Jumat, 28 Maret 2014

Hujan Bulan Juni

 
 Judul: Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Darmono
Penerbit: Editum
Edisi: 2013
Jumlah Halaman: 117
ISBN: 9786029591545

......................
hanya nafas kami, menyusur batang-batang rel, mengeras tiba-tiba;
sinyal-sinyal kejang, lampu-lampu kuning yang menyusut di udara;
sementara bayang-bayang putih di seluruh ruangan, "Tetapi katakan dahulu, Saudara, kenapa kau bawa aku ke mari?"
(MALAM ITU KAMI DI SANA)

Dahulu kala, saat  masih menginjak bangku sekolah, saya hanya merasakan bahwa apresiasi kurikulum kita terhadap jenis sastra berbentuk puisi hanya dengan menghapal karya-karya puisi untuk dibacakan di depan kelas. Atau kalau tidak, menghapalkan puisi ini ditulis oleh siapa angkatan yang mana, untuk dijawab di lembar jawaban ujian. Padahal yang kita tahu, mestinya lebih dari itu.

Banyak dari kita yang tak sadar, puisi ini bagaiamana membacanya, apa maksudnya, dan serasa blank di saat membaca puisi. Padahal sebagai karya sastra, puisi pun bisa dinikmati. Membaca rangkaian puisi yang terhimpun dalam Hujan Bulan Juni, kita bisa menikmati kekayaan kata indah dalam rangkaian larik dan bait karya guru besar sastra UI ini.

Dalam edisi yang diterbitkan Editum ini, kita bisa menikmati hujan rasa SDD. Puisi yang dirangkai tak harus romantis seperti yang dibuat muda-mudi namun bis ameresapkan maknanya ke dalam hati. Itu yang saya pikir ada di karya Pak SDD. Lugas, namun tak kurang dalam kekayaan kata. Sederhana namun kata yang dipakai luas. Kadang saya tak perlu paham akan maksud puisinya tapi bisa merasakan kekuatan dan kekayaan kata-katanya. Cukup resapi saja, dan inilah mungkin kenapa karya SDD ini bisa populer bagi pembaca meski jarang diungkap dalam kurikulum sastra di sekolah.

9 komentar:

  1. Aih, cover versi editum lucu juga. Tapi aku lebih suka versi gpu sih...

    BalasHapus
  2. Aku suka nuansa 'kelam'nya, tapi tetap terasa indah.

    BalasHapus
  3. Sekarang puisi SDD udah sering dimasukkin ke soal ujian, mas
    (salah fokus)

    BalasHapus
  4. iya bener, duluu.. di sekolah puisi cuman suruh dihapalin saja tanpa dikasih tahu bagaimana mengapresiasi nya ( eh jangan2 gurunya juga ga tau )

    BalasHapus
  5. covernya sangat menonjolkan huruf N yaaa.
    memang baca puisi beliau ini harus pelan-pelan..

    BalasHapus
  6. Puisi ini bagus ya... Biar pun kelam tapi cakep

    BalasHapus
  7. covernya lucu, nggak semelow yang GPU :) suka juga sama puisi2nya SDD..meski memang gak semua juga bisa dicerna dengan gampang...

    BalasHapus
  8. untung aq batal meresensi HBJ, kalo iya mah namanya qta baca bukunya samaan mulu bulan ini, Mastez xD

    BalasHapus
  9. Pengalaman baca puisi cuma Kerawang-Bekasi di halaman belakang rumah. Sekarang sudah lebih lumayan, di soundcloud #lebihsalahfokus :))

    BalasHapus