Kamis, 22 Januari 2015

Kehidupan Abadi Henrietta Lacks

Judul: Kehidupan Abadi Henrietta Lacks
Judul Asli: The Immortal Life of Henrietta Lacks
Judul: Rebecca Skloot
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2011
Jumlah Halaman: 390
ISBN: 9789792268478

Henrietta Lacks, seorang wanita Afro-Amerika mengidap penyakit kanker leher rahim. Karena kemiskinannya, ia hanya bisa berobat ke Rumah Sakit yang memberikan pelayanan gratis, khususnya kepada warga dengan kulit berwarna, rumah sakit John Hopkins. Di luar perkiraannya, sel kanker yang tumbuh ditubuhnya, diambil kemudian dijadikan bahan peneitian dan dikenal sebagai HeLa.

HeLa yang semula diperkirakan bakal gagal menjadi bahan penelitian, di luar dugaan bisa tumbuh berkembang dengan pesat. Segera HeLa menjadi primadona bahan penelitian. Milyaran sel hasil perkembangbiakan tersebar di seluruh dunia, menjadi bahan uji obat kanker, bahan ujicoba ditempel di bom atom, dibawa ke antariksa, dan bahan ujicoba penyuntikan berbagai macam penyakit.

kanker
periksa
tak mampu
yang kulit putih dan kaya bisa dapat
ibu saya kulit hitam
orang kulit hitam miskin dan tak punya uang untuk bayar
marah ya saya marah
kmi dikerjai, darah diambil, dibohongi
kami harus bayar obat kami sendiri, bisakah ringankan itu.
Rumah Sakit John Hopkin dan semua tempat lain yang punya sel ibu saya
Tak beri apa-apa
(halaman 295)
 
Kepopuleraitas HeLa tidak membawa manfaat kepada keluarga Henrietta Lacks. setelah meninggal, Henrietta Lacks meninggalkan keluarga yang semakin miskin, serta jatuh ke dalam dunia kriminalitas. Rebecca Skloot, penulis buku ini berusaha menelusuri jejak kehidupan Henrieeta Lacks, dan berhasil menjalin sebuah ikatan persahabatan dengan keluarganya dalam upaya penelusurannya. Dan menuliskan sebuah karya yang penuh empati dalam Kehidupan Abadi Henrietta Lacks.


Sebenarnya saya merasa nggak yakin bisa menyelesaikan bacaan ini. Bukan, bukan karena bukunya jelek. Bagus malah. Tapi kenyataan yang saya dapatkan di buku ini terasa memilukan hati. Di luar perjuangan keluarga Lacks untuk meneruskan hidup ada fakta-fakta yang mengundang pro-kontra dalam penelitian di dunia medis. Sebuah upaya berat, dalam memerangi penyakit, saya tahu. Tapi bagi saya, serasa merasakan sendiri. Dan ya, saya seperti merasakan kesedihan Deborah, putri dari Henrietta.

Gaya ceritanya enak dibaca, meski alur ceritanya berseting maju mundur, tapi masih sejalan dengan konsep penceritaan Skloot. Terjemahannya juga bagus, hanya ada 1 typo yang saya temui. Dan sebagai kisah hidup, buku ini memberikan kepada kita makna yang cukup banyak. Buku bagus, saya bilang. Ya, buku bagus, untuk sebuah buku tentang realitas hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar