Senin, 13 Oktober 2014

Serapium Punya Cerita

Judul: Serapium Punya Cerita
Penulis: Serapium
Editor: Puspa Sari Ayu Yudha
Jumlah Halaman: 174
Penerbit: nulisbuku

Pertama-tama, saya mau mengucapkan selamat buat teman-teman saya sesama seraper yang akhirnya bisa menerbitkan buku ini. Kumpulan cerpen yang dirangkai, akhirnya bisa terwujud dalam sebuah buku mungil dan cukup cantik covernya, dan saya suka pilihan warna birunya :)

Meski memang tak sulit untuk membuat sebuah cerpen (berdasar pengalaman saya bersama teman-teman bbi joglosemar, bisa jadi beda dengan yang dialami teman-teman seraper) tapi tentu saja, saya harus menilai buku ini apa adanya, meski seluruh penulis ini adalah sesama teman ngejunk di serapium :)

Overall, ini yang saya rasakan dari membaca tiap cerpen yang ada di buku ini:
  • Secangkir Kopi untuk Tuhan., saya suka cerpen ini. Temanya menarik. Sayang pendahuluannya bagi saya agak membosankan. Detail tentang kedai kopinya terlalu panjang, sehingga kurang mengesankan di awal cerita. Meski akhirnya bisa tertutup dengan topik yang menarik, tapi saya baru nemu asyiknya cerpen ini di pertengahan. Sayang kalau di awal kurang menarik minat.
  • Kisah di Balik Hujan. Begitu menyelesaikan cerita ini, saya lumayan takjub akan ketajiran Co, ketika berada di Jepang. Rasanya telepon antar negara itu mahal, tapi Co kok rasanya kok rajin banget nelepon Rania ya? Ok mungkin hal kecil sih, tapi kalau sebelumnya yang saya baca, biaya hidup di Tokyo itu mahal, ini menganggu pikiran saya selama membaca buku ini. Topiknya juga umum, namun sayang kurang ada nilai lebih yang bikin ceritanya menjadi lebih menarik.
  • Amy, saya pikir pola absurdnya agak menggantung. Saya memang bukan tipikal penyuka cerpen yang absurb, tapi kalau merasakan cerita yang nanggung ini rasanya berada di dua dunia yang berseberangan (lebay sih, hehehe) Tapi suka dengan kesederhanaan kata-kata yang dipakai penulis.
  • Kado untuk Alice. Cerpen ini yang paling saya sukai dalam buku ini. Maknanya dapat, ada sentuhannnya, dan dari tema sederhana bisa dirangkai menjadi cerita yang bagus
  • the Chronicle of Shapeshifter: Sayang cerita fantasi ini, bagi saya terlalu sedikit detailnya. Sehingga cerita yang bisa menjadi menarik menjadi seperti menjadi cerita yang tidak dipahami oleh pemabacanya.
  • Saat Malam Tanpa Bintang. Kesulitan saya untuk memahami cerpen ini adalah perbedaan penggunaan cara tulis yang awalnya membingungkan. Dan karena buku ini terdiri dari berbagai gaya penulisan cerpen, saya menjadi tidak fokus. Sayang, padahal isinya menarik.
  • Koleksi Tanda Tangan Penulis. Mungkin ini satu-satunya cerita non fiksi ya? Yang saya baca mungkin semacam model my diary yang dibuat agak panjang. Bukan berarti isinya jelek tapi penggunaan kata-katanya menjadikan kisahnya terlalu sederhana, dan kurang mengguggah.
  • Jika Cinta Punya Masa Berlaku. So far cerpen yang bergenre romance sudah terlalu banyak atau menjadi pakem dalam cerita (mungkin sama dengan lagu). Kelebihan cerita ini adalah penulisnya berani bermain dengan panjang cerita dan membuat ceritanya tidak membosankan. Kurangnya bnayak (ditendang penulisnya). Nggak sih, cuma ada yang bisa dibuat lebih kompleks. Endingnya saya merasa, oh gitu ya. Mungkin bisa dibuat konfliknya lebih kuat lagi.
  • Mencintaimu. Bagus tapi bagusnya nanggung. (apapula ini). Serasa, penulis cuma bermain di ide cerita yang tak biasa. Idenya suka, tapi kata-katanya datar. Kalau dilihat dari background bacaan penulisnya, bisa lkebih kaya seharusnya.
  • Senja Merah Jambu untuk Pacarku. Bermain-main dengan tema senja mestinya bisa menjadi daya tarik sendiri untuk sebuah cerita. Meski menarik, kesan setelah membaca cerpen ini adalah saya masih merasa kurang. Baik itu kurang panjang, kurang paham (resiko membaca kisah absurd), kurang mengekspore isi ceritanya. 
  • Harta Paling Berharga. Sayang kalau saya bilang, justru dibandingkan membaca karya-karya Dhia Citrahayi sebelumnya, karya ini yang paling kurang. Mungkin karena sebelumnya yang saya baca berupa nove/novelet? Entahlah. Serasa kurang di deskripsi dan kata-kata yang dipakai seolah-olah terburu-buru dirangkai untuk menyelesaikan sebuah cerita.
Saya paham, bukan hal yang mudah membuat sebuah cerita. Dan bukan berarti saya bisa membuat cerpen yang lebih baik daripada apa yang teman-teman tuliskan. Tapi dalam keadaan sebagai pembaca, apa yang saya tuliskan di atas haruslah ditulis dari apa yang dirasakan. Apalagi menilai karya teman sendiri, harus lebih obyektif. Semoga teman-teman seraper bisa lebih sukses berkarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar