Sabtu, 31 Agustus 2013

Kan Kukenang Selalu

Judul: Kan Kukenang Selalu
Judul Asli: A Walk to Remember
Penulis: Nicholas Sparks
Penerjemah: Kathleen S.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 256
Cetakan: IV, Mei 2003
ISBN: 9796867567

Landon Carter tak menyangka, bahwa kelak dia akan jatuh cinta kepada Jamie Sullivan. Putri Pendeta Hegbert Sullivan. Bagaimana tidak, Jamie adalah tipikal seorang gadis yang kolot. Pakaian seadanya, selalu berbuat baik, ramah pada semua orang, dan membawa alkitab kemana-mana. Tipikal putri pendeta sejati.

Namun, ketika terpaksa harus mengajak Jamie untuk datang kencan di acara sekolah, sampai harus berpartner dalam sandiwara tahunan sekolah, Landon semakin mengenal dekat sosok Jamie, yang sebelum-sebelumnya tak dikenalai meskipun selalu satu sekolah, dan di lubuk perasaan Landon, kedekatan ini semakin berbuah pada perasaan suka dan cinta.

Namun kedekatan itu ditolak oleh Jamie, karena Jamie menyimpan sebuah rahasia yang membuat dia tidak bisa dicintai oleh Landon, setidak-tidaknya menurut Jmaie


Saya sendiri baru pertama kali ini membaca karya Nicholas Sparks, yang digadang-gadang hasil karyanya mampu menyentuh hati, juga beberapa klai dibuat versi film. Genre romance sendiri, meskipun jarang saya sentuh beberapa kali saya baca sehingga tak terlalu awam bagi saya membaca buku dengan jenis cerita seperti ini.

Buku ini bisa dibilang sebagai salah satu eksekusi tema romance dengan baik. Meski memiliki kemiripan dengan buku-buku lainnya, kekuatan Nicholas Sparks menurut saya adalah kalimatnya yang tidak dilebih-lebihkan. Entahlah, apakah penulisnya berjenis kelamin yang sama dengan saya, tapi saya merasa nyaman ketika membaca buku ini.

Meski demikian, ada kalimat yang membuat saya terdejavu dengan buku romance lainnya, Love Story yang dikarang oleh Erich Segal. Di halaman 232, Sparks menulis, Malam itu aku menangis dalam pelukan ayahku untuk pertama kalinya dalam hidupku. Buat yang sudah membaca Love Story akan teringat bagian yang serupa walaupun saya lupa, apakah kata-kata yang digunakan sama persis dengan buku ini.

Buku ini dengan kesederhanaan dan cerita yang menyentuh menjadi salah satu karya yang menarik untuk dinikmati. Sebagai kisah hidup yang tak terlalu berlebihan, kadang bisa membuat kita tersedot perhatiannya ketika membaca buku ini. Sebuah buku yang menarik.

Jumat, 30 Agustus 2013

Scene on Three #1

Ikutan meme lagi, hehehe. Rasanya udah lupa berapa meme yang diikuti, tapi semoga saja bisa konsisten, demi meramaikan blog ini. Kali ini memeyang saya ikuti adalah Scene on Three dimana kita memajang adegan yang menurut kita sangat menarik, dihost oleh kakak Bzee, yang tayang setiap ada angka 3 di tanggal hari itu.

Untuk episode pertama ini, saya mengambil kejadian dari sebuah buku non fiksi, memoar dr Ang Swee Chai, petugas medis sukarelawan di Lebanon untuk pengungsi Palestina, dalam bukunya From BBeirut to Jerusalem, yang saya pilih untuk baca dan post review bareng bersama BBI bulan Agustus ini.

Suatu hari, aku harus mengeluarkan sebutir peluru dari telapak tangan seorang pemuda Palestina; peluru itu menyebabkan telapak tangannya tak bisa ditutup. Peluru itu tersangkut di tulang metakarpal ketiga. Tidak ada obat bius dan aku harus mengoperasinya tanpa menggunakan sarung tangan, amsker bedah, maupun topi. Aku didampingi seorang perawat yang menggenggam sebatang lilin.
Sebelum memulai, aku memperingatkan dia, "Ini akan menyakitkan-kami kehabisan obat bius."
Ia menjawab dengan tegas, "Doctora, Anda lupa, saya orang Palestina." Apa yang dapat kukatakan kepada pasien yang menjawab dengan kata-kata seperti itu? Operasi itu berhasil dilakukan bahkan tanpa menggunakan pembiusan lokal. (hal 287)
Sebuah momen yang menyentuh hati saya. Bukan sekedar karena si pemuda Palestina harus dioperasi tanpa pembiusan tetapi juga karena jawaban yang diberikan. Sahabat Palestina di sana kerapkali menderita seolah-olah bertambahnya 'penderitaan' tak menjadi pensusah hati bagi mereka. Momen ini, adalah sebuah pengingat bagi saya.

Apa momen dalam buku, yang membuat Anda berkesan? Ikutan yuk meme Scene on Three dengan cara sbb:
  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

From Beirut to Jerusalem

Judul: From Beirut to Jerusalem
Penulis: Ang Swee Chai
Penerjemah: Dina Mardiana
Editor: Andityas Prabantoro
Penerbit: Mizan
Cetakan: II (Edisi Baru), November 2010
Jumlah Halaman: 476
ISBN: 9789794335932
Saya menangis ketika membaca buku ini untuk pertamakalinya. Ilmu kedokteran dan keterampilan sastra menjadikan kesaksian ini begitu mengiris -Farid Gaban
Endorsement yang ditulis oleh Farid Gaban ini menurut saya tak berlebihan. Buku ini memang seperti itu, apa adanya. Setidaknya itulah yang saya rasakan setelah membaca buku ini. Pertama kali melihat buku ini saya sudah terpikat dengan tampilan, deskripsi, dan judulnya. Serasa semua berkonspirasi memikat mata dan minat saya untuk memiliki buku ini.

Mengisahkan sebagian pengalaman hidup Ang Swee Chai, seorang dokter bedah tulang asal Singapura yang menetap di Inggris, ketika memilih untuk terbang ke Libanon ketika untuk menjadi sukarelawan medis ketika terjadi perang antara tentara Israel melawan pengungsi Palestina di kamp pengungsian Sabra-Shatila, di Beirut, 1982.

Dari kesaksian dr. Ang, kita dapat mengetahui bahwa keadaan para pengungsi Palestina begitu mengenaskan. Orang tua mereka berpindah dari Palestina, ketika tanah mereka direbut oleh Zionis Israel di tahun 1948, namun di tempat pengungsian seperti kamp Sabra-Shatila pun mereka harus menghadapi kekerasan fisik. Ketika dr. Ang tiba untuk pertama kalinya di Beirut, harapan tentang perdamaian begitu membuncah, karena pada saat itu gerilyawan PLO, yang dianggap sebagai teroris bagi Israel, dideportasi namun sesudah deportasi tersebut yang terjadi justru pembantaian besar-besaran yang dilakukan terhadap pengungsi di kamp Sabra-Shatila.

Sebagai petugas medis sukarelawan di rumah sakit Gaza, dr. Ang merasakan nestapa yang dirasakan oleh orang-orang Palestina tersebut. Alat-alat medis yang terbatas, di mana fasilitas yang ada terkena bumi hangus, jumlah penduduk yang padat, beberapa teman sejawat sukarelawan yang justru malah mau enak-enaknya saja padahal di depan mata banyak korban jiwa yang masih memerlukan bantuan, serta tindakan biadab tentara Israel, yang justru menangkapi tenaga medis asing dan menginterogasi mereka seperti yang sempat dialami oleh dr. Ang sendiri.

