Senin, 16 Maret 2015

Jembatan Musim Gugur

Judul: Jembatan Musim Gugur
Judul Asli: Autumn Bridge
Penulis: Takashi Matsuoka
Penerjemah: Ary Nilandari
Editor: Maria M. Lubis
Penerbit: Qanita
Cetakan: 1, Edisi 2, November 2014
Jumlah Halaman: 628
ISBN: 9786021637555

 Mengetahui masa depan dan mengetahui masa lampau
adalah dua hal yang bermakna sama.
Apa bedanya mengetahui hal yang wajar tak terelakkan
dengan mengetahui apa yang telah terjadi?


—Aku-no-Hashi (1434)

Kisah tentang Genji Okumichi berlanjut. Setelah di buku sebelumnya, Kawakami sang kepala dinas rahasia shogun berhasil dikalahkan, serta Heiko harus meninggalkan Jepang, "bertukar tempat" dengan Emily Gibson, buku ini mengisahkan bagaimana klan Okumichi mendapatkan "anugrah" bisa mengetahui kilasan masa depan, berawal dari penceritaan sosok Lady Shizuka, yang merupakan leluhur dari klan Okumichi tersebut.


Buku ini bisa dibilang lebih berat, ketimbang prekuelnya, Kastil Awan Burung Gereja. Kilas balik kisah berputar-putra antara masa lalu, saat sekarang dan masa depan. Meski demikian buku ini bisa dibilang sangat melengkapi buku pertamanya. Bnayak misteri di buku pertamanya yang akhirnya terungkap dalam buku ini.

Twistnya sendiri meski tak terlalu banyak cukup membuat saya bisa terkejut. Apalagi ada sosok Makoto Stark yang tak saya duga keberadaannya. Meski demikian, kisah yang berputar terhadap sosok Genji menurut saya sudah terlalu predictable. Tetapi buku ini tetap sangat menarik karena fokus cerita tak terlalu bergantung kepada sosok Genji semata. 

Awalnya saya memang kesulitan dengan alur yang maju mundur terhadap buku ini, juga dengan munculnya tokoh-tokoh baru yang membuat semakin banyak tokoh yang diceritakan. Tapi semakin ke dalam dimana keterkaitan antar tokoh semakin jelas, menjadikan ceritanya semakin asyik diikuti. Dan asyiknya pula, terjemahannya juga sebagus buku pertamanya, meski pun diterjemahkan oleh penerjemah yang berbeda. Dan ya buku ini memberikan kesan terhadap saya.

1 komentar:

  1. Cover baru yang ini rada nganu buatku. Bagusan yang dulu

    BalasHapus