Kamis, 27 Maret 2014

Jalan

Judul: Jalan
Judul Asli: The Road
Penulis: Cormac McCarthy
Penerjemah: Sonya Sondakh
Editor: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2009
Jumlah Halaman: 260
ISBN: 9789792243161

Boleh aku tanya sesuatu? katanya
Ya. tentu saja.
Apa kita akan mati?
Suatu saat. Bukan sekarang.
Dan kita masih akan ke selatan.
Ya.
Jadi kita tidak akan kedinginan.
Ya.
Oke.
Oke apa?
Bukan apa-apa. Oke saja.
Tidurlah.
Oke.
Papa akan memadamkan lampu. Oke, kan?
Ya. Oke saja.
Apa yang Papa lakukan jika aku mati?
Jika kau mati aku ingin mati juga
Supaya Papa bisa bersamaku?
Ya. Supaya Papa bisa bersamamu.
Oke. (halaman 14)

Seorang ayah bersama anak laki-laki kecilnya menghadapi Amerika yang hangus terbakar. Tak banyak yang masih hidup. Yang masih hidup hanya mengandalkan hidup dari apa yang ditemukan di jalan. Kalau tak bisa bertahan mati. Siapa yang ingin hidup harus memutar otot dan otak.

Banyak yang dijumpai sang ayah dan sang anak di jalan. Kenangan, kesusahan, kesulitan dan kebahagian. Namun tak ada pilihan lain bagi mereka. Mereka tetap harus berjalan ke selatan, sebuah tanah yang menjadi harapan hidup mereka selanjutnya.

Sebuah kisah yang suram. Suram sekali. Semenjak awal sampai akhir kisah, kesuraman yang saya dapati. Tak ada kesan lain. Agak sulit membaca buku ini. Tapi buku ini serasa membuat tantangan untuk saya. Meski lambat, harus menamatkan. Sebuah buku yang berhasil "menyihir" saya. Dan pada akhirnya saya memang puas akan buku ini.

Tanpa adanya tanda baca dalam buku ini membuat saya kesulitan untuk segera menuntaskan buku ini. Tapi sensasi suramnya memang menjaditerasa sekali, membuatnya menjadi berlipat ganda. Dan ya, serasa ikut terasaakan kesulitan dalam hidup mereka.

Buku ini mungkin merupakan semacam peringatan bagi kita. Untuk hidup lebih baik terhadap seisi bumi ini, lebih bijak dan lebih memahami. Karena hidup merupakan suatu jalan.

10 komentar:

  1. Wuih keren --> Editor: Sapardi Djoko Damono

    Kalau nemu lagi aku nitip buku ini ya kang. Nuwun.

    BalasHapus
  2. Aku trauma banget baca buku ini, benar-benar penggambaran 'nightmare' yang mengerikan, dunia kiamat tanpa ada makhluk hidup selain sosok 'zombie' ....

    BalasHapus
  3. ya..suram sekali..
    tapi masih mending filmnya, masih ada dialog mas, hehehe

    BalasHapus
  4. Kemarin juga melihat ada yang membuat review buku ini di GoodReads, ditambah membaca kutipan dialog yang mas tezar tulis diatas jadi makin penasaran ingin baca :D

    BalasHapus
  5. Tahun kemarin masih mandeg baca buku ini... Seperti harus menguatkan tekad kembali

    BalasHapus
  6. buku ini sadiiiiiissss. tapi keren banget menurutku. apalagi karena nggak nutup kemungkinan bisa terjadi betulan di bumi kita ini... dan adegan paling bikin stress adalah pas bayinya di....aduh. ga tega. ya pokoknya itu deh. hiks.

    BalasHapus
  7. weks, bayinya yang pas diapain ya? #mendadaklupasakingsuramnya

    ketika alam ngamuk akibat ulah manusia...aq ngbayanginnya peristiwa besar itu ledakan bom nuklir gitu sih, ngefeknya ke seluruh penjuru dunia *worried

    BalasHapus
  8. aku sukaaa buku iniiii *pasang lope lope di udara

    BalasHapus