Kemanusiaanlah yang membuat dr. Ang yang semula karena pandangan keagamaannya mendukung Israel menjadi berbalik arah mendukung rakyat Palestina. Meski kemanusiaan pula yang membuat ia juga mau mengobati tentara yang dibencinya. Tetapi nilai kemanusiaan juga lah yang membuat ia senasib dengan penderitaan rakyat Palestina, ketika ia tahu meskipun menderita mereka mau memberikan apa saja kepada orang lain termasuk kepada dr. Ang.

Mungkin hati ini akan tercelos, ketika tentara Israel memburu seorang bocah berusia 3 tahun yang melempari batu. Ketika tentara-tentara tersebut menanyakan bocah tersebut siapakah yang mengajari dia, jawaban singkat kakaknya membuat para tentara tersebut memburu sang kakak, yang ternyata didapati hanyalah setahun lebih tua dari bocah kecil tersebut.

Episode hidup yang dialami oleh dr. Ang bukan hal yang dibuat-buat. Dengan membaca buku ini, saya merasa di pelosok dunia lain, masih ada orang yang terkunkung. Masih ada yang menderita terusir dari negeri tercintanya dan masih belum tahu kapan bisa kembali ke tanah air tercinta mereka. Sebuah kisah sejati yang perlu dibaca untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia ini. Dan sayangnya, buku ini diberhentikan peredarannya di Amerika Serikat, negara yang justru mengklaim keterbukaan informasinya terbuka lebar.

Untuk mengakhiri tulisan ini, izikanlah saya mengutip sebuah paragraf dalam buku ini yang membuat saya merenung dalam-dalam, sebagai bagian yang tak lekang maknanya oleh waktu untuk selalu diingat:
Mereka punya sebuah mimpi. Dan aku berbagi mimpi itu dengan mereka: mimpi tentang sebuah dunia yang tampak jelas di tengah-tengah semburan gas air mata dan reruntuhan yang berasap di kamp-kamp pengungsi. Sebuah dunia tempat seorang bocah sebelas tahun tak perlu belajar cara menggunakan sepucuk kalashnikov atau mesin peluncur roket untuk membela keluarganya. Sebuah dunia yang damai, adil, dan aman, tempat aku tak perlu mengatakan kepada seorang anak, "Pergilah ke sekolah," hanya untuk mengetahui bahwa sekolahnya telah dibom, atau mengatakan kepada seorang gadis, "Bantulah ibumu menyiapkan makan malam," hanya untuk melihatnya kembali kepadaku dan mengatakan bahwa ibu dan keluarganya telah dibunuh. Sebuah dunia tempat kami tak perlu lagitakut terkubur hidup-hidup di dalam puing-puing. Sebuah dunia tempat aku tak perlu lagi memperbaiki bagian-bagian tubuh yang patah hanya untuk melihatnya dipatahkan lagi, atau memeluk tubuh remuk seorang bocah dengan tanganku dan bertanya, "Mengapa?" atau mendengar orang-orang bertanya, "Berapa lama lagi?" Sebuah dunia tanpa penjara, tanpa penyiksaan, tanpa rasa sakit, tanpa kelaparan, dan tanpa kartu-kartu identitas pengungsi, tempat aku dapat berteduh di rumahku sendiri dan mendengarkan nyanyian ibuku seraya menutup mata di penghujung hari. Tempat itu adalah mimpi kami, Jerusalem kami. (dr. Ang Swee Chai, 465-466).

Lonceng Nagasaki

Judul: Lonceng Nagasaki
Penulis: Takashi Nagai
Penerjemah: Ismet Fanany
Peneerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 1989
Jumlah Halaman: 224
ISBN: 9794036196

Lonceng Nagasaki merupakan memoar dari dr. Takashi Nagai, seorang dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Nagasaki, ketika mengalami peristiwa peledakan bom atom oleh pasukan sekutu, 9 Agustus 1945, salah satu momen yang menyebabkan Jepang menyerah pada Perang Dunia II. Momen tersebut memang akan dikenang sepanjang masa oleh bangsa Jepang, dan penulisan memoar ini oleh dr. Takashi Nagai, menjadikan kenangan pahit sekaligus memberitahukan kepada kita, betapa rusaknya akibat yang ditorehkan oleh senjata terdahsyat yang pernah diciptakan manusia.

