shalat Delisa

Judul: Hafalan Shalat Delisa
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Jumlah Halaman: 270
ISBN: 9789793210605

Aceh, Desember 2004, menjadi kenangan buruk bagi bangsa Indonesia. Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh dan menimbulkan ribuan korban, menjadi saksi pahit bagi bangsa Indonesia akan bencana yang kerap timbul. Dengan latar belakang Tsunami Aceh tersebut, Tere Liye, mengangkat kisah Delisa dalam salah stau maha karya beliau, Hafalan Shalat Delisa.

Dikisahkan Delisa, 6 tahun, adalah putri dari Abi Usman, yang bekerja di sebuah kapal tanker-baru bisa pulang ke Lhok Nga 3 blan sekali, dan Ummi, ibu rmah tangga yang bekerja di rumah. Bersama Delisa, hidup kakak-kakaknya yang menyayangi Delisa, kak Fatimah, dan si kembar kak Aisyah dan kak Zahra. O ya, ada tradisi di Lhok Nga, adalah anak seumuran Delisa harus menghafal doa yang dilantunkan dalam setiap shalat. Menjelang ujian, Delisa berusaha untuk bisa menghafal semua doa dalam shalat, di mana selain berharap mendapatkan kelulusan, Delisa mengharapkan sebuah kalung sebagai imbalan dari Umminya apabila berhasil lulus ujian menghafal doa shalat. Di sini kita bisa mendapatkan keriangan Delisa untuk bis amenghafal

Dengan kemantapan karena telah berhasil menghafal seluruh doa dan bacaan, Delisa melaksanan ujiannya di hari minggu menyedihkan itu. Di saat sedang mempraktekan ujian bacaan Sholatnya tersebut, Aceh diderap gempa tsunami yang menakutkan itu. Di saat Delisa sedang melaksankan ujian itu, sekali lagi! Dan terhempaslah tubuh Delisa di belantara Lhok Nga. Apakah Delisa benar-benar telah menghafal seluruh bacaan Shalatnya? 


Membaca Hafalan Shalat Delisa membuat saya merenung, apakah saya benar-benar sudah memahami dan menghayati bacaan shalat saya? Buku ini membuat saya tercekat. Delisa yang masih kecil itu harus mengalami ujian hidup yang memberatkan, di tengah harapan akan sebuah kebahagiaan tetapi dengan kekuatan kesabaran berusaha menghadapi ujiannya itu.

Saya lagi-lagi merenung, bisakah saya sendiri bisa setabah dan sesabar Delisa apabila mengalami ujian seberat dia? Buku ini memiliki banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan. Tere Liye, lagi-lagi secara manis merangkai kata-kata yang bisa menyentuh nurani kita dengan dalam. Buku ini sangat layak dibaca, direkomendasikan, karena nilai di dalamnya sangat berarti.