Rabu, 09 November 2011

The Heike Story


Kekuasaan, di mana saja, kapan pun akan selalu menjadi impian bagi manusia dalam hidupnya. Buku ini mengisahkan salah satu epos perebutan kekuasaan di tanah Jepang, pada abad 12. Khusus menggambarkan kehidupan Kiyomori, selaku pemimpin klan Heike, salah stau klan samurai besar di Jepang, selain klan Genji, yang merupakan musuh utama klan Heike.

Kesetiaan samurai di buku ini, digambarkan, dimanfaatkan oleh para bangsawan, untuk tahta kerajaan. Maka tak heran, sesama saudara pun akan saling menikam. Tak kenal saudara, yang ada hanyalah satu kepentingan. Kawan bisa menjadi lawan di lain waktu, demikian juga sebaliknya.

Eiji Yoshikawa, sudah snagat luar biasa menuliskan kisah Klan Heike ini. Meskipun bukunya tebal, tapi saya masih bisa menikmati meskipun kadangkala harus membolak-balik halaman-halamannya, untuk mengetahui siapakah tokoh ini, dan berpihak pada siapakah, mengingat banyak tokoh dan nama yang tak gampang diingat dengan sekilas baca.

Sekedar informasi, NHK mengangkat kisah Heike ini, dalam taiga (drama klasik) Jepang yang akan tayang mulai tahun 2012.

Aktris Takei Emi, bakal menjadi salah satu pemerannya

Wolf Totem


Seberapa hebatkah makhluk bernama manusia itu? Kalau membaca novel ini, kita harus menyadari, bahwa manusia hebat dalam menghancurkan alam dan sumberdayanya.

Tuhan mengajarkan kepada kita, bahwa dunia di sekitar kita adalah hidup untuk belajar, merenung. Tapi yang ada ketamakan manusia sendiri yang melupakan nilai-nilai yang dapat dipelajari dari alam.
Wolf Totem, mengisahkan kisah manusia pemburu Mongolia yang tinggal di wilayah Olonbulag, kekuasaan Cina. Chen Zhen, adalah salah seorang pelajar yang dikirimkan Mao, pimpinan Cina saat itu untuk hidup bersama mereka. Bersama masyarakat pemburu-pengembara Olonbulag, Chen Zhen belajar kearifan alam masyarakat, juga mengawali ketertarikan akan kehidupan serigala, yang dianggap sebagai makhluk setengah suci, bagi sebagian besar bangsa Mongolia tradisional. Bahkan terang-terangan, bangsa Mongolia adalah belajar dari serigala, untuk hal seperti strategi perang sekalipun.
Dengan ketertarikan tersebut, dia menculik salah satu anak serigala kecil, untuk mempelajari bagaimana kehidupannya dengan dalih untuk mempelajari secara ilmiah, hal yang ditentang oleh kawanan pengembara tersebut. Dan apa yang dia dapatkan dari sosok Serigala Kecilnya adalah hal-hal yang luar biasa.

Dari buku ini, kita banyak mendapatkan kearifan alam. Bagaimana ekosistem rantai makanan yang dilanggar manusia akan merusak kehidupan di alam dan berakibat buruk sebagai efeknya. Membaca buku ini, membuat kita terenung, apakah sifat manusia lebih baik ketimbang, serigala misalnya?

Judul: Wolf Totem
Penulis : Jiang Rong
Penerjemah: Rika Iffati
Penerbit : Hikmah Mizan
ISBN : 978-979-3714-65-3

Jumat, 04 November 2011

Yang Menjadi WishListku

Semenjak bergabung di goodreads.com pengetahuanku akan buku-buku berkualitas semakin bertambah banyak. Dan mau-tidak mau menjadi daftar wishlistku, meski tidak semua buku bagus saya masukkan ke daftar itu.
List itu saya buatkan shelf sendiri di akun goodreads-ku dengan alamat di: http://www.goodreads.com/review/list/4992336-tezar-ari-yulianto?shelf=wish-list

Jumat, 23 September 2011

Rumah Seribu Malaikat



















5 kali sudah tawaran untuk mengangkat anak, ditolak oleh pasangan Badawi. Tapi kenapa ada penawaran, untuk yang ke-enam kali?
Mulai dari keputusan untuk menyetujui pengangkatan anak itu, kemudian berlanjut ke penawan-penawaran selanjutnya, akhirnya di rumah keluarga Badawi sekarang ada belasan anak, dari 4 anak kandung, sampai belasan anak angkat.
Bagaimana perjuangan keluarga Badawi mengasuh seluruh putra-putrinya, diangkat dalam buku ini. Kita, atau siapa pun bisa belajar dari buku ini. Bahwa hidup, memanglah tidak mudah, tapi akan lebih indah, apabila di tengah kesulitan hidup kita masih bisa memberikan sesuatu yang berharga, bagi kemanusiaan.

Dwilogi Padang Bulan- Still With Hirata’s Style




















Masih mirip dengan tulisan Hirata sebelumnya, menarik, menggugah semangat, penuh kekocakan, serta mengkritik tanpa rasa pedas. Kisah Novel dwilogi Padang Bulan mengisahkan Ikal yang ikut membantu perjuangan Enong, yang kemudian dikenal sebagai Maryamah Karpov, yang menjadi judul novel terakhir tetralogi Laskar Pelangi, untuk bagaimana bisa bangkit dari kesedihan yang terus melanda menjadi wanita yang tangguh; mencari uang dari menimbang timah, menguasai bahasa inggris, serta menundukkan jawara catur di kampung yang adalah mantan suaminya yang menelantarkannya.

Novel ini angat bagus, dan menurut saya kembali perlu dapat apresiasi, setelah saya agak kecewa dengan novel Maryamah Karpov. Masih menceritakan tentang kehidupan masyarakat melayu di Belitong, tapi dengan latar perjuangan Enong, yang saat itu masih mendapat berbagai kecaman, karena dia berjenis kelamin wanita, ketika bagaimana dia mulai ikut menambang timah sampai ikut mengikuti lomba catur 17 Agustus untuk mewujudkan ambisi bisa mengalahkan mantan suaminya.

Mungkin yang agak menganggu bagi saya adalah bagaiamana secara tiba-tiba Hirata mengganti panggilan Enong menjadi Maryamah di sesi kedua (Cinta di Dalam Gelas). Secara keseluruhan, novel ini masih senilai dengan tetralogi Laskar Pelangi: menakjubkan!

Kisah Santri Pondok Madani




















Ada satu buku menarik yang saya beli di Toko Buku Gramedia di Malioboro Mall. Buku ini berjudul Negeri 5 Menara, karya A. Fuadi. Yang jelas, sudah agak lama penasaran dengan buku ini, apalagi setelah melihatnya di talk show Kick Andy. Bukunya sendiri menceritakan kisah kehidupan sang penulis, ketika nyantri di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo yang dalam buku ini dituliskan sebagai Pondok Madani. Tokoh Alif, yang merupakan sang penulis dalam novel ini, dikisahkan memiliki setengah hati untuk meneruskan pendidikan lanjutnya setelah lulus Madrasah Tsanawiyah, ke sekolah agama. Paksaan Amak, yang tidak diduga oleh Alif, terpaksa dilakukannya, padahal dia sendiri menginginkan bersekolah di sekolah umum, bersama Randai, teman yang sekaligus menjadi sparring partner-nya. Mesipun masih setengah hati, namun Alif terinspirasi oleh semboyan Arab yang menjadi patokan hidup di pesantren Madani, yaitu Man Jadda Wa Jadda, “Siapa yang berusaha sunguh-sungguh, akan berhasil” dan dengan semboyan yang menjadi mantra tersebut, akhirnya Alif bisa menyelesaikan studinya di Pondok Madani, bersama rekan-rekannya Shahibul Menara, yang menjadi tokoh dalam novel ini.
Sekilas, Alif bersama sahabat menaranya mirip dengan Ikal beserta Laskar Pelangi, tetapi terdapat berbagai perbedaan, khususnya pandangan cerita tersebut. Sama-sama mengisahkan impian yang bisa dicapai dengan usaha yang luar biasa, Negeri 5 Menara lebih konsen akan kisah kehidupan sehari-hari di kehidupan pesantren, yang selama ini masih belum tampak oleh masyarakat umum secara detail. Juga meskipun mengisahkan kehidupan sekolah agama, buku ini tak lantas bermuatan ajaran agama Islam, tapi lebih ke nilai-nilai yang bisa dicerna pemeluk agama lain. Yang jelas buku ini sangat bagus, dan patut untuk menjadi bahan pembelajaran, terutana bagi yang suka dengan buku-buku menggugah semangat. Bravo buat Ustad A. Fuadi, sang penulis.

My Stupid Boss: Gokil Abis Dech















Ingin cari buku yang gokil abis dan bisa bikin ketawa? Coba deh, buku yang satu ini. Sudah pernah nyoba sih, bikin ketawa nggak abis-abis. Kisahnya sih tentang kehidupan seorang kerani dan sang bos di sebuah berhad di Malaysia. Meskipun latarnya di Malaysia, pelaku di buku ini adalah WNI asli lho. Kisah yang ada adalah bagaimana si boss bisa bekerja dengan gokil-nya sehingga kerapkali membuat sang kerani stres tidak kepalang. Pokoknya si boss adalah orang yang agak-agak *pokoknya baca aja deh sendiri bukunya. Sampai kita sendiri heran, kok ada sih boss yang kayak gitu....
So, menurut saya, buku ini cocok buat ngilangin stres. Dan membuat kita beruntung, ternyata bos yang kita punya masih lebih baik daripada boss si kerani, wakakakaka