Kejadian yang diceritakan begitu nyata oleh penulis. Sampai pada momen-momen mengerikan yang terjadi setelah bom atom dijatuhkan oleh pasukan sekutu. Begitu mengerikannya, sampai-sampai matahari pun dikira sudah meledak. Dari segi medis, penulis yang juga menjadi korban selamat dari bom atom tersebut menjelaskan detail-detail akibat yang ditimbulkan secara media bagi korban-korbannya.

Biasanya kita hanya tahu dari sejarah yang diajarkan di sekolah tentang peristiwa peledakan bom atom ini, namun dengan membaca buku ini, detail-detail kengerian yang ditimbulkan oleh sebuah senjata mungil bisa mengakibatkan sebuah bencana yang luar biasa, dan membuat memoar ini terasa menyentuh. Bagi saya yang kurang dalam buku ini, adalah penggunaan kata-kata yang kurang lugas dalam bercerita, sehingga terasa membingungkan saya di beberapa bagian cerita.

Kisah ini, sebagai sebuah perjalanan hidup dunia dan dalam lingkup sejarah pergolakan dunia, terasa sekali maknanya. Sebuah karya yang tak pernah usang.

Kamis, 29 Agustus 2013

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

Judul: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Penulis: Idrus
Penerbit: Balai Pustaka
Jumlah Halaman: 176
Cetakan: 27, 2010
ISBN: 9789794072189

Sebagai salah satu karya sastrawan besar, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, memberikan alternatif bacaan sastra di antara tebaran sastra modern yang mewarnai dunia pustaka di Indonesia.  Terbagi menjadi 3 bagian cerita: Zaman Jepang; Coret-coret di Bawah Tanah; dan Sesudah 17 Agustus 1945, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma merupakan kumpulan cerita pendek, berjumlah 11 cerita pendek, dan satu naskah drama.

Bisa dibilang, kisah-kisah yang diangkat Idrus adalah kisah yang sudah bisa dikategorikan sebagai karya sastra absurb, meski pesan-pesan yang disampaikan oleh Idrus masih bisa teraba-raba. Dan membaca Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, kita dapat membaca latar belakang keadaan Indonesia menjelang dan sesudah kemerdekaan, diceritakan dengan kalimat-kalimat panjang, namun tetap berisi dari setiap kalimatnya.

Favorit saya dalam buku ini adalah kisah Ave Maria. Sebuah cerita yang sedikit mengenaskan tapi kadangkala terasa segar dibaca. Karya lainnya mengangkat ironi di masa perang, sebuah kenangan yang perlu dibaca oleh generasi sekarang sebagai pelajaran. 

Sebagai kekayaan sastra Indonesia, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma patut diapresiasi, bahwa karya ini pun menjadi landsan generasi sastra sekarang untuk berkarya.

Gelang Giok Naga

Judul: Gelang Giok Naga
Penulis: Leny Helena
Editor: M. Irfan Hidayatullah
Penerbit: Qanita
Jumlah halaman: 316
Cetakan: I, November 2006
ISBN: 9793269510


Yang Kuei Fei, seorang selir kesayangan kaisar china di tahun 1723, Jhia Si, melarikan diri dari istana, ketika mendapatkan bahwa kaisar tewas, bersama Kasim Fu. Kaburnya dia disebabkan intrik yang terjadi di istana, padahal ia sedang mengandung putri tunggal kaisar. Melarikannya diri Yang Kue Fei, membawa gelang giok naga yang diwariskan turun temurun ke anak putri.

Dan kisah pun menginjak pada abad ke-20. Di mana pola cerita bertanjak pada dua wanita china, A Lin dan A Sui, di mana mereke berlayar dari negeri China ke pulau Jawa berkait dengan nasib yang memaksa mereka harus berpindah lokasi hidup, dan mengarungi hidup baru di tanah Jawa, dengan berbagai kesukaran dan halangan.

Takdir membuat A Lin dan A Sui menjadi pasangan besan, meski di antara mereka terdapat rasa benci. Apalagi ketika A Sui harus menggadaikan gelang giok naga yang menjadi warisan turun temurun. Meski saling membenci, mereka mencintai cucu yang sama, Swanlin, yang menjadi sentral cerita pada separuh bagian akhir kisah dalam buku ini.

Usia Swanlin beranjak dewasa pada saat di mana etnis keturunan China di Indonesia menjadi manusia yang dering mendapat perlakuan rasialis dari orang-orang sekitarnya, bahkan mengalami masa-masa genting di mana kejatuhan orde baru melahirkan masa-masa mencekam bagi masyarakat keturunan China, justru pada saat itu lah Swanlin berusaha untuk mendekatkan diri kepada teman-temannya yang berasal dari berbagai suku ras.


Apresiasi saya berikan untuk novel, yang diangkat dari lomba cerita bersambung salah satu majalah wanita di Indonesia ini. Covernya keren, saya suka. Tema yang diangkat pun cukup menarik, ditambah eksekusinya yang apik, membuat novel ini sangat sayang untuk dilewatkan. Meski merupakan novel pertama, sang penulis tak seperti menulis seperti penulis pemula, meski di beberapa bagian novel, masih ditemui satu dua cerita yang membuat kening berkerut, seperti ketika digunakannya bahasa asing dalam buku ini.

Meski ide ceritanya tidak orisinil, saya cukup terkesan dengan cerita yang diangkat penulis. Meski demikian, saya merasa faktor Gelang Giok Naganya kurang diangkat lebih banyak, sebuah perjalanan hidup interaksi dalam kebangsaan Indonesia sangat menarik untuk bisa dicermati dalam kisah Gelang giok Naga. Sisi lain kehidupan warga keturunan China yang diangkat dalam buku ini membukakan mata, masalah-masalah yang dialami oleh bagian hidup bangsa Indonesia ini, utamanya ketika gejolak keruntuhan orde baru melekat.

Rabu, 28 Agustus 2013

Wishful Wednesday #42

Selamat berjumpa lagi dengan rabu ceria. Semoga hidup semakin cerah dengan impian memiliki buku baru, hehehe. Karena setiap rabu ada meme asyik yang sayang untuk dilewatkan, wishful wednesday, di mana kita memajang buku impian kita, dihost oleh kak Astrid.....

Untuk minggu ini saya mau pajang buku :

House of Silk karangan Anthony Horowitz
Pertama kali dalam sejarah, setelah 125 tahun, ahli waris Sir Arthur Conan Doyle akhirnya mengakui satu-satunya novel seri baru Sherlock Holmes.
Maka, sekali lagi, petualangan dimulai …


London, 1890. Baker Street 221B.
Seorang penjual benda-benda seni, Edmund Carstairs mengunjungi Sherlock Holmes dan Dr. John Watson untuk meminta bantuan. Dia telah diancam oleh seorang buronan yang sepertinya sudah mulai mengikutinya sejak dia pulang dari Amerika. Beberapa hari berikutnya, rumahnya dirampok dan keluarganya menerima surat ancaman. Setelah perampokan itu, sebuah pembunuhan terjadi.
Holmes dan Watson pun akhirnya tanpa sengaja masuk ke dalam dunia bawah tanah Boston. Dan semakin jauh mereka kasusnya, mereka menemukan misteri Rumah Sutra yang menghubungkan pemerintah dengan criminal tingkat tinggi. Sebuah kasus yang mungkin berakibat pecahnya sosial London.

Kenapa saya pilih buku ini? Jujur saya mengakui bahwa saya adalah salah seorang sherlockian. Dan meski bukan dikarang oleh penulis aslinya, SIr ARthur Conan Doyle, buku ini sepertinya layak untuk dikoleksi. Apalagi banyak pujian untuk buku ini di goodreads. Lalu apa buku impian ANda minggu ini? Ikutan ww yuk dengan cara:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post WW milik kak Astrid). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)