Senin, 12 Mei 2014

Teka-Teki Terakhir

Judul: Teka-Teki Terakhir
Penulis: Annisa Ihsani
Editor: Ayu Yudha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Maret 2014
Jumlah Halaman: 256
ISBN: 9786020302980

Gosip menyebutkan, suami istri Maxwell adalah pasangan keluarga yang aneh. Tak banyak yang mengenal mereka karena mereka jarang terlihat di luar rumah. Ada yang bilang mereka adalah penyihir. Ada yang bilang mewreka orang jahat yang melakukan eksperimen berbahaya. . Apa pun itu membuat Jack dan Laura Welman, pasangan kakak beradik, untuk menghindari mereka, bahkan dengan melewati jalan memutar ke sekolah guna menghindari melewati rumah keluarga Maxwell.

Laura ketiban sial. Kuis matematikanya mendapatkan nilai 0. Dan Laura saking kesalnya, membuang kertas tersebut. Namun kertas itu diketemukan oleh Tuan Maxwell, dan dia memberikan buku Nol: Asal Uusul dan Perjalanannya. Semenjak itulah Laura menyukai matematika, dan juga sekaligus menyukai suami istri Maxwell. Dia kerap berkunjung, dan mendapati sebenarnya suami istri Maxwell adalah pasangan guru besar Matematika. Berkat bimbingan tuan Maxwell, Laura menjelma menjadi penyuka matematika.

Dalam pertemuan-pertemuan itu, Laura mengetahui bahwa tuan Maxwell sedang berusaha membuktikan salah satu teorema dalam Matematika yang sudah berlaku ratusan tahun, tanpa ada bukti yang membenarkan. Teorema Terakhir Fermat. Akanakah tuan Maxwell berhasil membuktikan teorema tersebut?


Kisah yang menarik. Sebelumnya saya sangat menyukai kisah A Beautiful Mind, tentang seorang guru besar Matematika yang mengalami skizofrein. Meski dengan taraf yang berbeda, penulis mampu membuat matematika menjadi kisah yang menarik dalam sebuah karya fiksi, apalagi dengan balutan genre teenlit yang notabene ditujukan buat pembaca usia remaja.

Meski sebenarnya saya agak bingung dengan setting cerita (kalau dilihat sih sepertinya di Inggris, tapi sistem sekolahnya serasa di Indonesia) tapi Teka-Teki Terakhir memang layak diacungi jempol. Tak perlu romantika berlebihan, novel tentang matematika pun layak mendapat bintang. Saya sendiri merasa tak berlebihan tapi ini yang saya rasakan, kesenangan ketika membacanya, mengingatkan kembali akan cita-cita menjadi salah satu matematikawan. Kisahnya sendiri serasa nyata, tak berlebihan tak kekurngan. Dan inilah hidup, meski hanya dalam sebuah karya fiksi.

Dan ya, rasanya cocok deh dibaca oleh pelajar yang kurang menyukai matematika, meski kalau saya rasa, ditambah tips-tips matematika akan menjadikan buku ini bernilai lebih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar