Senin, 13 April 2015

Papap, I Love You

Judul: Papap, I Love You
Penulis: Sundari Mardjuki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2012
Jumlah Halaman: 424
ISBN: 9789792286663

Bima harus menerima kenyataan pahit. Istrinya, Rayna, berselingkuh dengan sahabat mereka berdua, Denny, sehingga mereka memutuskan untuk bercerai. Rayna emlanjutkan ikatan pernikahan dengan Denny, dan membawa putra satu-satunya dari Bima, Kaka, dalam asuhannya. Namun, kerapkali Rayna berselisih paham dengan Kaka, sementara di satu sisi, keuangan Bima tak lekas membaik. Ditambah sang ibunda, terjatuh di kamar operasi sehingga membutuhkan biaya kesehatan yang cukup tinggi.
Hidup tidak selalu adil. Ibarat secangkir kopi hitam, aroma wangi dan manisnya sudah habis disesap orang lain. Tinggallah Bima dengan ampas kopi itu. Pahit (halaman 107)
Namun, akhirnya demi kebaikan Kaka, Rayna melepas Kaka untuk bisa diasuh oleh Bima. Dan dimulailah suka duka Bima sebagai single parent, di mana ia harus bisa membagi waktunya dengan Kaka, namun itus emua bisa dinikmatinya.
"Kalau manusia saja tidak ada apa-apanya, mestinya kita nggak perlu kuatir ya kalo sedih, karena kesedihan kita juga tidak ada apa-apanya kan Pap?" tanya Kaka lagi. Matanya masih tetap menatap langit" (halaman 127)
Apakah Bima bisa hidup bahagia bersama Kaka? Dan bagimana keadaan Rayna setelah ditinggal Kaka?


Kisah Papap, I Love You, merupakan salah satu cerita yang terinspirasi dari kisah nyata, dan kisahnya menurut saya sangat hidup. Praktis saya merasa seperti apa yang dirasakan oleh Bima. Dan kisahnya memang tidak terlalu berlebihan.

Sosok Bima, digambarkan sebagai sosok yang tangguh, meski berhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang ditemui. Dan bersebrangan, adalah sosok Rayna, yang perfeksionis, tapi gampang putus asa. Konflik yang tercipta cukup menarik dan membuat buku ini enak dibaca. Meski memang, buku ini lebih tebal dari yang seharusnya, kalau saya pikir. 

Dan buku ini, mungkin salah satu yang membuat saya berpikir, hidup itu kadang indah di saat kita bisa menghadapinya.
"Ingatlah jangan membuat tanda titik di mana Tuhan hanya membuat tanda koma." (halaman 210) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar