Sabtu, 30 Januari 2016

The Sword of Summer


Judul: The Sword of Summer
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Editor: Rina Wulandari
Penerbit: Nourabooks
Cetakan: I, Oktober 2015
Jumlah Halaman: 628
ISBN: 9786023850204
Magnus Chase, hidup menggelandang selama 2 tahun di jalanan kota Boston, semenjak ibunya meninggal diserang serigala bermata biru. Sedangkan jati dirinya ayahnya belum diketahui sama sekali oleh Magnus. Meski pamannya, Randolph hidup mewah, namun ibunya Magnus berpesan untuk menghindari sang paman.

Namun ketika ulangtahunnya ke enambelas, sang paman justru memberitahukan Magnus, bahwa Magnus adalah anak seorang dewa.

"Demi nyawaku, Magnus, aku bersumpah bahwa yang kukatakan ini benar: ayahmu seorang dewa Nordik" (halaman 33)
Dan sang paman, meminta Magnus untuk mencabut sebuah pedang. Pedang Summarbrander. Namun setelah berhasil mencabut pedang tersebut, ia diburu oleh Surt, seorang raksasa api yang tiba-tiba muncul, menginginkan pedang itu. Dan sambil mempertahankan pedang tersebut, Magnus berusaha melindungi orang-orang di sekitar yang tidak terlibat, dari amukan sang raksasa. Di saat itulah dia tewas dengan membawa nilai kepahlawanannya.

Setelah Magnus tewas, dia justru dibangkitkan dan berada dalam hotel Valhalla. Magnus bisa bangkit dan mendiami hotel Valhalla karena dipilih menjadi sosok pendekar dengan nilai kepahlawanan yang tewas dengan senjata di tangan ketika meninggal. Dan dipilih oleh seorang Valkyrie. Yang memilih Magnus untuk bisa dibangkitkan di Valhalla adalah Valkyrie bernama Samirah al-Abbas. Tapi sejatinya tidak semua orang yang tewas layak ditempatkan di Valhalla. Setiap penghuni Valhalla baru akan dinilai oleh para thegn. Apabila pendekar yang dipilih tidak layak maka Valkyrie yang memilihnya akan dihukum.

Namun pada saat penilaian, muncul para Norn yang meramalkan nasib Magnus,

Tak pantas dipilih, tak pantas mati,
seorang pahlawan yang tak sanggu diemban Valhalla.
Ke timurlah mentari bergerak, sembilan hari lagi,
dan Pedang Musim Panas membebaskan si buas dari belenggunya.
Dan terbentanglah jalan di depan Magnus. Bahwa dia harus menghadapi sebuah tantangan berat, sebuah misi untuk menghidari ercepatan terjadinya kiamat.

Kisah Magnus Chase memberikan sebuah sensasi membaca bagi saya. Awalnya saya yang masih awam dengan konsep mitologi Nordik tentu saja dibuat bingung dengan konsep kehidupan dewa bangsa Nordik tetapi gaya Riordan dalam menuliskan ceritanya dengan luwes, penuh dengan humor-humor serta judul bab yang unik bisa mengantarkan saya untuk bisa menikmati ke dalam isi cerita secara tak langsung dan tanpa memerlukan kening berkerut.

Siapa sangka dewa Odin dan Thor dalam buku ini diceritakan memiliki karakter yang unik, berbeda dengan konsep dewa secara umum? Tapi memang di sinilah kemampuan Riordan menciptakan buku yang bisa dinikmati lebih banyak oleh pembaca umum. Dia berhasil menciptakan karya yang segar, alih-alih membuat cerita dewa yang penuh kekakuan dan terlalu serius seperti mitos aslinya.

Tokoh favorit saya di buku ini adalah Sam, valkyrie yang membawa Magnus ke Valhalla. Meski di awal-awal saya tak menyukai sifatnya, namun kebersamaan dia bersama Magnus membuat saya kagum padanya.

Edisi bahasa Indonesia buku ini juga sangat bagus. Karakteristik humorisnya teta terjaga, dan ketika membaca buku ini, saya bisa menyatu dengan apa yang ditulis oleh Riodan. Jadi tidak perlu pusing dengan terjemahannya. Pastinya, secara keseluruhan saya suka buku ini. Dan masih menunggu edisi selanjutnya terbit.


Saatnya menebak santa....Siapa yang sudah repot-repot mengirim buku bagus ini buat saya. Setelah berpusing ria dengan riddle sederhana tapi justru bikin saya kelimpungan, bahwa si santa memiliki nama mirip atlet, saya menebak nama :

MARTINA SUGONDO pemilik blog a pair of glasses&a cup of tea

Kenapa? Karena yang saya tahu nama olahragawan adalah MARTINA hingis, atlet tenis, meski saya nggak tahu kak nana ini bisa main tenis atau nggak, hehehe Benarkah kak Nana? Semoga benar.
Tapi siapa pun snatanya, terima kasih bukunya ya

Senin, 25 Januari 2016

Sang Penunggang Naga


  Judul: Sang Penunggang Naga
Judul Asli: Drachenreiter
Penulis: Cornelia Funke
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Editor: Dini Pandia
Penerbit; Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2009
Jumlah Halaman: 416
ISBN: 9789792244809

Naga-naga yang hidup di Lembah Naga terancam. Manusia bakal datang ke lembah dan merusak lembah sehingga lembah tidak bakal bisa ditempati oleh kaum naga lagi. Namun peringatan tentang ancaman manusia itu diacuhkan para naga. Kecuali satu naga muda, Lung.

Berdasarkan cerita naga tertua, Jenggot Kelabu, bahwa ada daerah tak terjangkau manusia bernama Kaki Langit yang merupakan tempat asal para naga, Lung bertekad untuk mencari lokasi tersebut. Bersama gadis goblin, Bulubelerang. Dan Ben, bocah lelaki yatim piatu yang mereka temui di perjalanan, berusaha menemukan tempat yang sudah lama menghilang.

Namun perjalanan menjadi berat ketika jejak mereka terdeteksi oleh Nesselbrand, naga emas buatan seorang alkemis, yang dibuat untuk memburu naga-naga. Sang naga emas mengirimkan Kakiranting, seorang manusia mini buatan, untuk menyusup ke rombongan Lung, untuk memata-matai perjalanan mereka.

Menegangkan. Membaca kisah Lung dikejar-kejar oleh Nesselbrand. Berbagai upaya dilakukan oleh Lung dan kawan-kawan untuk menghindari kejaran serta upaya untuk menemukan lokasi Kaki Langit ditengah keterbatasan.

Tapi sayang buku ini tak sebagus Pangeran Pencuri, buku sebelumnya dari penulis yang pernah saya baca. Rasanya seerti kurang greget, entah apa yang hilang. Mungkin kalau saya bacanya di saat lebih muda, penilaian saya untuk buku ini bisa lebih baik.

Selasa, 05 Januari 2016

[Guest Post] Serunya Dunia Anak Kost

Selamat datang di blog Membaca Buku. Kali ini saya kembali kedatangan tamu. Mas Steven Sitongan, pemilik blog Haremi Book Corner yang beralamat di H23BC.com Mas Steven juga merupakan salah satu member BBI sempat mengenyam pendidikan kesarjanaan sains di Kota Pelajar dan kini kembali ke daerah asalnya Ambon.manise.
Mas Steven kali ini akan membahas tentang komik yang menceritakan kehidupan seputaran anak kos. Komik apakah? Mari kita ikuti
ΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞΞ
Akhir tahun kemarin saya
menyempatkan diri untuk mencoba bacaan baru (sekaligus nostalgia) dengan komik seri 101 Cendana Media. Si komikus, Irvan berhasil
menghibur dengan segala kekocakan dan keriuhan
dunia anak kost di "101 Lika-Liku Anak Kost".
Kejadian membeli produk-produk kreatif terbitan Jakarta ini ternyata lewat sebuah ketidaksengajaan. Jalannya panjang dan sedikit
berliku-liku. Jika Anda mau membacanya sampai selesai, ijinkan saya untuk segera
menyiapkannya. Jangan emosi dan segera ke toko buku sehabis menyimak tulisan ini. Sehabis
menjajal bacaan seru "Menjejal Jakarta <https://viriyaps.wordpress.com/2015/11/04/saatnya-menjejal-jakarta/>" yang baru dirilis kuartal akhir 2015, saya menyempatkan blogwalking di blog sang penulis Viriya Paramita Singgih. Keasyikan menjelajah tulisan ex jurnalis Geo Times sampai di sebuah artikel, saat Jawir-sapaan akrab penulis-dihadiahi komik opini "Hidup itu Indah" karya Aji Prasetyo. Dengan segenap perasaan rasa penasaran saya mencari jejak buku tersebut.
Sudah habis. Nampaknya terhitung laris. Singkat cerita saya sampai pada akun Twitter mas Aji, komikus cum aktivis asal ngalam. Di tahun
kemarin blio menelurkan karya terbarunya yang bertajuk "Teroris Visual". Komik ini wajib dibaca pokoknya. Tidak sampai disitu, saya surfing hingga situs penerbitnya. Perjalanan semakin seru saat Cendana Media ternyata promo rabat 30% untuk komik-komik terbitannya. Tidak perlu saya sebutkan komik apa saja yang berhasil mengiris ATM dalam sekejap. Pokoknya Teroris Visual dan beberapa seri 101 yang mendarat dengan selamat di kota Ambon-yang pegang rekor MURI, pohon natal terbanyak itu-lantas saya baca di kala libur.
Ternyata terbitan Simon Chandra ini bagus-bagus dan berisi. Sayang saya kurang demen sama yang bertemakan pengangguran. Seri tentang kopi dan anak kost ini yang jempolan. Balik lagi ke buku Lika-Liku Anak Kost. Komik terbitan 2014 kemarin ini memang sesuatu. Benar kalimat yang tertera di blurb komik ini. Menjadi mahasiswa perantau dan tinggal di indekos yang jauh dari rumah adalah kenangan tak terlupakan.
Di sini kehidupan anak rantau dihadirkan lewat tingkah-pola Mumut cs yang kocak. Mengambil
setting tempat di kota Surakarta. Ceritanya jadi MABA (mahasiswa baru) di UNS. Mulai dari komik strip pertama hingga terakhir, plus
tambahan yang dihadiahkan cuma-cuma oleh Irvan berhasil mengundang gelak tawa hingga
merekahkan senyum simpul. Dari pencarian kost hingga keseharian dengan teman-teman Mumut,
semuanya merefleksikan kehidupan anak kost yang serba bersahaja. Kesepian tinggal di kamar sehingga butuh modem internet. Menunggu giliran mandi. Ngimpi makan enak tapi kenyataan makan di warung "sederhana". Becandaan di Hik/angkringan. Kerap ngumpet kalau datang tanggal bayaran. Euforia sesaat kala punya motor baru.
Bahkan horor di lingkungan indekos, hihihihihi.
Bajingan memang, kurang banyak isinya. Harusnya khusus tema ini, penerbitnya berbaik hati membuat judul 111 atau 1001 Lika-Liku Anak Kost.
Karya Irvan Tauramdhanny direkomendasikan untuk para alumni anak kost, calon penghuni kost, sampai pemilik indekos.
Baca deh, komik strip yang satu ini. 101 Lika-Liku Anak Kost dikarang dan digambar oleh Irvan Tauramdhanny. Cetakan pertama, Maret 2014. Diterbitkan oleh Cendana Art Media, Jakarta.

Senin, 04 Januari 2016

[Guest Post] Resolusi Buku Melihat Kembali 2016

Minna san, berjumpa lagi kita dalam postingan blog di [Membaca Buku]. Kali ini saya kedatangan tamu #gelarkarpetmerahdaneslemontea. Kak Dani, pemilik blog [Melihat Kembali] yang beralamat di: http://sekotakceritaseusaibaca.wordpress.com (ayo dikunjungi, blognya asyik lho) akan menuliskan postingan tentang buku-buku yang menjadi resolusi beliau untuk dibaca di tahun 2016. Berikut adalah postingannya:

Halo, semuanya, setelah beberapa waktu lalu aku menampilkan Mas Tezar dalam guest post dengan tema Resolusi Buku Tahun 2016, kali ini giliranku berkunjung ke blognya. Tentu saja masih dengan tema yang sama karena ini merupakan salah satu trik memacu diri sendiri untuk menghabiskan timbunan di rak buku masing-masing.

Berhasil atau tidaknya, semua tergantung dari kemauanku untuk mencapai resolusi ini dan pecutan dari si empunya blog yang ditumpangi resolusi tersebut.
 
Nah, untuk tahun 2016, aku menargetkan diri untuk membaca buku-buku yang sudah mulai bosan aku anggurkan saja di rak, yaitu:
*​​1. Musashi (Eiji Yoshikawa)*
Beberapa tahun lalu buku ini sudah kusiapkan untuk Eiji Yoshikawa Reading Challenge yang digelar Mas Tezar, namun apa daya aku tak mampu menyentuhnya sama sekali. Jadi tahun ini aku targetkan membaca buku bantal ini sekaligus untuk mengikuti Japanese Lit RC yang diadakan oleh Opat ^^v
(asal jangan dijadiin bantal ya kak)
*​​2. Trilogi Lord of The Ring (J.R.R. Tolkien)*
Mungkin sudah bosan menemukan buku ini selalu muncul di dalam target RC-ku setiap tahun dan selalu gagal kutaklukkan. Suka tidak suka, aku harus membacanya karena buku-buku pelengkapnya sudah aku timbun juga di rak #sigh (salah satu buku yang masuk 1001 books nih)
*​​3. Trilogi Bartimeus (Jonathan Stroud)*
Ya, aku tahu, buku populer di kalangan penggemar fantasi ini memang layak dibaca. Untuk itu setelah kutimbun sejak tahun 2009, aku pasrahkan diri untuk membacanya di tahun 2016 (yay, bakal ada temen baca barengnya. baca bareng ya kak)
*​​4. A Series of Unfortunate Event​ (Lemony Snicket)​*
Aku sudah membaca 4 buku pertama dari kisah kemalangan anak-anak keluarga Baudelaire, namun susah sekali memacu diriku untuk membaca sisanya. Jadi kuputuskan untuk memasukkan seri ini ke dalam resolusi 2016-ku. (ini buku ada belasan dalam seri-nya. wow, good luck ya kak)
*​​5. Wuthering Heights (Emily Brontë)*
Buku ini kudapatkan sebagai hadiah kuis yang diadakan oleh Gramedia di twitter. Sempat akan kubaca saat posbar buku horor BBI tahun 2012, namun kubatalkan karena tebalnya itu bikin keki duluan. Takut baper juga sih waktu itu karena katanya kelam sekali. (buku ini juga jadi resolusiku di tahun 2016. bisa baca bareng juga nih)
*​​6. A Tree Grows in Brooklyn (Betty Smith)*
Buku ini kudapatkan dari event read along Gone With The Wind. Belum tersentuh sama sekali padahal si salah satu hostnya saat itu dibela-belain menyelipkan hadiah ini melalui jendela rumahku. So, I have to read this book to appreciate what she did #betterlatethannever (wah, mau juga dong diselipin buku di jendelaku, hahaha. tapi ini bukh bagus. masuk rak favoritku di goodreads. bener nih harus dibaca. recommended)
*​​7. The Child Thief (Brom)*
Buku bantal satu ini aku beli dengan impulsif semata-mata karena diskon 20% di Toga Mas. Tapi nyatanya sampai sekarang pun masih tak tersentuh apalagi dibaca (eh punyaku juga tertimbun. asyik bisa baca bareng lagi)
*​​8. Let the Right One In (John Ajvide Lindqvist)*
Buku terakhir yang kutargetkan untuk dibaca di tahun 2016 adalah buku tentang vampir ini. Termasuk impulsif juga saat membelinya, namun hilang mood setelah menonton versi filmnya. Tapi karena ada info bahwa versi film berbeda dari bukunya, so I choose this book as one of my resolution in 2016. Bismillah. (yang ini jugaaaa, tertimbun pula hahaha. semoga bisa baca bareng juga, terus sama-sama bawa pecut, saling pecut, hahaha)

Sesuai perkiraanku, walaupun yang terlihat hanya ada 8 buku tetapi nyatanya total ada 20 buku, my favorit number, Yeay! (duh maafkan, pinginnya dipost tanggal 3 biar pas dijumlah jadi 20 antara tanggal-bulan-tahun, tapi apa daya semalam jaringan lagi galau #bapernih #terusdikeplakmatamunya)
Muluk sih, tapi kalau tidak begini entah kapan bisa kubaca semua timbun eh ((koleksi)) bukuku itu.
Semoga semua targetnya tercapai, amin
(aamiin)
#merapalmantra
#mintacambukandariempunyablog

(iqra, ayo baca kak #sambilsiapincambuk)

Demikianlah postingan tamu dari kak Dani. Buat yang baca postingan ini dan awam tentang kegiatan membaca buku para BBI-ers, mungkin saja bingung, kenapa membaca buku saja harus sampai dibuat resolusi aja. Kenapa tidak dengan tinggal membaca saja?

Sebenarnya tak semudah itu. Aktivitas, mood, suntuk, stres, galau, baper dst membuat kita malas untuk menyentuh buku-buku timbunan kita. Menyentuh aja malas, apalagi membaca. Apalagi menulis review #pukpukkoleksidanblog #terusdigetokmadivmembership :))

Ini salah satu usaha dari kami, setidaknya satu langkah ke depan, untuk memulai menghabiskan satu demi satu timbunan.
Semangat kak Dani. Ganbatte. Good Luck (sambil siapin cambuk #ketawasetanmerah #kitafanssetanmerahyangbeda). You'll never walk alone! (kali ini digetok ma kak danee beneran)

Jumat, 01 Januari 2016

[Master Post] 2016 Japanese Literature Reading Challenge

Selamat tahun baru. Sudah satu tahun (lagi) terlewati, berarti sudah satu tahun umur kita dipanjangkan. Harus lebih banyak bersyukur.

Kali ini meski baru menginjak hari pertama tahun baru, saya sudah memutuskan untuk mengikuti Reading Challenge baru. Kali ini Japan Literature Reading Challenge. Yayyyy. Semoga berhasil kali ini.

Dari namanya, udah ketahuan kan kalau Reading Challenge ini bermaksud untuk membaca karya-karya Literatur Jepang. Sudah banyak lho, literatur Jepang yang meraih nobel sastra. Makanya, layak deh, menyelami karya sastrawan dari negeri Matahari Terbit Ini

Buat yang mau ikutan, bisa membaca syarat-syaratnya di blog sang Host, si casual reader di https://casualbookreader.wordpress.com/2015/12/31/master-post-2016-japanese-literature-reading-challenge/

Yuk ikutan.

がんばって!

Rabu, 30 Desember 2015

The Book Thief

Judul Buku: The Book Thief
Penulis: Markus Zusak
Penerbit: Picador
Jumlah Halaman: 584
ISBN: 9780330423304

Menarik ketika saya mengikuti birthday & 4th blogoversary dari Bacaan Bzee, beliau memilihkan buku ini untuk saya baca dan review.

Sudah lama sih saya memiliki buku ini. Kalau tidak salah, saya menginginkan buku ini karena banyak dipuji oleh teman-teman saya sesama pembaca buku. Apakah saya setelah membacanya menjadi suka?

Kisah Pencuri Buku dimulai dengan narasi Death, malaikat maut, yang menjadi narator di seluruh isi buku.
Kalau melihat siapa naratornya, bisa kelihatan mau kemana jalan cerita akan berjalan. Bukan bermaksud spoiler sih, tapi dari blurb buku sudah menceritakan bahwa kisahnya berlatar Jerman di masa kepemimpinan sang Führer, masa 1939an.

Alkisah, seorang anak gadis, Liesel Meminger harus mengalami kedukaan. Disaat ia diantarkan untuk dipelihara oleh orangtua angkat, adiknya meninggal. Pada pemakaman adiknya ia memulai 'kejahatannya' sebagai book thief dengan mencuri buku the Gravedigger's Book.

Liesel diangkat anak oleh pasangan suami istri Hubermann. Sang suami Hans, adalah pemain accordion, sedangkan sang istri, Rosa adalah juru cuci. Kedua orangtuanya adalah orang yang sangat baik. Hans selalu menenangkan Liesel dari mimpi buruk yang dialaminya. Hans pula yang mengajarkan Liesel mengenal kata-kata, dan menginspirasi Liesel untuk membaca, meski harus dengan mencuri buku. Rosa meskipun orangnya ketus tetapi punya hati yang sangat baik.

Liesel memiliki teman sepermainan, Rudy Steiner, yang bermimpi untuk bisa menyamai prestasi Jesse Owen, atlet legendaris olimpiade. Bersama Rudy, Liesel menjalankan hari-harinya. Bermain sepakbola, berkeliling, serta mencuri buku.

Suatu hari, kediaman Hubermann kedatangan seorang Yahudi, Max Vandemburg, dimana Hans memiliki hutang budi, terhadap keluarga Max. Keluarga Hubermann akhirnya menyembunyikan kehadiran Max, dimana saat itu adalah masa dimana Hitler memburu orang-orang Yahudi.

Momen persahabatan Max dan Liesel dan keluarga Hubermannlah yang menurut saya memegang fokus dalam buku ini. Berkembang pada saat Hans maupun Liesel bertemu dengan pawai orang Yahudi di jalan, sampai memancing kemarahan tentara Nazi, bahkan sampai membuat Hans harus diasingkan ke tempat lain sebagai petugas perang. Tetapi Hans dalam buku ini menjadi sosok yang luar biasa. Dengan keberuntungan, kebaikan dan kebijakannya. Dia menjadi tokoh favorit saya di buku ini.

Buku ini sarat rasa emosional. Juga kelam. Memang masa holocaust serta diskriminasi bangsa Yahudi di masa tahun 1940-an merupakan salah satu masa kelam selama bumi masih berputar. Dan Zusak mampu menuliskannya dengan baik.

Entah, apa memang membaca The Boy in Stripped Pyjamas sebelum buku ini membuat saya merasa agak merasa buku ini agak membosankan atau memang karena saya mendapat kesulitan ketika menuntaskan buku ini. Memang kelemahan saya ketika membaca buku bahasa inggris adalah kosakata saya yang masih sangat minim. Dan buku ini saya akui sangat kaya dengan perbendaharaan katanya.

Pada akhirnya ketika menuntaskan buku ini, saya memang merasa bahwa ekspetasi saya memang sedikit berlebihan tetapi saya bisa bilang saya cukup antusias dengan proses membaca buku ini.

Minggu, 27 Desember 2015

[Secret Santa 2015] The Riddle

Halo dalam keriangan event Secret Santa 2015 blogger buku Indonesia, hari ini adalah saat kita memposting riddle yang kita dapat dari santa yang baik, untuk menebak siapa jati dirinya.

Setelah postingan wishlist saya, ternyata santa memilihkan buku dari Rick Riordan, The Sword of Summer dari seri Magnus Chase and the Gods of Asgard. Terima kasih ya santa baik. Semoga dibalas dengan limpahan rezeki yang lebih baik.

Oh ya, Riddle yang saya dapat sangatlah sederhana tetapi terus terang lumayan membuat kening berkerut.

Riddle itu adalah:
Kata orang-orang, namaku identik dengan atlet olahraga tertentu. Sayangnya aku tidak bisa olahraga itu.

Semoga saya bisa menebak dengan benar, siapa jatidirimu santa.